
Beberapa minggu kemudian
Semenjak pesta malam itu, Rina tidak pernah lagi bertemu dengan dokter Ricko. Hal itu sebenarnya cukup membuatnya lega, karena dia tidak perlu lagi merasa terbebani karena telah membuat nyonya Baskara dan putranya berdebat malam itu.
Siang ini saat Rina sedang beristirahat di ruangannya, tiba-tiba salah seorang karyawannya datang mengetuk pintu ruangannya di lantai 2.
Tok tok tok!
"Masuk!" teriak Rina.
"Selamat siang, Bu, maaf karena saya mengganggu waktu istirahat Anda," kata salah satu karyawan Rina di salon 'Oh My Beauty' miliknya.
"Ada apa, Mey?" tanya Rina pada gadis itu.
"Mm ... ini, Bu, di bawah ada kerabat ibu yang datang ingin bertemu dengan Ibu," kata Meysha.
"Kerabat saya?" Rina merasa sedikit bingung, setelah 2 tahun dia pindah dan menetap di ibukota, ini pertama kalinya ada kerabat yang datang mencarinya. Kerabat yang mana? Pikirnya penasaran.
"Iya, Bu. Kata orang itu dia adalah kerabat dekat Ibu dan Eri," jelas Meysha.
"Kerabat dekatku dan Eri? Siapa yah?" gumam Rina, bingung sekaligus penasaran. "Laki-laki atau perempuan?" tanyanya lagi.
"Laki-laki, Bu."
"Laki-laki," gumamnya lagi. "Ya sudah, kamu boleh turun sekarang, Mey. Katakan pada orang itu untuk menunggu saya sebentar."
__ADS_1
"Baik, Bu."
Setelah karyawan bernama Meysha tadi turun ke lantai bawah, Rina pun segera merapikan penampilannya. Tidak berselang lama dia juga segera turun ke lantai bawah untuk menemui laki-laki yang mengaku sebagai kerabat dekatnya dan Erika putrinya.
Sesampainya di lantai bawah, Rina melihat seorang pria sedang duduk membelakanginya di kursi tunggu pelanggan.
"Siapa ya?" gumam Rina, sambil terus berjalan menghampiri pria itu. "Selamat siang," sapanya saat sudah berdiri di belakang pria itu.
Mendengar Rina menyapanya, pria itu segera berbalik. Dia langsung berdiri dari duduknya sambil memasang wajah berbinar dan tersenyum. "Rina."
"Kamu-" Seketika Rina merasa sangat emosi. Orang yang selama ini sangat dia benci kenapa tiba-tiba bisa muncul di hadapannya. "Untuk apa kamu kemari?" Rina bertanya dengan nada ketus.
"Rina, kita sudah sangat lama tidak pernah bertemu, kenapa kamu malah ketus seperti itu padaku?" kata pria itu, yang tidak lain adalah Anton, mantan suami Rina.
"Aku tanya, untuk apa kamu datang kemari, hah?! Tidak usah basa-basi, katakan saja apa sebenarnya tujuanmu datang kesini?" Kali ini nada bicara Rina lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga menarik perhatian beberapa orang karyawan dan pengunjung yang datang ke salonnya.
Rina tersenyum sinis. "Cih, jadi setelah semua yang kamu perbuat, kamu masih menganggap bahwa kamu adalah seorang ayah."
Anton terdiam. Dia sadar kesalahannya di masa lalu teramat besar dan sulit bagi Rina untuk memaafkannya.
"Lebih baik kamu sekarang pergi dari sini, aku dan Erika sudah tidak punya urusan lagi denganmu." Rina berdiri menyamping sambil melipat kedua tangannya di depan dada karena malas melihat wajah mantan suaminya itu.
Melihat Rina mengusirnya, Anton masih saja terdiam. Gawat. Kalau Rina sampai mengusirku, aku harus pergi kemana? Uang yang aku bawa kabur paling hanya cukup untuk membiayai hidupku dua sampai tiga bulan ke depannya, selebihnya pasti tidak akan cukup. Batin Anton.
Rupanya, kesuksesan Rina yang sekarang sampai juga terdengar di telinga Anton. Mengetahui bahwa sekarang mantan istrinya sudah menjadi sukses dan kaya di kota lain, Anton pun segera menyusulnya ke sana. Dia rela meninggalkan sugar mommy-nya agar bisa bersatu kembali dengan mantan istri dan putri semata wayang mereka, Erika.
__ADS_1
Aku harus memikirkan cara agar Rina mau kembali rujuk denganku. Batinnya lagi.
"Kenapa diam saja?! Cepat pergi dari sini?! Atau aku akan memanggil satpam untuk membantumu menemukan pintu keluar gedung ini!" tegas Rina.
Tiba-tiba saja Anton menjatuhkan diri dan bersimpuh tepat di hadapan Rina. "Rina, tolong maafkan aku. Aku tahu aku banyak salah padamu dan Erika. Tolong maafkan aku, Rina. Tolong izinkan aku untuk bertemu dengan putri kita," pintanya mengemis di hadapan Rina.
Jika aku tidak mampu membuat Rina luluh padaku, aku harus menggunakan Erika untuk menyatukan kami kembali. Aku yakin, jika Erika yang meminta papa mamanya untuk bersatu lagi, Rina pasti tidak akan bisa menolak. Gumam Anton dalam hati. Rupanya pria licik itu sudah mengatur siasat.
"Jangan harap aku akan memaafkanmu semudah itu." Rina berkata dengan penuh penekanan. "Cepat pergi dari sini sekarang juga, atau akan akan benar-benar memanggil petugas keamanan untuk melemparmu keluar."
"Rina, aku-"
"Pak Rahman! Pak Budi!" teriak Rina. Dalam hitungan detik dua orang pria berbadan besar mengenakan seragam berwarna coklat muda muncul dari balik pintu kaca. Rupanya sedari tadi kedua satpam itu memang sudah bersiap untuk menerima perintah dari sang bos. Hanya dengan melihat tatapan dan gerakan tangan Rina dari balik dinding kaca depan, mereka bisa langsung mengerti bahwa mereka pasti mendapatkan perintah dari atasannya itu. Apalagi setelah mereka melihat bahwa Rina sangat tidak suka dengan kedatangan pria itu.
"Pak Rahman, Pak Budi! Seret orang ini keluar!" titah Rina dengan penuh emosi. Dia tidak sudi jika pria brengsyek dan tidak berguna itu menginjakkan kaki di tempatnya.
"Baik, Bu," jawab kedua satpam itu secara bersamaan. Dengan sigap kedua petugas berbadan tegap itu segera menyeret Anton keluar dari sana, tidak peduli Anton terus meronta seperti apa, kekuatan Anton tidak apa-apanya jika harus dibandingkan dengan keduanya.
Bruk! Anton jatuh tersungkur di halaman depan salon saat kedua petugas keamanan itu melemparnya.
"Auwh! Isht ...." Dibawah terik matahari, Anton meringis kesakitan saat merasakan lantai yang panas itu melukai sebelah sikunya.
"Pergi dari sini dan jangan coba-coba lagi muncul di hadapanku!" teriak Rina. Baru saja dia berbalik hendak memasuki salonnya, tiba-tiba suara teriakan putrinya membuatnya terkejut.
"Papa!" teriak Erika.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...