
Ketika Rina berbalik, dia sudah melihat Erika membantu Anton berdiri. "Papa, ayo bangun Papa," kata Erika.
"Eri." Anton menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca sambil berusaha untuk berdiri dari posisinya. 2 Tahun tidak pernah melihat putrinya itu, ternyata Erika kini sudah tumbuh banyak. Kini Erika sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. Sepertinya Rina merawat putrinya itu dengan sangat baik setelah mereka berpisah.
Setelah Anton berdiri dengan sempurna, dia langsung memeluk putrinya erat-erat. "Papa sangat merindukan kamu, Nak."
"Eri juga, Papa. Eri juga sangat merindukan Papa." Erika balas memeluk papanya, melepaskan segala kerinduan yang selama ini sudah menggunung. Selama dua tahun terakhir, diam-diam tanpa sepengetahuan Rina dan siapa pun, gadis kecil itu sering menangis karena merindukan papanya.
Pemandangan yang mengharukan itu harusnya bisa membuat hati setiap orang yang menyaksikannya terenyuh, tapi sayangnya itu tidak berlaku bagi Rina. Dengan sejuta rasa benci yang dia miliki dihatinya pada Anton, wanita itu justru malah muak melihat pemandangan tersebut. Dia sudah mengenal Anton selama hampir 10 tahun dan dia tahu persis seperti apa sifat laki-laki itu. Jika Anton masih belum juga berubah, bisa jadi pria itu kembali muncul di kehidupannya dan Erika karena dia hanya ingin memanfaatkan Rina seperti yang telah dilakukan oleh pria itu di masa lalu.
Adegan berikutnya, Rina hanya terdiam menyaksikan putrinya menarik tangan Anton untuk duduk berteduh di teras salon. "Papa, Papa tidak apa-apa, 'kan?" tanya Erika.
"Iya, Nak, Papa tidak apa-apa," jawab Anton. "Hanya ada sedikit luka lecet saja dan itu tidak jadi masalah, karena sekarang Papa sudah bertemu dengan kamu."
Erika tersenyum. "Kalau begitu tunggu di sini sebentar Papa, biar Eri bantu obati luka Papa. Eri ambil kotak obat di dalam dulu ya." Erika berlari melewati Rina begitu saja. Gadis kecil itu sangat tahu jika mamanya sangat membenci papanya, tapi dia tidak ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Rina, karena biar bagaimana pun, darah lebih kental dari air, di dalam dirinya mengalir darah pria itu. Sejahat apa pun Anton di masa lalu, Anton tetaplah ayah kandungnya. Hal itu tidak dapat diubah sampai kiamat sekali pun.
Melihat betapa sayangnya Erika pada Anton, Rina tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga tidak mungkin membuat putrinya membenci mantan suaminya itu. Biar bagaimana pun, Anton tetaplah papa kandung Erika. Tidak bisa dia pungkiri hal itu.
Selagi Erika masih belum kembali, Rina mengambil kesempatan untuk mengusir pria itu. Rina lalu berjalan mendekati Anton yang saat ini sedang duduk di salah satu kursi teras salon. "Hei, dengar. Setelah nanti Erika mengobati luka kamu, secepatnya pergilah dari sini, karena aku sudah sangat muak melihat mukamu itu," kata Rina. "Inginmu kemari karena ingin melihat Erika, 'kan? Dan sekarang kamu sudah melihatnya. Harusnya sekarang kamu sudah bisa pergi dengan tenang, karena tanpa kamu aku bisa membesarkan Erika dengan sangat baik."
__ADS_1
Usai memperingati Anton dan mengatakan semua kalimat pedas itu, Rina pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya di lantai 2. Dia ingin memberikan waktu untuk Erika dan Anton bertemu meski pun hanya sebentar saja agar keduanya bisa lebih puas melepas rindu.
Begitu Rina sampai di ruangannya, dia mendapati ponselnya berdering di atas meja. Setelah dia periksa, rupanya dia mendapat undangan dari sekolah Erika untuk menghadiri acara ulang tahun sekolah yang akan diselenggarakan besok pagi.
