
Tidak terasa waktu sudah menunjuk pukul 9 malam. Rina pun memutuskan untuk pamit pada nyonya Baskara. Begitu sampai di ruang keluarga, Rina malah disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa. Entah sejak kapan Erika dan Aurora mengganti pakaian mereka dengan gaun. Yang jelas, kedua anak itu sekarang seperti dua orang bintang cilik yang sedang tampil di atas panggung. Erika menari dengan lincah dan teratur, sedangkan Aurora menyanyikan sebuah lagu dengan suara merdunya. Diiringi dengan musik piano yang dimainkan oleh Ricko.
Rina dan nyonya Baskara yang menyaksikan hal itu tidak ingin melewatkan moment langkah tersebut. Dengan cepat mereka segera mendekat dan mengabadikan moment tersebut dengan kamera ponsel mereka masing-masing.
Prok prok prok! Suara tepuk tangan Rina dan nyonya Baskara menjadi penutup penampilan kedua bocah cilik itu malam ini.
"Kalian berdua hebat sekali," puji Rina dan nyonya Baskara bersamaan.
"Terima kasih," balas kedua bocah itu.
"Eri, ayo kira pulang sekarang, Nak," ajak Rina.
"Erika belum mau pulang," Ricko bangkit dari balik piano "katanya dia ingin bermalan di sini bersama Aurora."
"Benar itu Sayang?" Rina menatap putrinya dengan penuh tanya.
"Iya, Ma, Om Ricko benar. Eri mau bermalam disini bersama Aurora," kata Erika, membenarkan ucapan Ricko.
"Tapi Sayang, kamu 'kan-"
"Ma, boleh, ya? Besok 'kan hari libur Ma, jadi Eri tidak perlu berangkat ke sekolah," bujuk Erika.
"Tapi-"
"Biarkan saja, Rina. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan jika putrimu ingin menginap di sini," kata nyonya Baskara menengahi.
Karena nyonya Baskara yang angkat bicara, Rina pun akhirnya mengijinkan Erika untuk bermalam di sana.
"Mm ... Rina. Mau aku antar pulang?" tawar Ricko.
"Tidak usah, Dok. Sopir saya sudah menunggu di depan," tolak Rina. Pasti rasanya akan sangat canggung jika pria itu yang mengantarnya pulang. "Oh iya, ngomong-ngomong Ayra kemana?" tanyanya kemudian, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Ayra baru saja pulang," jawab Ricko.
"Oh."
Ayra pulang lebih dulu kenapa tidak bilang-bilang padaku. Batin Rina.
...💓...
__ADS_1
...💓...
Setelah mengantar Rina sampai di teras depan, Ricko dan nyonya Baskara pun melangkah masuk menuju kamar mereka masing-masing. Saat Ricko melewati kamar Aurora, dia penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Aurora dan Erika, apakah kedua gadis kecil itu sudah tidur ataukah mereka masih saja bermain. Dan ternyata keduanya masih belum tidur, tapi malah asyik bermain boneka sambil mengobrol.
"Eri, kamu beruntung sekali punya mama. Mama kamu baik lagi," kata Aurora.
"Iya dong," jawab Erika. "Kamu juga beruntung punya papa yang baik seperti Om Ricko."
"Eri, apa kamu masih ingat? Kita dulu pernah bilang, kalau seandainya mamamu jadi mamaku juga, dan papaku jadi papamu juga, pasti rasanya sangat menyenangkan. Kita pasti akan sama-sama terus seperti ini setiap hari. Bermain bersama, pergi ke sekolah bersama, juga tidur bersama," ujar Aurora.
Ricko yang mendengar ucapan putrinya jadi senyum-senyum sendiri. Ternyata kedua anak itu sudah menjodoh-jodohkannya dengan Rina sejak awal.
"Iya, tentu saja aku ingat, Auror. Tapi ...."
"Tapi kenapa, Eri?" tanya Aurora penasaran.
"Tapi sepertinya rencana itu mau tidak mau harus kita batalkan Aurora," jawab Erika, membuat senyuman yang baru saja mengembang di bibir Ricko seketika menjadi pudar.
Apakah Erika tidak mmenyukaiku? Atau, apakah aku tidak cukup baik untuk menggantikan posisi papa kandungnya? Batin Ricko.
"Loh, kenapa Eri? Apakah papaku tidak cukup baik? Apakah kamu tidak menyukai papaku setelah kamu bertemu dengannya?" tanya Aurora. Jujur saja, dia merasa sedikit kecewa. Harapannya untuk memiliki seorang mama dan keluarga yang lengkap sepertinya akan lenyap begitu saja.
