Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 10 - Memulai Lembaran Baru


__ADS_3

Bermodalkan uang yang tersisa di dompetnya, Rina akhirnya bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat. Dia merasa sangat lega karena akhirnya dia dan Erika bisa pergi jauh dari jangkauan Anton. Mulai hari ini Rina akan memulai lembaran baru bersama dengan Erika putrinya.


Setelah melalui perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam, bus yang Rina dan Erika tumpangi akhirnya sampai di kota tujuan dengan selamat.


"Bangun, Sayang." Rina menepuk pelan pipi Erika yang masih terlelap di sampingnya. "Ayo bangun, kita sudah sampai, Nak."


"Ma, kita ada di mana?" Erika mengucek kedua matanya yang masih terasa sangat mengantuk, apalagi mereka baru sampai di sana saat hari sudah malam, tepatnya pukul setengah delapan malam waktu setempat.


"Kita sudah sampai, Sayang. Lihat ke bawah sana," Rina menunjuk ke arah luar jendela bus "itu Tante Ayra sudah menunggu ingin menjemput kita."


Mendengar ucapan mamanya, Erika hanya menurut saja. Begitu mereka turun dari bus, Ayra langsung berlari menghampiri mereka berdua. Rina dan Ayra lalu saling berpelukan untuk melepas rindu.


Oh iya, Rina dan Ayra sudah bersahabat sejak mereka masih SMP. Dari mereka SMP hingga SMA, mereka berdua selalu bersama. Bisa dibilang dimana ada Rina disitu ada Ayra. Namun, setelah mereka sama-sama lulus SMA, Ayra bersama kedua orang tuanya pindah untuk menetap di ibukota.


"Ya ampun, Rin, aku tidak percaya ini Erika," kata Ayra setelah dia dan Rina saling melepas pelukan. "Kenapa sekarang dia sudah sebesar ini? Terakhir kali saat aku melihatnya, dia baru belajar berjalan." Ayra mengusap kepala gadis kecil berambut panjang itu sambil tersenyum.


"Itu 'kan 5 tahun yang lalu, Ayra, ya wajarlah kalau sekarang Erika sudah sebesar ini." Rina tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu.


"Iya juga sih," kata Ayra. "Ya sudah, kalau begitu ayo kita masuk ke dalam mobil, kalian berdua pasti capek setelah melalui perjalanan panjang."


.


.


Rumah Ayra


Setelah makan malam bersama lalu menidurkan Erika, Rina dan Ayra kini hanya tinggal berdua saja di ruang keluarga.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu dan Anton? Kenapa kamu bisa sampai berpikir untuk datang kesini dengan membawa serta putrimu?" Ayra merasa sangat penasaran akan hal itu.

__ADS_1


"Ceritanya panjang, Ra." Rina pun kemudian menceritakan semua hal yang pernah dia lalui selama bertahun-tahun saat dia masih berumah tangga dengan Anton. Ayra yang melihat Rina menangis saat menceritakan penderitaannya selama bertahun-tahun itu pun hanya bisa memeluk sahabatnya erat-erat untuk menenangkannya. Ayra tidak pernah menyangka sebelumnya, jika Rina ternyata telah menjalani kehidupan rumah tangga yang teramat menyedihkan.


"Aku turut prihatin atas semua yang pernah kamu alami, Rin, dan aku sangat lega karena akhirnya Anton sendiri yang mau menceraikan kamu," kata Ayra. "Oh iya, untuk beberapa hari ke depan kamu istirahat saja dulu di rumah sampai keadaan kamu membaik."


"Terima kasih ya, Ra, karena kamu dengan senang hati mau menampung aku bersama putriku." Rina menyeka air matanya setelah Ayra melepas pelukan darinya.


Ayra tersenyum. "Itu lah gunanya sahabat, Rin, jadi aku minta kamu tidak perlu berterima kasih padaku," jawab Ayra. "Oh iya, apa kamu sudah memikirkan rencana hidup kamu ke depannya?"


Rina terdiam sejenak. "Mm ... kalau keadaanku sudah lebih membaik, tentu saja aku harus mencari pekerjaan, Ra. Dan juga ... aku harus memasukkan Erika ke sekolah yang baru."


Ayra mengangguk mengerti. "Iya benar. Erika secepatnya harus kembali bersekolah, dan soal pekerjaan, kamu tidak perlu repot-repot mencarinya, karena kamu bisa langsung masuk bekerja di salonku kapan pun kamu mau," tawar Ayra sambil tersenyum. Dia memang memiliki sebuah salon kecantikan yang dia beri nama Ayra's Beauty, yang merupakan salah satu salon terbesar dan terkenal di kotanya.


