
Selama mengobrol ria dengan Ibu Sinta. keduanya tidak menyadari waktu telah cepat berlalu
"Allahuakbar!" adzan berkumandang..
Bu sinta yang mendengar adzan terkejut lalu melihat jam dinding
"astaghfirullah. Ibu sampai lupa waktu ngobrol sama kamu. Nak. tahu-tahu udah jam 12 aja" kata Ibu Sinta.
Irene hanya terkekeh mendengar bu sinta yang udah dirinya anggap seperti Ibu kandungnya
"Yaudah ya bu. udah siang dan Irene harus berangkat kerja dulu" kata Irene berpamitan
Bu sinta melihat jam dinding lalu berdiri dan menuju rak makan.
"Kamu tunggu disitu bentar" Perintah Bu Sinta
Irene hanya menurut saja ...
Tak lama. bu sinta kembali membawakan sebuah kotak bekal
"Nak. Kamu bawalah bekal ini buat di kantor. kamu udah kerja jadi jangan boros-boros" kata Ibu Sinta menyerahkan uang 100 ribu dan bekal makanan
"Ehhh gak usah bu. aduh aku jadi ngrepotin ibu. udah gak usah. biar irene nanti makan di kantin kantor aja" kata Irene menolak
"Lho katanya kamu udah anggap Ibu ini ibu kamu lho.. masa kasih sayang Ibu kepada anaknya di tolak?" Kata Ibu Sinta yang pura-pura menunduk
irene yang mendengar itu menjadi bersalah
dengan rasa bersalah. irene mengambil bekal serta uang 100 ribu rupiah
"Terimakasih Bu" kata Irene yang langsung memeluk Bu Sinta dengan kehangatan.
"Jaga diri baik-baik ya nak" kata bu sinta
Keduanya melepaskan pelukkan hangat tersebut dan Irene pun pergi..
Sementara itu Ibu Sinta ke belakang mengambil air wudhu
Krecik
krecik
krecik(suara kran air terbuka)
5 menit kemudian
"Permisi?"
"Permisi?"
"Permisi?" seseorang datang
"Ya sebentar" kata Bu Sinta yang baru saja menggelarkan Sajadah nya..
__ADS_1
Bu Sinta kembali ke tempat pintu utama wartegnya dan melihat seseorang perempuan yang cantik namun wajahnya pucat pasti
"Selamat Datang di warteg kami. bu. Ibu mau pesan apa dan makan disini atau dibungkus?" Tanya Bu Sinta dengan ramah
"bungkus" jawab Perempuan tersebut
Bu Sinta mengambil kertas nasi
"oke bu. makananya apa nih bu?" Tanya Ibu sinta dengan ramah
Perempuan itu tidak menjawab namun menunjuk ke tempat telase makanan
"oh ibu mau telur balado lalu ?" kata Bu sinta mengambil telur balado lalu bertanya tentang klauk lainnya..
"udah itu" kata perempuan tersebut dengan wajah datar
Ibu sinta mempersiapkan pesanan milik
perempuan yang tidak diketahui namanya itu
"Ini semua totalnya buat 20 ribu" kata Ibu Sinta tersenyum..
"Boleh saya bertanya sesuatu?" Kata Perempuan itu menatap Bu Sinta
"ya bu? tanya tentang apa? kontrakan?? kos-kosan. Lowongan pekerjaan?" kembali Ibu Sinta bertanya
Warteg nya bukan sembarang warteg. Warteg bu sinta itu adalah pusat informasi di sekitarnya. banyak orang-orang berbagi informasi umum seperti lowongan pekerjaan atau kontrakan..
