Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 29 - Usaha Menghindari Dokter Ricko


__ADS_3

Rina berjalan cepat menuju toilet untuk menghindari Ricko. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar suara teriakan seorang pria yang begitu tidak asing.


"Rina!"


Rina menoleh sambil menghentikan langkahnya sebentar. Dia ingin memastikan bahwa dirinya salah dengar ataukah tidak. Rupanya dia tidak salah dengar, memang benar Anton yang berteriak memanggil namanya.


"Ck." Rina berdecak kesal. "Untuk apa juga dia menyusul kemari? Dasar menyebalkan," gumam Rina kesal, lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat mencoba mengabaikan keberadaan mantan suaminya tersebut.


"Rina, tunggu Rina!" teriak Anton sambil berlari menyusul Rina, tapi Rina sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya. Wanita itu terus saja melangkah dengan cepat menuju toilet terdekat.


"Rina, tunggu, Rina! Tunggu!" Anton menarik pergelangan tangan Rina dari belakang, tapi langsung dihempaskan oleh mantan istrinya itu.


"Lepaskan! Jangan pernah berani-berani menyentuhku," ancam Rina. Kemunculan Anton yang tiba-tiba tentu saja membuatnya kesal.


"Tapi-"


"Tidak ada tapi-tapi. Cepat pergi sana. Kalau kamu masih berani mengikutiku, aku pastikan akan membuatmu angkat kaki dari rumahku setelah kita kembali dari sini." Rina berkata dengan penuh penekanan. Mau tidak mau Anton pun memilih menurut, daripada usahanya untuk membuat Rina kembali padanya gagal sebelum berhasil.


Rina melenggang pergi meninggalkan Anton, sementara Anton hanya berdiri mematung menatap punggung mantan istrinya perlahan menjauh dari pandangannya.


"Lebih baik sekarang aku pergi mencari Erika," putus Anton kemudian. Jika dia tidak bisa membuat Rina luluh padanya, maka Erika adalah senjata terampuh baginya untuk membuat Rina mau tidak mau terpaksa harus menerimanya kembali.


.


.

__ADS_1


Sementara itu, melihat panjangnya antrean di depan toilet, Rina jadi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam sana. Wanita cantik itu akhirnya memutuskan untuk duduk saja menenangkan diri di bawah naungan pohon.


Bagaimana aku menghadapi dokter Ricko ke depannya? Kenapa dia tiba-tiba saja menyatakan perasaannya padaku? Gumam Rina dalam batinnya. Dia pasti akan semakin canggung jika bertemu dengan pria itu lagi nantinya.


"Rina."


Seorang pria tiba-tiba saja muncul di hadapan Rina. Rina mendongak, lagi-lagi sesosok pria yang sangat tidak asing di matanya.


"Pak Evan."


Evan adalah seorang manajer di sebuah perusahaan besar dan merupakan salah satu diantara sekian banyak deretan pria yang pernah menyatakan cinta pada Rina, tapi tentu saja pria itu ditolak oleh Rina.


"Kamu kesini sendirian?" Evan mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari sosok gadis kecil yang biasanya bersama wanita itu. "Mana putrimu?"


"Tidak kok, Pak, saya tidak sendirian. Dan Eri ada di sana," jawab Rina. Sebenarnya dia malas meladeni pria ini. Sudah berkali-kali ditolak tapi tetap saja berusaha untuk mendekatinya. Bahkan pria itu juga selalu berusaha mengambil hati Erika, tapi gadis kecil itu malah takut dan tidak mau dekat padanya.


"Sekarang Eri sedang bersama papanya, Pak, jadi saya tidak perlu khawatir meninggalkan mereka disana." Rina tersenyum sambil melihat sekilas ke arah pria itu. Rina yakin, pasti cara ini cukup ampuh untuk mengusir pria yang satu ini dengan cara halus.


"O-oh, sedang bersama papanya, ya?" tanya Evan tidak enak. Seketika yang muncul di benak pria itu adalah, Rina sekarang sudah rujuk dengan mantan suaminya, papanya Erika.


"Iya, Pak. Kami bertiga sudah hidup bersama kembali," jawab Rina. Memang benar adanya yang dia katakan, mereka memang sudah hidup bersama kembali, tapi jelas bertolak belakang dengan fakta yang dipikirkan oleh Evan.


Evan terdiam. Dia tidak mungkin lagi mengejar wanita yang sudah memiliki suami, itu sama saja dengan dia cari mati.


"Kalau begitu saya ke sana dulu. Sepertinya anak-anak sudah menunggu saya," pamit Evan yang juga merupakan duda dengan dua anak yang masih kecil-kecil.

__ADS_1


Pfft .... Rina akhirnya bisa bernapas lega, akhirnya pria itu pergi juga dan tidak jadi mengganggunya.


"Mama!" teriak Erika. Baru saja Rina bernapas lega karena kepergian Evan, tapi putrinya sudah datang mencarinya.


Rina menoleh, terlihat Erika sedang bergandengan tangan dengan Anton, sedangkan Ricko bergandengan tangan dengan Aurora. Keempat-empatnya berjalan menghampirinya.


"Mama kenapa pergi? Kenapa malah duduk di sini sendirian?" tanya Erika.


"Mm ... oh, tadi Mama mau ke toilet, Sayang. Tapi karena antreannya panjang jadi Mama memutuskan untuk duduk menunggu di sini saja," jawab Rina, sambil tersenyum.


"Oh, jadi begitu." Erika mengangguk mengerti. "Oh iya, Ma, karena Eri sama Aurora sudah puas bermain disini, jadi selanjutnya Om Ricko mau membawa kami ke wahana bermain di mall. Kami mau bermain sepuasnya." Erika terlihat sangat senang dan bersemangat.


"Wahana bermain?" ucap Rina dengan ragu-ragu. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah satu, yaitu bagaimana caranya agar dia bisa menghindar dari dokter duda yang baru saja menyatakan cinta padanya. Jika Rina ikut menemani Erika, itu artinya dia tidak bisa menghindar untuk tidak bertemu dengan pria tersebut.


"Iya, Ma."


"Eri Sayang, bisakah kamu pergi bersama ditemani Papa saja. Mama tiba-tiba asa urusan, Nak," kata Rina beralasan. Sudah jelas dia hanya membohongi putrinya karena hari ini adalah hari libur.


Seketika Erika memasang wajah sedih dan murung. "Kalau Mama tidak mau menemani Eri, lebih baik Eri tidak jadi pergi."


"Loh, kan ada Papa kamu, Nak." Rina masih berusaha membujuk putrinya.


"Tidak mau. Eri tidak mau. Kenapa sih Mama lebih mentingin pekerjaan dari pada anak sendiri?" Mata gadis kecil itu sudah berkaca-kaca.


Deg. Hati Rina terasa tersentil mendengar ucapan dari putrinya. Dia sadar jika selama ini dia memang jarang mengajak Erika pergi keluar disaat hari libur.

__ADS_1


"Bukan begitu, Sayang. Ya sudah, Mama temani deh, tapi jangan nangis, ya." Rina membujuk putrinya sambil membawanya ke dalam pelukannya, tidak tega rasanya melihat buah hatinya itu menangis hanya karena keegoisannya.


Soal cara menghindari dokter Ricko, nanti saja aku pikirkan caranya. Batin Rina.


__ADS_2