Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 12 - Bertemu Kembali


__ADS_3

Singkat cerita 2 tahun kemudian. Sekarang Rina sudah sukses dengan usaha salon miliknya sendiri yang dia beri dengan nama 'Oh My Beauty Salon'. Sejak 1 setengah tahun lebih yang lalu Rina sudah memiliki rumah dan kendaraan pribadi miliknya sendiri. Dia dan Erika tidak lagi menumpang hidup pada Ayra. Semua itu tidak lepas dari bantuan sahabat terbaiknya tersebut yang dulunya memberikan pinjaman modal usaha untuk dipakai Rina memulai usahanya salonnya sendiri.


Yang membuat usaha Rina cepat sukses dan melejit adalah, selain karena Rina terkenal di kalangan istri para pejabat dan konglomerat, juga karena Ayra pernah mendokumentasikan saat Rina merias salah satu klien mereka, lalu setelah itu Ayra dengan sengaja meng-upload video tersebut ke beberapa akun sosial media miliknya. Berkat skill dewa yang dimiliki oleh Rina, dia sukses mendapatkan jutaan like dan ratusan ribu komentar positif beserta pujian dari para warganet. Semenjak saat itu Rina mulai terkenal di dunia tata rias dan jasanya tidak hanya dipakai oleh putri dan istri para pejabat dan konglomerat saja, tapi para artis ibukota juga banyak yang menyewa jasanya. Hingga detik ini kemampuan Rina dalam bidang tata rias sudah sekelas dengan para MUA profesional ternama.


Malam ini Rina dan Ayra sama-sama sudah tampil cantik dengan balutan gaun malam mereka masing-masing dan mereka baru saja selesai bersiap untuk pergi ke acara pesta ulang tahun keluarga Ayra. Rina juga diundang ke sana karena dia kenal baik dengan kerabat tdekat Ayra tersebut. Namanya nyonya Baskara, neneknya Aurora. Rupanya, Aurora teman satu sekolah Erika yang waktu itu pernah dijaga oleh Rina merupakan keponakan Ayra. Aurora adalah putri kakak sepupunya Ayra.


Sesampainya Rina dan Ayra di mansion keluarga Baskara, kedatangan mereka langsung mendapat sambutan hangat dari pemilik mansion tersebut. Terutamanya Aurora yang begitu bersemangat menyambut kedatangan Rina bersama dengan Ayra tantenya.


"Tante Ayra! Tante Rina!" teriak Aurora. Gadis kecil yang sekarang sudah berusia 8 tahun itu memeluk Rina dan Ayra secara bergantian.


"Kamu cantik sekali, Sayang." Rina dan Ayra memuji penampilan Aurora malam ini yang terlihat seperti putri kerajaan dengan balutan gaun berwarna pink muda disertai mahkota yang bertengger di puncak kepalanya.


"Terima kasih, Tante," balas Aurora. "Oh iya, Tante Rina, kenapa Eri tidak ikut?" Gadis kecil itu nampaknya sedikit kecewa karena sahabatnya tidak datang.


"Eri sedang ada les Sayang, jadi dia tidak bisa ikut," jawab Rina.


"Rin, aku ke sana dulu, ya? Sepertinya Aunty Maya membutuhkan bantuanku," kata Ayra. Aunty Maya adalah neneknya Aurora, atau biasa dipanggil dengan sebutan nyonya Baskara.


"Oke, pergilah," jawab Rina.


Setelah Ayra berjalan menghampiri nyonya Baskara, Aurora tiba-tiba saja menarik tangan Rina berjalan menjauhi kerumunan tamu. "Sayang, kamu mau membawa Tante kemana?"

__ADS_1


"Rahasia," jawab Aurora. Gadis kecil itu tersenyum dan mendongak menatap Rina.


Rina tersenyum gemas saat mendengar gadis kecil itu ingin bermain rahasia-rahasian dengannya. Dia pun menuruti kemauan Aurora kemana bocah manis itu hendak membawanya. Rina berpikir, mungkin Aurora ingin pergi ke toilet dan dia butuh ditemani. Pikir Rina.


Aurora terus berjalan menarik tangan Rina hingga mereka berdua benar-benar meninggalkan keramaian acara. "Aurora Sayang, kamu sebenarnya mau membawa Tante kemana? Tempat ini sama sekali tidak mengarah ke toilet," tanya Rina penasaran.


"Memangnya siapa yang ingin pergi ke toilet, Tante? Aurora tidak pernah bilang begitu," jawab Aurora.


"Lah, terus kamu mau membawa Tante kemana, Sayang?" tanya Rina semakin penasaran.


