Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 6 - Dasar Istri Tidak Becus!


__ADS_3

Sore ini Rina menutup salonnya lebih awal dari sebelumnya. Sebenarnya masih ada pelanggan yang datang berkunjung ingin melakukan rangkaian perawatan, tapi Rina menolak dan memintanya untuk datang lagi besok jika pelanggan tersebut mau. Hari ini Rina ingin beristirahat lebih awal karena dia sudah merasa tidak nyaman pada area perut bagian bawahnya.


Rina naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat setelah meminum vitamin yang diresepkan oleh dokter Ricko kemarin. Sekarang ini dia tengah mencari posisi berbaring yang nyaman agar rasa nyeri di perutnya segera menghilang. Setelah menemukan posisi yang pas, dia pun mulai memejamkan matanya.


Belum 10 menit Rina beristirahat, tiba-tiba suara Anton mengejutkannya. "Aku butuh uang."


Sontak Rina membuka matanya. Ternyata sekarang ini anton sudah berdiri di samping tempat tidur. Apakah tadi aku ketiduran sehingga tidak menyadari kedatangan bang Anton?


Rina terdiam sejenak. Dia tahu betul jika moment seperti ini pasti akan datang, saat Anton pulang untuk meminta uang padanya.


"Kenapa kamu malah bengong? Aku bilang aku minta uang. Aku butuh uang. Apa kamu tuli?" hardik Anton. Nada suaranya sudah naik 1 oktaf dari sebelumnya.


"I-iya, Bang. Tunggu sebentar." Rina beranjak turun dari tempat tidur, lalu mengambil dompetnya di dalam lemari. "Ini, Bang," katanya lagi sambil menyerahkan uang pada Anton yang baru saja dia keluarkan dari dalam dompetnya.


Anton membulatkan matanya lebar-lebar. Dia tidak percaya Rina hanya memberinya selembar uang 50 ribuan saja. "Apa ini, Rina? Uang segini buat apa? Kamu jangan coba-coba mempermainkanku, ya?"


"Tidak, Bang. Aku mana berani mempermainkan Abang. Hari ini pendapatanku memang tidak seberapa, Bang. Abang tahu sendiri 'kan kalau aku tidak bisa lagi bekerja seperti sebelum-sebelumnya karena aku sedang hamil, dan kata dokter kondisi kandunganku juga sangat lem-"


"Diam kamu!" Rina tersentak kaget saat Anton membentak dan memotong ucapannya. "Tidak usah banyak bicara kamu! Aku tidak percaya kamu hanya menghasilkan uang segini dalam sehari!" Anton mendorong tubuh Rina agar bergeser dari hadapannya. Untungnya istrinya itu tidak sampai terjatuh ke lantai. Dengan perasaan marah dan kesal Anton mulai menggeleda seluruh isi lemari. Hampir semua pakaian yang tersusun rapi di dalam sana dia lemparkan ke lantai.

__ADS_1


"Bang Anton, tolong jangan buat pakaiannya jadi berantakan." Baru saja Rina ingin mencegah Anton melakukan hal itu, tapi Anton malah berbalik dan menatapnya dengan tajam.


"Diam kamu! Aku yakin, kamu pasti menyembunyikan uangnya di sini! Iya, 'kan?!" teriak Anton. Dia lalu lanjut menggeleda seluruh isi lemari, tas, dan laci seperti orang kesurupan. Hanya dalam waktu beberapa menit saja kamar mereka sudah sangat berantakan seperti kapal pecah, pakaian berserakan dimana-mana.


Tidak bisa menemukan apa yang dia cari dimana pun, Anton lalu lanjut mencari di bawah kasur, tapi hasilnya tetap sama saja. Nihil.


"Percuma, Bang. Abang cari dimana pun pasti tidak akan bisa menemukan apa-apa. Hari ini penghasilanku memang hanya segitu, memang tidak seberapa, Bang. Bersyukur karena kita masih punya sedikit uang untuk membeli makanan," ujar Rina.


Mendengar ucapan Rina, Anton nampak semakin kesal. "Dasar istri tidak berguna! Kenapa bisa kamu tidak becus mencari uang seperti ini, hah?!" Anton memaki Rina sambil mendorong kening Rina dengan jari telunjuknya. Tidak ada yang bisa Rina lakukan selain hanya berjalan mundur hingga punggungnya bersandar di dinding. Mau melawan pun tidak bisa, karena pasti Anton akan langsung memukulnya.


Rina mulai menangis. "Ampun, Bang. Abang tahu sendiri 'kan kalau aku sedang hamil, dan kondisi kandunganku juga lemah. Jadi hal itu tidak memungkinkan untuk aku bekerja seperti sebelumnya. Harusnya Abang bisa memaklumi itu."


"Mama!" Erika memeluk mamanya sambil menangis. "Papa, Papa jangan pukul Mama lagi." Gadis kecil itu mendongak menatap papanya yang sudah nampak kerasukan setan.


Anton yang tidak ingin putrinya melihat perlakuan kejamnya pada Rina pun segera menghentikan aksinya. Dengan cepat dia segera memutar badan dan pergi meninggalkan rumah, masih dengan perasaan kesal bercampur marah karena pabrik uangnya mengalami kemacetan.


"Ma, Mama tidak apa-apa, 'kan?" tanya Erika.


"Tidak apa-apa, Sayang." Rina menyeka air matanya lalu memeluk putrinya.

__ADS_1


Tidak berselang lama setelah Anton pergi, bu Marwah datang tergopoh-gopoh menghampirinya. "Astaga." Bu Marwah terkejut melihat sisa kekacauan yang ditinggalkan oleh Anton. "Kamu tidak apa-apa 'kan, Rina?" tanyanya kemudian.


"Tidak apa-apa, Bu."


"Syukurlah. Kalau begitu kamu duduk dulu." Wanita paruh baya itu segera menuntun Rina untuk duduk di pinggir tempat tidur. "Bagaimana, apa kamu melakukan seperti yang Ibu ajarkan sama kamu?" Pertanyaannya itu mendapatkan anggukan kepala dari Rina.


Rupanya, wanita paruh baya itu menggurui Rina dan menyuruhnya untuk menyembunyikan sebagian besar penghasilannya dan hanya memberikan sedikit pada Anton. Dalam keadaannya seperti sekarang ini, Rina tidak boleh tidak memiliki uang simpanannya sendiri, takut jika tiba-tiba terjadi apa-apa dan membutuhkan uang.


"Bagus. Ibu sebenarnya sangat kasihan melihat kamu yang setiap hari diperlakukan seperti ini oleh Anton. Apalagi kamu sedang hamil, kamu harusnya banyak istirahat, Nak, tapi Anton malah memaksamu untuk terus bekerja. Oh iya, apa tadi dia sempat memukulimu lagi?" Bu Marwah memeriksa kedua pipi, leher, dan kedua tangan Rina. Dia tahu persis jika Anton kerap kali melakukan kekerasan fisik pada wanita muda yang sedang duduk di hadapannya itu.


Rina tersenyum. "Tidak kok, Bu. Ibu tenang saja. Semuanya berjalan seperti yang kita rencanakan."


"Syukurlah." Bu Marwah merasa sangat lega. "Sebaiknya kamu istirahat Rina, biar Ibu yang membereskan semua sisa kekacauan ini."


"Terima kasih banyak, Bu. Maaf karena sudah terlalu banyak merepotkan Ibu."


"Tidak apa-apa, tidak usah sungkan. Ibu 'kan sudah menganggap kamu seperti anak Ibu sendiri," katanya bu Marwah, sambil tersenyum.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2