
Setelah menemani Aurora menunggu selama hampir seperempat jam, sebuah mobil mewah berwarna putih tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah.
"Tante, Eri, itu mobil Omaku sudah datang, Aurora pulang dulu, ya? Dah Tante, dah Eri." Aurora dengan wajah cerianya segera berlari menghampiri mobil mewah tersebut usai berpamitan pada Rina dan Erika. Ekspresinya sekarang berbanding 180 derajat dengan yang tadi.
Sementara itu, kaca jendela mobil mewah itu terbuka, terlihat sesosok wanita tua berambut putih tersenyum pada Rina, dan Rina pun membalasnya dengan anggukan sopan disertai senyuman. Mungkin neneknya Aurora berterima kasih padanya karena dia sudah menjaga Aurora sebentar.
Saat Aurora sudah masuk ke dalam mobil, dia kembali berteriak dan melambaikan tangan pada Rina dan Erika. "Dah Eri! Dah Tante Rina! Sampai ketemu besok!"
Rina dan Erika pun balas melambaikan tangan padanya. "Dah Aurora!"
.
.
Salon Ayra's Beauty
Rina memarkirkan motornya di halaman depan salon bersama motor karyawan yang lain. Siang ini setelah menjemput Erika, dia langsung membawa putrinya kembali ke salon dan bukan kembali ke rumah Ayra, itu karena di sana Erika tidak mau jika hanya ditemani oleh asisten rumah tangga saja.
Hari ini, selain adalah hari pertama Erika bersekolah di sekolah barunya, juga merupakan hari pertama Rina bekerja di salon milik sahabatnya tersebut setelah kondisinya membaik.
"Rin!" Suara teriakan seorang wanita tiba-tiba terdengar di belakang Rina. Rupanya Ayra yang baru saja kembali diantar oleh pacarnya setelah mereka makan siang berdua.
"Oh, hai." Rina dan Erika diam di tempat menunggu Ayra datang menghampiri.
"Kamu habis jemput Erika, ya?" tanya Ayra, dan Rina menjawabnya dengan anggukan. Setelah itu mereka bertiga berjalan bersama memasuki salon. Namun, alangkah terkejutnya saat mereka baru saja melewati pintu masuk, mereka langsung disuguhkan dengan pemandangan yang kurang menyenangkan.
"Mana bos kamu! Saya tidak percaya Bu Ayra bisa mempekerjakan karyawan yang tidak becus seperti kamu!" Seorang wanita berusia 40 tahunan ke atas tengah memarahi salah satu karyawan salon. Sementara itu, 3 karyawan lainnya yang ada di sana hanya diam tidak ada yang berani angkat bicara mau pun membela karyawan magang tersebut.
__ADS_1
"Astaga." Ayra mendengus kasar sambil menggelengkan kepalanya.
"Siapa orang itu?" tanya Rina pada Ayra, sahabat sekaligus bosnya tersebut.
"Itu Nyonya Chintya, istri salah satu pejabat yang paling berpengaruh di kota ini. Dia adalah pelanggan tetap di salon ini, tapi sayangnya dia sangat angkuh dan sombong, jadi tidak heran kalau kita melihat pemandangan seperti sekarang ini. Salah sedikit saja, dia pasti akan langsung marah besar," jelas Ayra.
Rina mengangguk mengerti. "Oh."
"Aku ke sana dulu." Wanita cantik berperawakan tinggi dan langsing tersebut segera berjalan menghampiri pelanggan penting yang masih saja asyik mengomeli salah satu karyawannya, diikuti oleh Rina dan Erika di belakangnya. Sebagai pemilik salon, Ayra merasa harus bertanggung jawab pada setiap masalah yang membuat pelanggannya tidak nyaman.
"Selamat siang Nyonya Chintya." Ayra menyapa pelanggan tersebut dengan sopan dan lemah lembut.
"Nah, Bu Ayra, untung Anda cepat datang. Saya mau protes dengan kinerja salah satu karyawan Anda, Bu. Lihat, masa dia mendandani saya sampai saya terlihat lebih tua seperti ini," protesnya. Dari ekspresi wajahnya, terlihat jelas bahwa dia masih sangat marah dan kesal.
Setelah tahu apa sumber permasalahannya, Ayra pun memberi kode pada karyawan itu untuk menyingkir dari sana, takut membuat amarah bu Chintya semakin terpancing jika melihatnya.
Setelah nyonya Chintya duduk kembali di kursinya, Ayra pun memberi kode pada Rina untuk maju.
"Aku?" tanya Rina dengan berbisik. Dia tidak menyangka Ayra akan membiarkan dia yang menangani klien penting tersebut.
"Iya, kamu. Siapa lagi?" Ayra balas dengan berbisik pula. "Ayo maju, aku percaya kamu bisa."
