Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 7 - Semua Ini Salahku


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Semenjak sore itu, Anton tidak pernah lagi pulang ke rumah. Hal itu membuat Rina merasa cukup lega karena pria kasar yang tidak berperasaan itu tidak kembali untuk menjarah penghasilan dan menyiksa dirinya. Rina berpikir bahwa mungkin Anton marah karena waktu itu dia hanya memberikan uang 50rb rupiah saja pada suaminya tersebut.


"Baguslah kalau bang Anton tidak pulang. Setidaknya dia sudah membantu mengurangi sebagian besar beban beratku untuk sementara waktu." Rina berbicara sendiri sambil membuka salonnya pagi ini.


Hari ini adalah hari ke-empat semenjak Rina kembali membuka salonnya. Selama 3 hari belakangan ini penghasilan Rina sudah lumayan karena tidak ada Anton yang kembali ke rumah untuk menjarahnya. Sebenarnya Rina sudah mempunyai niat untuk beristirahat total agar dia tetap bisa menjaga kandungannya, tapi mengingat bahwa akhir minggu ini pemilik rumah kontrakan akan datang untuk menagih uang sewa, dia pun terpaksa memutuskan untuk tetap lanjut bekerja, takut jika pemilik rumah kontrakan benar-benar mengusirnya seperti yang diancamkan beberapa waktu lalu saat Rina sudah terlalu sering telat membayar uang sewa kontrakan gara-gara ulah Anton.


Pagi ini setelah melakukan crembath dan merias 2 orang pelanggan setianya, Rina tiba-tiba merasa perutnya sangat sakit dan mulas.


"Aduh, ssh ... perutku sakit sekali." Karena dia hanya sendirian di sana, Rina pun memutuskan untuk keluar meminta bantuan. "Ibu! Bu Marwah! Tolong saya, Bu! Perut saya sakit sekali- akh!" Rina memekik kesakitan saat merasa perutnya semakin sakit saja saat dia berjalan. Karena tidak sanggup menahannya, Rina memilih untuk duduk secara perlahan di atas lantai teras rumahnya.


Bu Marwah yang mendengar teriakan Rina pun segera berlari menghampirinya dengan panik. "Rina, Rina, kamu tidak apa-apa, Nak?"


"P-perut- saya- sakit, Bu," jawabnya dengan susah payah. Kini suaranya sudah mulai melemah. Dia hanya bisa menyadarkan tubuhnya di dinding tembok sambil menahan rasa sakit dan mulas yang ada di perutnya.


"Ap-apa? Perut kamu sakit?" Wanita paruh baya itu semakin panik saja, apalagi saat melihat wajah Rina yang sudah memucat, serta bulir keringat dingin sebesar kacang hijau yang sudah mulai memenuhi kening wanita muda itu. "Bertahanlah, Nak. Ibu akan pergi sebentar untuk mencari bantuan. Kamu harus segera dibawa ke rumah sakit."


Rina memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. "Maafkan Ma-ma, Nak. Ma-ma tidak be-cus menjaga ka-mu," lirihnya terputus-putus. Tidak lama setelah itu, Rina akhirnya kehilangan kesadarannya.


.

__ADS_1


.


Beberapa jam kemudian.


Rina tidak tahu sudah berapa lama dirinya pingsan. Yang jelas saat dia terbangun, dia sadar bahwa dirinya sudah berbaring di atas ran-jang perawatan rumah sakit.


"Syukurlah kamu sudah sadarkan diri, Rina. Tunggu sebentar, Ibu keluar dulu untuk memanggil dokter." Sejak dia membawa Rina masuk ke rumah sakit, bu Marwah terus menungguinya hingga sadar. Sementara Erika dia titipkan di rumah tetangga sebelah karena Anton tidak tahu pergi kemana pria itu sekarang. Saat dia diberi kabar bahwa istrinya masuk rumah sakit karena keguguran, Anton malah langsung memutus sambungan teleponnya dengan bu Marwah. Setelah itu bu Marwah tidak bisa lagi menghubunginya.


Tidak berselang lama kemudian, bu Marwah kembali bersama dengan seorang dokter yang tidak asing di mata Rina. Dia adalah dokter Ricko, dokter spesialis kandungan yang beberapa hari lalu pernah memeriksa kondisi kandungannya.


