Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 13 - Duda Ketemu Janda


__ADS_3

"Kak Ricko, ternyata kamu ada di sini. Aku sudah mencarimu kemana-mana." Suasana canggung yang tercipta akhirnya terpecah karena kedatangan Ayra. "Eh, kalian kok bisa sama-sama ada di sini?" Ayra cukup terkejut melihat Rina ternyata juga ada di sana. Dia lalu menatap Rina dan Ricko secara bergantian. Tadinya Ayra datang kesana karena acara sebentar lagi akan dimulai, dia ingin mencari kakak sepupunya itu, tapi tidak disangka disana juga ada Rina dan Aurora bersama pria itu.


"Ah? Em ..." Rina bingung harus menjelaskan seperti apa.


"Oh, itu tadi Aurora yang membawanya kemari. Aurora ingin agar kami berdua berkenalan." Kali ini Ricko yang menjawab, tapi jawaban jujurnya itu tentu saja membuat Ayra salah paham.


"Benar itu Aurora?" Ayra menatap keponakannya itu untuk mencari jawaban yang pasti.


"Iya, Tante Ayra. Aurora mau Papa sama Tante Rina kenalan," jawab Aurora sambil tersenyum.


Mendengar jawaban Aurora, Ayra seketika jadi heboh sendiri. "Ah ... aku tahu, aku tahu." Gadis itu menatap Rina dan Ricko secara bergantian lalu tertawa. "Kalian berdua memang serasi. Duda ketemu janda memang sangat cocok."


Jleb😑. Seketika wajah Rina menjadi semakin memerah seperti udang rebus. Dengan statusnya yang janda, dicocok-cocokkan seperti itu dengan seorang pria tentu saja membuatnya malu dan canggung, apalagi pria itu adalah dokter Ricko. "Ak-aku ke toilet sebentar," katanya beralasan. Dengan langkah cepat Rina segera meninggalkan ketiga orang itu.


Rina berjalan dengan cepat melewati ruangan demi ruangan di dalam mansion itu, tidak disangka setelah berjalan selama beberapa saat dia baru menyadari satu hal. "Eh, ini aku ada di mana?" Rina melihat ke sekeliling ruangan bernuansa putih dan emas tersebut. Yang dia lihat hanyalah beberapa lemari, tangga menuju lantai atas, beserta pajangan-pajangan mewah berwarna senada yang menghiasi ruangan itu. Ini pertama kalinya Rina menginjakkan kaki di mansion mewah itu dan sekarang dia merasa sedikit kebingungan, lebih tepatnya dia merasa sedikit tersesat. Tujuannya sebenarnya bukanlah mencari toilet, pergi ke toilet hanyalah sebuah alasan agar dia bisa menghindar dari dokter Ricko.


"Lebih baik aku segera putar balik." Baru saja Rina memutar badannya 180 derajat, pemandangan di belakangnya sungguh membuatnya semakin salah tingkah dan malu. Pasalnya, saat ini dokter Ricko ternyata tengah berdiri tidak jauh di belakangnya. Entah sejak kapan pria itu berada di sana, Rina sama sekali tidak menyadari kehadirannya.


"Ma-af. Sepertinya- sepertinya saya salah arah, toiletnya bukan disini," ucap Rina. Dengan cepat dia ingin segera berlalu dari hadapan pria itu, tapi dokter Ricko segera menghentikannya.


"Tunggu," cegah dokter Ricko yang sontak membuat Rina menghentikan langkahnya. "Toiletnya ada di sana." Dokter Ricko menunjuk sebuah pintu berwarna putih yang berada tepat di bawah tangga.

__ADS_1


"Ah, iya. Terima kasih." Rina mengangguk sopan dan memaksakan diri untuk tersenyum pada dokter Ricko sebelum akhirnya dia berlalu meninggalkan pria itu.


Setelah memasuki toilet dan memastikan bahwa pintu toiletnya sudah dia kunci dari dalam, Rina akhirnya bisa bernapas lega. Rina menatap pantulan wajahnya di cermin, kini kedua tangannya yang dingin karena deg-degan sudah memegangi pipinya yang terasa sedikit hangat. "Ayra apa-apaan. Dia membuatku canggung dan malu saja."