"Bukan" kata Perempuan itu
"apakah kamu mengetahui nama Irene Limea" Kata Perempuan itu menjawab
"benar. saya mengenalinya. apa ibu punya keperluan dengan yang bersangkutan?" kata Ibu Sinta
perempuan itu sekali lagi menggelengkan kepalanya
"Saya Ibu nya Irene. Limea Malik. Saya mohon Jaga dan sayangi anak saya" kata perempuan itu yang bernama limea
Ibu Sinta terkejut karena dirinya tidak mengetahui bahwa itu adalah ibunya limea
"maaf mengapa anda menyerahkan anak Ibu kepada saya? bukankah anda bisa menemui nya langsung?" Tanya Bu Sinta
Limea kembali menggelengkan kepala
"Saya Tidak bisa!. Tolong Jaga dan sayangi anak saya. Tolong Jaga dan sayangi anak saya. Tolong Jaga dan sayangi anak saya. saya tidak bisa saya tidak bisa" kata limea dengan mengulangi setiap perkataan nya
bu Sinta yang mendengar itu sedikit keheranan sekaligus takut. takut karena ikut campur urusan keluarga seseorang..
"Assalamualaikum" tiba-tiba seorang pria datang
Bu sinta & Limea pun menengok bersamaan
"Walaikum salam. eh pak ustadz Rama. apa kabar pak? tumben ke warteg? istri bapak ngambek lagi ya?" Tanya Bu sinta yang sedikit menjaili Pak ustadz rama.
__ADS_1
"gak usah embel-embel ustadz atau pak deh. mentang-mentang kakak masih muda dan kedatangan ku bukan untuk makan melain kan dia" kata Rama
Ternyata. Rama & Sinta adalah adik kakak kandung yang keduanya memiliki nasib berbeda namun keduanya tetap mensyukuri nikmat Tuhan..
"apa maksud mu. dik? ada apa dengan limea?" Tanya Sinta kebingungan
Rama masuk kedalam dengan tenang dan menatap Limea
"mengapa kamu datang ke tempat ku?" Tanya Rama itu
limea tidak menjawab..
"kamu dik. apaan-apaan sih. dia itu pelanggan kakak. bebas dong dia datang" kata Sinta yang tak terima adiknya menganggu pelanggan nya.
"coba kakak keluar dari tempat kasir dan lihat kakinya" kata Rama dengan menyuruh sang kaka untuk keluar.
Sinta yang kebingungan hanya bisa menuruti Adiknya..
"astaghfirullah!" kata Sinta yang terkejut ketika Melihat sesuatu..
"ini yang kakak maksud? seorang makhluk tak kasat beli makanan?" Kata Rama dengan nada menyindir kakak nya itu.
"k--kenapa kamu disini?. dik. tolong dong!" kata sinta yang ketakutan..
Walaupun umur sudah tua. sekitar 56 tahun tetapi Sinta adalah manusia biasa yang masih tetap takut akan keberadaan makhluk tak kasat mata tersebut..
"jangan takut. Sinta. kedatangan ku adalah meminta tolong untuk tetap menjaga anak ku dan sayangi dia" kata Limea yang kembali menatap Sinta.
"Limea. IstriKu. sudah saatnya kita kembali" tiba-tiba seorang pria datang..
Limea yang mendengar itu langsung berjalan(walaupun kaki tak nampak) menuju Pria tersebut.
"sudah kamu sampaikan apa maksud mu? Dek?" Tanya Pria itu
"sudah Mas" kata Limea.
Keduanya membalikkan badan menatap rama dan Sinta.
"Aku adalah Jonathan Malik. Ayah dari Irene Limea. Tolong jaga anak dan bimbingi dia sebagaimana kalian bertapak di jalan yang kalian anggap itu benar" kata pria itu memperkenalkan diri sebagai Jonathan dan meminta tolong kepada Rama & Sinta.
Rama dan Sinta melongo melihat itu
"kami pamit. terimakasih telah mencintai anak kami. Bu Sinta" kata Jonathan dan Limea berbarengan..
.
.
.
mereka menghilang bagaikan debu yang ditiup oleh angin
...----------------...
__ADS_1
...BYE...
...----------------...