Setelah dokter Ricko selesai memeriksa kondisinya, Rina pun bertanya pada dokter Ricko, "Dok, kandungan saya baik-baik saja 'kan, Dok?"


"Jangan bilang-" Rina langsung menutup mulutnya sendiri menggunakan sebelah tangannya. Dia tidak kuasa meneruskan ucapannya sendiri. Seketika matanya terasa panas dan basah. Sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi pada calon anak keduanya. Dia merasa sangat menyesal karena tidak bisa menjaga kandungannya dengan baik.


Melihat Rina menangis, bu Marwah langsung memeluknya. "Sabar, Nak. Semua ini kehendak Yang Maha Kuasa, kamu tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan."


"Tapi, Bu, semua ini adalah salah saya. Saya yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Dokter menyuruh saya untuk banyak beristirahat, tapi saya justru malah mengabaikannya," katanya sambil terus menangis. Dia balas memeluk wanita paruh baya tersebut dengan erat.


"Ini sepenuhnya bukan salah kamu, Nak, keadaanlah yang memaksa. Kamu harus tetap kuat, demi Erika." Bu Marwah berusaha untuk menenangkan Rina dan memberinya semangat.


Sementara itu, dokter Ricko menghembuskan napasnya berat melihat pemandangan itu. Masalah yang dialami oleh Rina hingga akhirnya bisa mengalami keguguran sepeti sekarang ini semuanya sudah dia ketahui dari cerita bu Marwah. Kecurigaannya beberapa waktu lalu ternyata memang benar, bahwa wanita muda itu mengalami KDRT, tapi bu Marwah memintanya untuk merahasiakan hal ini karena Rina pasti akan marah jika tahu bahwa ternyata bu Marwah sudah bercerita banyak padanya.

__ADS_1


"Bu Rina yang sabar. Yang dikatakan oleh Bu Marwah benar, semua ini adalah kehendak Tuhan, jadi Ibu tidak boleh larut dalam kesedihan. Sedih boleh saja, tapi sewajarnya." Dokter Ricko menepuk pelan pundak Rina untuk memberinya kekuatan.


Rina menyeka air matanya. "Terima kasih banyak, Dok, tapi semua ini memang salah saya. Saya yang tidak becus menjaga kandungan saya sendiri." Mengingat kenyataan bahwa calon anak keduanya sudah tidak ada lagi di dalam rahimnya, Rina tidak kuasa menahan kesedihannya dan kembali menangis. Dia terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpanya. Sementara itu bu Marwah dan dokter Ricko terus memberinya semangat.


.


.


Setelah 2 hari rawat inap di rumah sakit, Rina akhirnya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Ricko.


"Terima kasih banyak, Dok." Rina sangat berterima kasih karena selama dia dirawat, dokter Ricko memperlakukannya dengan sangat baik. Saking baiknya, orang-orang sampai salah paham mengira bahwa mereka memiliki hubungan spesial. Apalagi dokter Ricko begitu perhatian pada pasiennya yang satu itu.


Dokter berperawakan tinggi dan tampan tersebut tersenyum. "Sama-sama. Memang itu sudah menjadi tugas saya, Bu," jawabnya. "Oh iya, sebaiknya setelah pulang ke rumah, Bu Rina perbanyak istirahat untuk sementara waktu. Jangan melakukan pekerjaan berat seperti mengangkat beban, terutamanya mengangkat beban yang berat-berat. Takutnya terjadi resiko pendarahan yang bisa membahayakan nyawa Ibu sendiri."


"Baik, Dok. Saya mengerti. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Dok," ucap Rina. Sebenarnya dia merasa sedikit canggung pada dokter tampan tersebut. Setiap kali dia melihat cara dokter Ricko menatapnya, dia merasa ada sesuatu yang sangat aneh yang tidak bisa dia jabarkan dengan kata-kata.


Dokter Ricko tersenyum. "Kalau begitu hati-hati di jalan." Setelah memastikan bahwa Rina masuk ke dalam mobil taksi yang sengaja dia pesan untuk pasiennya tersebut, dia pun segera kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Alasan dokter Ricko memesankan taksi untuk Rina adalah, karena dia khawatir terjadi apa-apa pada pasiennya tersebut di jalan. Bu Marwah tidak bisa menemani Rina sampai Rina keluar dari rumah sakit karena beliau disuruh Rina untuk pulang menjaga Erika.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2