"Apa, jadi papa kamu sudah kembali?" Aurora merasa cukup terkejut mendengar pengakuan Erika.
"Iya, dan sekarang aku sana mamaku sudah tinggal satu rumah dengan papaku," tambah Erika.
Sementara itu, Ricko menutup kembali pintu kamar Aurora dengan pelan agar tidak ketahuan oleh kedua gadis kecil itu. Fakta baru yang baru saja dia dengarkan secara langsung keluar dari mulut Erika jelas membuatnya cemburu.
"Bagaimana mungkin mereka bisa tinggal satu rumah kembali? Apakah mereka sudah rujuk?" gumam Ricko. Dia tidak habis pikir jika Rina masih mau kembali pada mantan suaminya, karena menurut cerita yang Ricko dengar dari bu Marwah dan Ayra, mantan suami Rina itu adalah laki-laki yang tidak berguna dan tidak bertanggung jawab. Bahkan dulu katanya, laki-laki itu selalu memperalat Rina untuk bekerja keras menafkahi keluarga, tapi justru malah mengabaikannya saat masuk ke rumah sakit.
"Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus segera mengambil tindakan." Dengan langkah cepat Ricko bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk menghubungi seseorang.
...💞...
...💞...
Keesokan paginya
Ricko bersama Aurora mengantar Erika untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya mereka di sana, kedatangan mereka langsung disambut oleh bu Marwah.
__ADS_1
"Selamat pagi, Bu." Ricko menyapa wanita paruh baya itu dengan senyuman ramah. "Saya mengantar Eri pulang kemari. Katanya dia dan Aurora akan bermain di sini seharian."
"Oh, boleh, boleh. Silahkan masuk," ajak bu Marwah. "Papanya Aurora, ya?"
"Iya, Bu."
Begitu Ricko masuk ke dalam rumah, Bu Marwah jadi berpikir keras, dimana ya dia pernah melihat papa Aurora sebelumnya. Sepertinya pria tampan itu tidak asing di matanya.
Begitu Ricko duduk di salah satu sofa yang ada di ruang keluarga, dia lalu berkata pada bu Marwah, "Bu, apa Ibu sudah lupa pada saya?"
Bu Marwah menatap Ricko lekat-lekat. "Nah, itu yang Ibu pikirkan sejak tadi. Ibu seperti pernah melihat kamu, tapi Ibu lupa dimana."
Ricko tersenyum. Maklum jika wanita paruh baya itu lupa padanya. "Saya dulu dokter yang pernah menangani Rina di rumah sakit, Bu, waktu dia mengalami keguguran."
Bu Marwah langsung menutup mulutnya. "Astaga. Dokter Ricko?"
"Iya, Bu." Ricko menjawab disertai senyuman dan anggukan pelan.
"Ya ampun, Dokter Ricko. Ibu tidak pernah menyangka bahwa ternyata Nak Dokter ini papanya Aurora," kata bu Marwah. "Dunia ini begitu sempit, ya?" tambahnya lalu tertawa.
Setelah mengobrol beberapa saat, Bu Marwah pun kemudian mengajak Ricko untuk masuk ke meja makan. Pagi ini dia membuat kue putu ayu, dia ingin Ricko mencicipinya bersama teh hangat.
"Bu, ngomong-ngomong Rina kemana, Bu?" tanya Ricko. Pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan, tapi dia tidak melihat siapa pun. Kecuali bu Marwah yang sedang menyediakan kue untuknya, juga anak-anak yang baru saja berlari menaiki tangga hendak naik ke lantai atas.
Sebenarnya bukan hanya Rina yang Ricko cari, tapi papa Erika yang katanya sekarang sudah tinggal satu rumah bersama mereka. Ricko ingin mencari tahu, apakah sekarang mereka benar-benar rujuk atau tidak.
"Kalau Rina, biasanya kalau hari libur begini, dia akan jarang keluar kamar. Dia akan menghabiskan waktunya sepanjang hari di dalam kamarnya," jawab bu Marwah.
Menghabiskan waktu di dalam kamar seharian? Jangan-jangan mereka ... ah, tidak-tidak. Aku tidak boleh berprasangka buruk dulu. Batin Ricko.
"Bu, bolehkah saya bertanya?"
"Bertanya apa, Nak Dokter?"
"Kata Erika ... papanya sudah kembali, dan sekarang tinggal disini bersama kalian. Apakah itu benar, Bu?"
"Iya, itu benar!" Pertanyaan Ricko barusan bukanlah dijawab oleh bu Marwah, melainkan dijawab oleh seorang pria yang tiba-tiba muncul di belakang Ricko.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1