Rina terdiam. Sekelebat ingatan tentang kejadian beberapa menit lalu kini kembali berputar di memori ingatannya, saat Ayra berkata bahwa duda ketemu janda memang sangat cocok, juga saat dia tanpa sengaja kembali bertemu dengan dokter Ricko di luar sana. "Jadi ternyata dokter Ricko seorang duda," gumamnya tanpa sengaja. "Astaga. Apa yang baru saja aku katakan? Memangnya kenapa kalau dia seorang duda, tidak ada hubungannya sama sekali denganku." Rina segera menyadarkan dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit berada di dalam toilet, Rina pun segera keluar dari dalam sana untuk kembali ke ruang depan tempat pesta ulang tahun nyonya besar Baskara diselenggarakan. Tanpa Rina sadari, seorang pria yang sedang berdiri di tangga tengah menatap kepergiannya sambil tersenyum.


.


.


Sesampainya di tempat pesta, Rina melihat Ayra dan Aurora sudah berdiri di samping nyonya Baskara. Tanpa berpikir panjang, Rina pun segera menghampiri untuk mengucapkan selamat dan memberikan kado yang memang sengaja dia siapkan untuk nyonya Baskara beberapa hari sebelum dia dan Ayra berangkat ke pesta itu.


"Terima kasih, Rina. Kamu sebenarnya tidak perlu repot-repot membawa kado segala," kata nyonya Baskara.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Ini hanya hadiah kecil, dan semoga Anda menyukainya," ucap Rina, sambil tersenyum.


Entah sudah sangat penasaran atau justru malah tidak sabar, di depan Rina bersama yang lainnya, nyonya Baskara langsung membuka kado pemberian dari Rina tersebut. "Wah, dari mana kamu tahu bahwa saya sangat menyukai buku resep seperti ini?" Nyonya baskara mendongak sambil tersenyum menatap Rina. Dia terlihat senang menerima hadiah tersebut.


"Saya tahu dari Ayra, Nyonya." Rina menjawab dengan sopan.

__ADS_1


"Ya, ya, ya." Nyonya Baskara mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berbalik memanggil seorang pelayan wanita yang berdiri tidak jauh di belakangnya. "Santi, bawa buku ini ke kamar saya."


"Baik, Nyonya."


Setelah pelayan bernama Santi tadi pergi dengan membawa serta hadiah dari Rina, nyonya Baskara pun kembali menatap Rina dan Ayra yang berdiri di depannya secara bergantian. "Ayra, lain kali kamu harus membawa Rina ke sini lagi. Dia tidak boleh hanya tahu saja kalau Aunty suka memasak, tapi dia juga harus mencoba masakan Aunty."


"Tentu saja Aunty, Aunty tidak perlu khawatir," jawab Ayra. Dia terlihat begitu bersemangat. "Iya 'kan, Rin?" Seketika Ayra langsung merangkul bahu Rina. Senyuman lebar kini menghiasi wajah gadis itu. Entah mengapa dia terlihat sangat bersemangat sekali malam ini.


"I-iya," jawab Rina. Dia terpaksa mengiyakan karena tidak kuasa menolak permintaan nyonya Baskara.


"Asyik!" seru Aurora. Gadis kecil itu lompat-lompat kegirangan sambil bertepuk tangan. "Aurora senang sekali kalau Tante Rina sering datang kesini, apalagi kalau Eri juga ikut, jadi 'kan Aurora bisa punya teman bermain."


"Ma." Suara seorang pria tiba-tiba muncul di belakang Rina dan Ayra. Rina yang menyadari siapa yang datang memutuskan untuk tidak menoleh dan lebih memilih untuk menundukkan pandangannya. Dia tidak berani lagi bersitatap dengan pria itu saking terasa malu dan canggungnya saat mereka berdua bertemu.


"Rick, kemari." Nyonya Baskara menarik pergelangan tangan putra bungsunya hingga kini dokter Ricko sudah berdiri di hadapan Rina dan Ayra. "Kenalkan, ini Rina, sahabatnya Ayra."


"Kami sudah saling mengenal kok, Ma," kata Ricko. Pria berusia 37 tahun itu menatap sang ibunda sambil tersenyum.


"Oh, ya?" Nyonya Baskara menatap Ricko dan Rina secara bergantian. Dia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa ternyata keduanya sudah saling mengenal. "Kapan itu?"


"Barusan, Nyonya," jawab Rina.

__ADS_1


"2 Tahun lalu," jawab Ricko. Keduanya menjawab secara bersamaan. Jawaban tidak kompak itu lah yang kini membuat keduanya kembali bersitatap.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2