"Pergi ke suatu tempat. Aurora ingin menunjukkan sesuatu pada Tante, jadi Tante Rina ikut saja," jawab gadis kecil itu.


Setelah Aurora membawa Rina keluar melewati pintu samping mansion, terlihat seorang pria mengenakan setelan jas berwarna hitam tengah berdiri membelakangi mereka berdua. Pria itu terlihat sedang berbicara dengan seseorang di telepon, dan Aurora akhirnya berhenti menarik tangan Rina begitu jarak tempat mereka berdiri hanya tersisa sekitar 5 meter di belakang pria itu.


"Sebentar Sayang, Papa sedang menelpon," jawab pria yang Aurora panggil dengan sebutan 'Papa' tersebut.


"Kenapa Aurora membawa Tante ke sini? Bukannya Aurora ingin menunjukkan sesuatu pada Tante?" Rina bertanya dengan setengah berbisik pada Aurora.


"Itu." Aurora menunjuk pria yang ada di hadapan mereka. "Aurora mau mengenalkan Tante sama Papa," jawab Aurora sambil tersenyum lebar.


"O-oh. Ha-nya itu? Tidak ada lagi yang lain?" tanya Rina, dan Aurora pun menjawab dengan anggukan disertai senyuman lebar.

__ADS_1


Rina tidak tahu harus berkata apa lagi. Rupanya tujuan utama Aurora menarik dirinya sejauh ini hanya untuk memperkenalkan dirinya pada papa gadis kecil tersebut. Entah mengapa Rina tiba-tiba merasa sangat canggung pada pria itu. Padahal, dia belum melihat seperti apa wajah pria tersebut. Apalagi Aurora ingin memperkenalkan mereka dengan cara seperti itu. Bukankah mereka masih bisa berkenalan saat bertemu di acara pesta nanti. Begitu pikir Rina.


Berselang beberapa menit kemudian, papa Aurora akhirnya selesai dengan urusannya di telepon. Dia pun lalu berbalik menghadap ke arah putrinya seraya berkata, "Ada apa, Say-" Bibir papa Aurora seolah terkunci saat melihat seorang wanita cantik berdiri di samping putrinya. Melihat Aurora menggenggam tangan Rina, dia sudah bisa menebak bahwa wanita itu pasti sangat dekat dengan putrinya.


Bukan hanya pria itu saja yang nampak terkejut melihat kemunculan Rina bersamanya putrinya, namun Rina juga hanya bisa terpaku melihat sosok yang sama sekali tidak asing di matanya. Rina tidak menyangka bahwa pria itu ternyata adalah papa Aurora. Seolah waktu berhenti berputar, mereka berdua hanya bisa terdiam dan saling mengunci tatapan satu sama lain, hingga akhirnya Aurora menyadarkan keduanya dari lamunan mereka masing-masing.


"Papa kenalkan, ini Tante Rina yang sering Aurora ceritakan pada Papa." Penuturan polos gadis kecil itu membuat Rina sangat terkejut.


Ap-apa? Memangnya apa yang Aurora ceritakan tentangku pada papanya? Batin Rina. Seketika membuatnya semakin canggung saja pada pria tersebut. Namun sesuatu yang tak terduga terjadi, pria itu berhasil mengubah ekspresi keterkejutannya dalam waktu sekejap. Dengan santainnya dia berjalan menghampiri putrinya bersama Rina.


Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan pada Rina. "Perkenalkan, saya Ricko, papanya Aurora."


"Ah, em ... nama saya- nama saya Rina," jawabnya sedikit gugup, sambil membalas uluran tangan pria yang selama ini dia ketahui bernama dokter Ricko, dokter spesialis kandungan yang dulunya sudah sangat baik dan sudah banyak menolongnya saat dirinya dirawat di rumah sakit.


Astaga, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku harus segugup ini? Kejadian waktu itu sudah sangat lama, tentu saja dokter Ricko sudah lupa padaku. Jadi lebih baik aku pura-pura tidak mengenalnya saja. Batinnya.


"Saya sudah banyak mendengar cerita tentang kamu dari Aurora," ucap Ricko, sambil tersenyum.


"Ah, em- kalau boleh tahu, cerita tentang apa ya?" tanya Rina semakin penasaran. Rina menjadi salah tingkah sendiri saat dokter Ricko terus menatapnya tanpa berkedip.


"Papa, Papa." Aurora mengguncang tangan papanya. "Tante Rina benar-benar cantik 'kan seperti yang Aurora ceritakan?" Aurora kembali berkata dengan polosnya membuat pipi Rina seketika jadi merona.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2