Janda Kaya Raya No 1

Janda Kaya Raya No 1
JKR1 - Hukum Penebusan


__ADS_3

Ke esokkan harinya - 7 Januari 2036


"Saudari Irene dan Saudara Ron. kelima pelaku adalah yang menghina dan mencemarkan nama baik kalian berdua. kami sebagai Polisi hanya pihak penengah dalam permasalahan ini. sejujurnya. kami masih melihat adanya upaya solusi yang tepat untuk permasalahan ini namun ini semua kembali kepada saudari Irene dan Saudara Ron" kata Komandan Polisi


"Komandan Tiro. sa--" ucapan Irene terpotong tiba-tiba


"saya maafkan mereka. bagaimanapun mereka manusia hanya saja. apakah ada denda untuk penebusan hukuman mereka?" Tanya Ron tiba-tiba


Irene yang melihat keputusan Ron yang tiba-tiba itu membuat dirinya marah namun juga penasaran untuk apa perihal penebusan..


"Dari Yang kami ketahui. 5 pelaku ini berlatar dari strata sosial menengah. yang kemungkinan hukuman penebusan bisa berjarak 2-5 juta namun kami sarankan untuk hukuman penebusan yang dapat disanggupi oleh Pelaku kepada anda saudara Ron" kata Komandan Tiro menjelaskan sedikit demi sedikit agar semua menjadi jelas.


Ron sejenak menghitung


'hutang ku ke rentenir bank melebihi 20 juta. gimana yah ini?' gumam Ron yang melihat tidak ada kesempatan untuk membayar hutang dari uang penebusan..


"Baiklah pak. saya Ron akan memaafkan mereka dengan syarat bahwa mereka bisa memberi saya 5 juta per individu sehingga itu lebih cukup bagi saya dan Irene" kata Ron yang mengikut sertakan Irene


Irene melotot mendengar itu


'dasar pria mata duitan!' gumam Irene dengan marah..


"baiklah. mari kita obrolkan ini dengan para pelaku" kata Komandan Tiro


- Sebelumnya. (waktu masih subuh)


"I--ini dimana? ini bukan arah ke kantor polisi. siapa kalian?" Tanya Ajeng yang menyadari bahwa jalan itu bukan jalan ke polres Jakarta Barat..


"Hahahaha. Siapa kami? itu bukan urusan kamu nona!" kata Bripta Erang sambil tertawa


Bripta Aramdo membawa ke sebuah tempat rumah kosong dan terdapat banyak penjaga disana.


salah satu penjaga gerbang menghampiri


"Wah-wah polisi. jarang sekali" kata Penjaga gerbang sambil menyepitkan mata kursi belakang


"hei. jangan dilihatin. itu punya Nona kalian. buka saja pintunya" Kata Bripta Aramdo


"Aman!" teriak Penjaga Gerbang


"I--ini dimana? kalian polisi gadungan?" Tanya Ajeng yang ketakutan melihat banyak pria sangar dimana-mana


kedua polisi itu tidak menjawab melainkan memasuki mobil polisi itu ke sebuah Lift mobil.

__ADS_1


"diamlah dan sebentar lagi jawaban mu akan terpenuhi" kata Bripta Aramdo


TING!


Mobil Polisi itu keluar dari Lift kendaraan.


Kedua polisi itu datang menemui seseorang


"Salam hormat kami. Nona Irene. selamat datang di tempat kami yang kecil ini!" kata Bripta Erang & Bripta Aramdo sambil menunduk


Ajeng yang menyaksikan sekaligus mendengar hal tersebut langsung terkejut


"S--Siapa sebenarnya Irene?" Ajeng ketakutan


kreeek


"siapa sebenarnya Nona Irene? hmm sepertinya tidak pantas kamu ketahui" kata Seorang pria dengan wajah sangar nya memaksa ajeng keluar


"Aarrghh sakit! apakah kalian tidak pernah belajar bahwa wanita tidak boleh dkasarin?" kata Ajeng protes.


Pria sangar itu tidak mendengar protes Ajeng melainkan merasa kasihan melihat wanita bodoh seperti Ajeng yang tak tahu akan kondisi yang sebentar lagi menimpanya..


"dilarang mengkasari perempuan tapi menjatuhkan sesama perempuan. bukankah itu kejam?" kata Irene tiba-tiba bersuara dan bertanya dengan nada satir.


"Hahaha. ternyata masih mengenali suara ku ya? itu bagus!. dimas. bawa perempuan itu keruang penyiksaan mu" Irene tertawa dan memberi perintah kepada pria sangar nan berotot yang bernama Dimas


"Ayok Cepat! jangan menjdi masalah buat ku!" Kata dimas yang menarik Ajeng dengan tak berperasaan


tak


tak


tak


tak


dimas mengunci ajeng di sebuah kursi listrik dengan erat hingga ajeng bisa merasakan kesakitan ditangan dan kakinya


"Bagaimana indah bukan?" kali ini Irene muncul didepan Ajeng dengan senyuman.


"I--Irene? mengapa kamu melakukan ini pada ku?" Tanya Ajeng yang baru menyadari bahwa dirinya diculik dan akan disiksa..


"Mengapa aku melakukan ini kepada mu? Hmm apa ya?(sambil membawa pisau). simpelnya kamu merendahkan orang tua ku secara hina dan kamu menghina harga diri ku dan membuat aku menikahi seseorang yang tak ku kenal!" Kata Irene dengan penuh tekanan dan amarah

__ADS_1


TCAP!(suara pisau menusuk)


"Aaarrggghh!" Teriak Ajeng kesakitan


"S--saaakit" Ajeng dengan nada kesakitan.


"kamu menghina orang tua ku didepan seluruh warga dengan wajah hina mu mengatakan hal itu dengan mudah!" kata Irene dengan mencabut pisau itu


"Aaaarrgghh!" Sekali lagi Ajeng teriak dari akibat jeruk nipis dan garam mengenai luka tancap pisau..


"ini akibat dari ulah mu yang tak bisa menjaga mulut dan bisanya hanya bisa menghasut!" kata Irene


"ARRGGGGHH! tidak Pay-uu--daraku!" Ajeng berteriak dengan linang air mata menghiasi pipi nya.


gunung milik Ajeng mengeluarkan banyak darah dari akibat irene menanjapkan pisau tempatnya


Irene mulai berdiri dan mencuci tangan disekitar wastafel


"Dimas. apa saran mu. membuatnya hidup namun dirinya tetap mengingat akibat dari perbuatannya?" Tanya Irene dengan santai


"lepaskan hal penting bagi manusia. tangan dan kaki atau" kata Dimas sejenak


"atau apa?" Kata Irene


Dimas melirik Ajeng dengan dimana kedua gunungnya telah mengalir darah dari tempatnya.


"memberikan Kanker sekaligus membuat dirinya tak bisa berjalan sehingga itu cukup akan seperti mayat hidup" kata Dimas tersenyum. namun senyuman yang tak biasa


"kamu ingin memakainya?" Tanya Irene dengan nada menebak


"oh Nona Irene. bagaimana anda mengetahui hal favorit saya? sungguh Dimas yang lemah ini akan selalu setia kepada anda" Kata dimas dengan nada menganggungkan Irene.


Irene pergi meninggalkan Dimas dan Ajeng yang entah akan dilakukan oleh bawahan yang Irene baru kenal selama 1 minggu kemarin.


Dimas mendekati Ajeng dengan wajah yang penuh kesenyuman


"mari kita lihat apa kamu bisa bertahan dengan permainan ku?" Tanya Dimas


...----------------...


...BYE...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2