"Kenapa pemberitahuannya mendadak sekali? Harusnya 'kan pesan ini disampaikan sejak beberapa hari yang lalu," gumam Rina, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Untung saja besok jadwalnya free, jadi dia masih bisa menghadiri acara tersebut.
.
1 Jam kemudian
Hingga detik ini Erika masih belum juga naik ke ruangan mamanya. Apakah di bawah sana Anton masih belum pergi juga? Begitu pikir Rina. Untuk memastikan hal tersebut, Rina segera menelpon salah satu karyawannya.
"Eri masih ada di luar, Bu, sedang duduk bersama ..." karyawan itu tidak tahu harus berkata apa tentang Anton. Takut dia salah bicara dan kembali memancing amarah Rina.
Rina yang sudah tahu jawaban atas pernyataannya itu segera memutus sambungan telepon mereka. Dia tahu jika Anton masih ada di bawah sana dan belum pergi juga. Sebelum turun ke lantai bawah, Rina menyambar tas dan kunci mobilnya. Sepertinya hari ini dia harus kembali ke rumah lebih awal dari biasanya.
Sesampainya di lantai bawah, Rina melihat Erika sedang duduk berdua sambil mengobrol dengan Anton. Rina tidak bisa mendengar apa yang ayah dan anak itu bicarakan, yang jelas, dia sama sekali tidak peduli akan hal itu. Yang ada di otaknya sekarang ini adalah, membawa pulang Erika agar Anton bisa segera pergi dari sana. Waktu satu jam lebih yang dia berikan untuk keduanya bertemu sepertinya sudah lebih dari cukup, mengingat dulu Anton juga tidak begitu dekat dengan putri mereka.
"Eri, kita pulang sekarang, Sayang," ajak Rina.
__ADS_1
Erika terdiam. Gadis kecil itu menatap mama dan papanya secara bergantian. Lalu setelah beberapa detik kemudian dia berjalan mendekati Rina. Erika mendongak menatap mamanya yang nampak kesal sambil berkata, "Ma."
Rina langsung menggenggam pergelangan tangan Erika. "Kita pulang sekarang, Sayang. Ayo." Rina berkata sambil berusaha menarik pergelangan tangan Erika menuju mobil, tapi sayangnya putrinya itu menolak. Erika melepaskan cengkraman tangan Rina sambil mundur beberapa langkah, lalu berdiri memantung di tempat dan menundukkan kepalanya.
Rina tahu jika putrinya itu masih ingin berlama-lama bersama Anton, tapi Rina tidak akan membiarkan hal itu. Dia tahu jika dia egois, tapi mengingat semua perlakuan Anton di masa lalu membuatnya tega melakukan hal itu. Apalagi saat dia mengingat bahwa Anton adalah penyebab utama dia kehilangan calon anak kedua mereka, rasanya Rina ingin melakukan sesuatu hal yang kejam pada pria itu.
"Ayo, Eri, kita pulang sekarang, Nak. Di rumah nenek sedang tidak enak badan," kata Rina berbohong. Dia sengaja mencari alasan agar putrinya menurut dan mau ikut pulang dengannya. Dan yang dia maksud disini dengan nenek adalah bu Marwah. Setelah Rina sukses dengan karirnya waktu itu, dia lalu memboyong wanita paruh baya itu untuk tinggal bersamanya. Memang sejak lama dia sudah menganggap bu Marwah sebagai ibu angkatnya sendiri, pengganti kedua orang tuanya yang telah lama tiada.
Namun sayangnya, apa pun yang Rina katakan, Erika tetap tidak peduli. Gadis kecil itu tetap saja mematung di tempatnya sambil menunduk dalam-dalam.
"Eri, ada apa denganmu, Nak? Apa orang itu sudah mencuci otak kamu?" tanya Rina. Dia menatap Anton dengan tatapan benci yang mendalam dan penuh dendam.
Tapi tiba-tiba saja Rina terkejut karena kedua tangan Erika kini menggenggam pergelangan tangan kanannya. Putrinya itu sekarangjuga sudah mendongak menatapnya dengan mata merah dan basah. Rupanya Erika menunduk karena dia menangis.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" Buru-buru Rina berjongkok dan menyeka air mata putrinya.
"Ma, Mama sayang sama Eri, 'kan?" tanya Erika.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1