Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 25 - Nostalgia


__ADS_3

Selesai makan malam bersama, nyonya Baskara mengajak Rina untuk pergi ke salah satu ruangan yang ada di dalam mansion, sementara Ayra menemani anak-anak bermain. Sedangkan Ricko, dia naik ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Duduklah." Nyonya Baskara menyuruh Rina untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut. Ruangan yang penuh dengan pajangan berupa bingkai-bingkai berukuran besar yang sepertinya sudah berusia puluhan tahun. Bagaimana tidak, di foto itu nyonya Baskara masih terlihat muda bersama suami dan ketiga anak laki-lakinya. Di foto itu, Ricko masih terlihat sangat muda, sepertinya belum menginjak usia 20-an. Sementara kedua kakaknya sudah terlihat jauh lebih dewasa.


Sebenarnya bukan hanya foto itu saja, masih banyak foto-foto lain yang terlihat lebih lama lagi dari foto yang dipasang pada bingkai berukuran paling besar tersebut. Sebenarnya Rina ingin bangkit dari duduknya, h!endak melihat foto itu satu per satu dari jarak dekat agar terlihat semakin jelas, tapi karena nyonya Baskara terlihat mengeluarkan beberapa album foto dari dalam lemari, Rina pun mengurungkan niatnya dan memilih untuk duduk menunggu. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh nyonya Baskara padanya.


"Lihat ini. Semua Album ini berisi foto-foto lama." Nyonya Baskara meletakkan beberapa buah album foto di atas meja, tepat di hadapan Rina.


Rina tersenyum dan menatap sekilas wanita tua itu, lalu mengambil salah satu album yang warnanya terlihat paling usang. Sepertinya diantara puluhan album yang menumpuk di dalam lemari, album itulah yang paling tua. Rina bahkan bisa menebak jika usia album itu pasti jauh lebih tua dari dirinya.


Rina mulai membuka album foto tersebut. Yang pertama kali dia lihat adalah foto hitam putih seorang gadis yang tengah mengenakan gaun pengantin.


"Ini foto pernikahan Anda Nyonya?" tanya Rina, dan langsung mendapat anggukan beserta senyuman dari nyonya Baskara. "Fotonya masih hitam putih. Ini tepatnya tahun berapa?"


"Saya dan suami saya menikah tahun 1970-an. Kamu sudah pasti belum lahir waktu itu," jawab nyonya Baskara sambil terkekeh.

__ADS_1


Rina ikut tertawa. "Iya, Nyonya. Saya lahir tahun 90-an."


Saat Rina melanjutkan melihat foto-foto itu, pada halaman berikutnya nampak foto nyonya Baskara dan tuan Baskara saat menikah. Wajah tuan Baskara di masa muda terlihat sangat mirip dengan wajah Ricko.


Ketika Rina sedang melihat foto-foto keluarga mereka, nyonya Baskara tiba-tiba kembali bangkit dari duduknya dan mengambil album foto lain yang ada di dalam lemari. Album foto jadul dengan ukuran 3R yang terbuat dari plastik, tapi kondisinya masih sangat bagus karena disimpan dengan baik oleh nyonya Baskara.


"Apa kamu penasaran ingin melihat wajah Ricko saat masih bayi sampai dia berusia 5 tahun?" tanya nyonya Baskara. "Saat kecil, dia itu sangat lucu dan menggemaskan," tambahnya sambil tersenyum.


Nyonya Baskara lalu kembali duduk di samping Rina. Malam ini wanita tua itu terlihat sangat bersemangat sekali menunjukkan foto kenangannya di masa lalu pada Rina.


"Lucu sekali, Nyonya. Rasanya saya ingin sekali mencubit pipi gembilnya," kata Rina, lalu tertawa.


Selama beberapa puluh menit Rina melihat foto-foto keluarga nyonya Baskara. Sudah puluhan album foto yang wanita tua itu tunjukkan pada Rina, sambil menceritakan kembali moment-moment bahagia saat foto itu diambil. Kenangan masa mudanya yang begitu berharga bersama mendiang suami dan ketiga putranya tidak luput pula dia ceritakan pada Rina.


Namun, seiring berjalannya waktu, kehidupan nyonya Baskara yang awalnya nyaris dikatakan sempurna, perlahan-lahan mulai berubah seiring dengan meninggalnya tuan Baskara, serta anak-anaknya yang pergi satu per satu karena sudah memiliki kehidupan dan keluarganya masing-masing. Nyonya Baskara seolah ditinggal sendiri di dalam sangkar emasnya yang penuh dengan kemewahan. Masa tua yang kesepian dan menyedihkan tak bisa dicegah untuk datang menghampiri. Harta melimpah yang nyonya Baskara miliki rasanya tidak terlalu berperan penting untuk menjamin kebahagiaannya.

__ADS_1


Namun, kehidupan menyedihkan itu perlahan berubah saat istri Ricko meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan. Disaat itulah, Ricko menitipkan Aurora yang masih berusia 3 tahun untuk dirawat oleh nyonya Baskara. Sehingga dia tidak merasa kesepian separah sebelumnya.


"Apa kamu ingin tahu kenapa Aurora sangat benci menari dan tidak ingin mempelajarinya sampai kapan pun?" Nyonya Baskara menatap Rina lekat-lekat.


"Memangnya apa penyebabnya, Nyonya?" tanya Rina penasaran. Selama hampir 1 jam, dia sudah menjadi teman mengobrol dan pendengar yang baik untuk nyonya Baskara. Hal itulah yang membuat nyonya Baskara kini semakin menyukai Rina. Itu karena Rina tahu bagaimana caranya bersikap di hadapan orang tua seperti dirinya.


"Laura mengalami kecelakaan saat dia ingin kembali memulai karirnya sebagai penari. Karir yang sempat tertunda karena kehadiran Aurora di dalam kehidupan mereka," jelas nyonya Baskara.


"Astaga, ternyata itu alasannya. Kasihan sekali."


Kini nyonya Baskara kembali bercerita banyak tentang Ricko dan Aurora. Aurora yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu, juga Ricko yang sudah sepatutnya mendapatkan pengganti Laura dan ibu sambung untuk Aurora.


"Ricko itu orangnya susah sekali jatuh cinta, tapi begitu dia jatuh cinta, dia tidak akan mudah melepaskannya begitu saja. Dia akan terus berjuang sampai dapat," ujar nyonya Baskara. "Dulu, dia juga seperti itu pada Laura, dan setelah Laura meninggal, hingga detik ini sudah bertahun-tahun lamanya, tapi dia belum menemukan wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta lagi. Entah wanita mana nanti yang akan beruntung mendapatkan cinta putraku."


Entah mengapa Rina tiba-tiba saja merasa tersindir dengan ucapan nyonya Baskara barusan. Hal itu membuatnya jadi salah tingkah sendiri.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2