"Serius? Bukannya kamu sangat ketat ya dalam memilih karyawan baru?" Rina merasa tidak percaya Ayra akan langsung mempekerjakannya begitu saja nanti.


"Kamu ini bicara apa sih, Rin, untuk apa juga aku buang-buang tenaga untuk menyeleksi kamu, aku tahu betul kinerja kamu seperti apa. Setahuku, kamu bahkan jauh lebih hebat dari aku." Ayra berbisik di dekat telinga Rina saat mengucapkan kalimat terakhirnya, setelah itu wanita cantik itu tertawa.


"Ah, kamu bisa saja, Ra. Itu 'kan dulu, sekarang jelas sudah berbeda," kata Rina. Dia lalu menggenggam kedua tangan sahabatnya itu."Ra, aku tidak tahu lagi bagaimana cara membalas kebaikan kamu nantinya."


.


.


1 Minggu Kemudian


Keadaan Rina sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tadi pagi dia mengantar putri kesayangannya masuk ke sekolah barunya untuk yang pertama kalinya dan sekarang saat jam pulang sekolah tiba, dia pergi menjemput Erika menggunakan motor yang diberikan oleh Ayra untuk dipakai olehnya.


Siang ini Rina sedikit terlambat untuk menjemput Erika karena dia sempat terjebak macet. Sesampainya di lokasi sekolah baru putrinya, Rina melihat Erika sedang duduk bersama dengan seorang temannya di dekat pos satpam. Sepertinya gadis kecil itu adalah teman baru Erika.


"Mama!" teriak Erika saat melihat kedatangan Rina.

__ADS_1


"Ayo Sayang, kita pulang sekarang," ajak Rina.


"Iya, Ma," jawab Erika. Gadis kecil itu lalu berjalan ke arah Rina dan sesekali dia berbalik melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada teman barunya itu. "Dah Aurora sampai ketemu besok."


Gadis kecil bernama Aurora itu balas melambaikan tangan pada Erika. Namun sepertinya ada yang aneh, Aurora nampak bersedih saat hendak ditinggal oleh Erika. Hanya berselang beberapa detik kemudian, Aurora langsung berjongkok lalu menangis di tempat.


"Eri, teman kamu kenapa, Sayang?" tanya Rina.


"Eri juga tidak tahu, Ma," jawab Erika.


"Kalau begitu kita hampiri dulu yuk, kita tanya kenapa dia menangis." Rina bergegas turun dari motornya, lalu menarik tangan putrinya untuk menghampiri Aurora.


"Nak, kenapa kamu menangis?" tanya Rina. Dia menangkup wajah Aurora agar dia bisa menatap wajah gadis kecil itu.


"Aurora- Aurora tidak ada yang jemput, hiks," jawab Aurora disertai isakan tangisnya.


Rina tersenyum, lalu bertanya dengan lembut pada Aurora, "Memangnya mama Aurora kemana? Kenapa tidak menjemput Aurora, hm?"


"Aurora- Aurora tidak punya mama."


Mendengar jawaban Aurora, Rina langsung terdiam. Jangan-jangan, mamanya Aurora sudah meninggal. Kasihan sekali anak ini, masih kecil sudah kehilangan sosok ibunya. Batinnya merasa iba pada gadis kecil itu.


"Tapi Aurora punya papa, 'kan?" tanya Rina yang langsung mendapat anggukan dari Auror. "Terus kenapa bukan papanya Aurora yang jemput?"


"Papa- papa sibuk, pergi dinas di luar kota- tapi sudah lama- tidak pulang-pulang. Hiks hiks." Aurora menjawab dengan tersedu-sedu membuat Rina semakin kasihan saja padanya.


Kasihan sekali kamu Aurora. Rina membawa Aurora ke dalam pelukannya. "Terus yang biasa menjemput Aurora siapa dong?"


"Mang Asep, tapi- tapi katanya- katanya mang Asep- mang Asep pergi jemput- oma dulu baru jemput Aurora," jawab Aurora tersendat-sendat.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu Tante sama Eri temani kamu ya menunggu oma kamu sama mang Asep datang." Aurora mengangguk. Nampaknya gadis kecil itu sudah jauh lebih tenang sekarang.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2