"Kalau aku membuat kecewa Nyonya Chintya bagaimana?" Hal itu yang sangat dikhawatirkan oleh Rina sehingga dia tidak berani menuruti perintah Ayra begitu saja. Dia sangat takut membuat pelanggan penting tersebut lari dan tidak mempercayai salon Ayra's Beauty lagi.
"Tidak akan. Aku tahu betul seperti apa kemampuanmu. Aku tahu kamu pasti bisa membuat Nonya Chintya takjub dengan hasil keterampilan makeup kamu."
"Tapi-"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapi, Rina. Di tempat kerja aku adalah bosmu, di rumah aku baru sahabatmu, jadi karena sekarang kita ada di tempat kerja, kamu harus menuruti apa kataku. Mengerti?"
Karena tidak punya pilihan lain, Rina pun segera menuruti perintah Ayra. Dengan perasaan deg-degan dia mulai mengambil cairan makeup remover untuk menghapus makeup tebal yang menempel di wajah nyonya Chintya.
Kurang lebih 20 menit kemudian. Rina sudah selesai merias wajah nyonya Chintya. Semua orang yang ada di sana cukup tegang melihat ekspresi wanita itu. Pasalnya, setelah karyawan tadi membuatnya kecewa, dia nampaknya hanya diam saja dan tidak pernah lagi tersenyum. Dan sekarang, dia menatap pantulan wajahnya di cermin dengan ekspresi datar.
Rina menelan ludahnya dengan kasar seraya melirik ke arah Ayra. Memang ini yang sangat aku takutkan, Ayra. Kamu sih yang memaksaku untuk merias nyonya Chintya. Kamu lihat sendiri 'kan dia sepertinya tidak puas dengan hasil riasanku. Batinnya.
Saat nyonya Chintya memutar badan, Rina langsung menundukkan kepalanya. Sebelum nyonya Chintya mulai memarahinya, dia memang sudah mempersiapkan diri.
"Ibu Ayra, siapa dia?" Nyonya Chintya menunjuk Rina menggunakan ekor matanya. "Kenapa saya baru melihat dia di sini?"
"Dia adalah karyawan baru di salon ini, Nyonya, dan hari ini merupakan hari pertama dia masuk bekerja disini," jawab Ayra.
"Oh, ya?" Nyonya Chintya menatap Rina yang masih menunduk dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lalu apa alasannya sehingga Bu Ayra berani mempercayakan karyawan baru untuk menangani masalah riasan saya. Bu Ayra tahu 'kan saya orangnya seperti apa?" Wanita itu kembali bertanya disertai ekspresi yang sulit ditebak.
"Itu karena saya tahu Anda orangnya seperti apa, Nyonya, dan saya juga percaya akan kemampuan karyawan saya, makanya saya menyuruh dia untuk memperbaiki riasan Anda. Dia bukan hanya sekedar karyawan baru saya saja di salon ini, melainkan dia juga merupakan sahabat terbaik saya. Jauh sebelum dia datang ke kota ini, dia juga sempat memiliki usaha salonnya sendiri yang dia jalankan selama bertahun-tahun," jelas Ayra.
Nyonya Chintya terdiam beberapa saat. "Oh, pantas hasil riasannya bisa sebagus ini." Ungkapannya itu sontak membuat Rina kembali mengangkat kepalanya.
Ayra tersenyum. "Apakah Anda puas dengan hasilnya, Nyonya?"
"Tentu saja saya puas. Sangat puas malah," jawabnya. "Permisi, saya sangat terburu-buru. Sedikit lagi saya telat menghadiri acara penting." Dengan cepat nyonya Chintya bergegas pergi meninggalkan salon Ayra.
Selepas kepergian nyonya Chintya, Ayra beserta karyawan yang lainnya bersorak gembira lalu memeluk Rina. Mereka semua sangat bangga dan takjub pada kemampuan merias Rina. Nyonya Chintya tadi benar-benar terlihat sangat cantik dan awet muda berkatnya, berbanding terbalik dengan riasannya yang pertama tadi. Selama bertahun-tahun, nyonya Chintya sama sekali tidak pernah memuji karyawan mana pun kecuali Rina. Rina lah yang pertama kali mendapatkan pujian dari wanita itu.
Singkat cerita, karena Nyonya Chintya sangat puas dan takjub dengan hasil karya Rina pada wajahnya, sampai-sampai keesokan harinya wanita itu mengajak para teman-temannya untuk datang ke salon Ayra hanya agar mereka semua bisa dandani oleh Rina satu per satu. Sejak saat itu, nama Rina mulai terkenal di kalangan istri pejabat dan konglomerat sebagai perias hebat dan berbakat.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...