Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 8 - Kepergok Selingkuh


__ADS_3

Saat dalam perjalanan pulang, Rina terus menatap ke arah luar jendela mobil. Tidak terasa air matanya kembali menetes saat mengingat bahwa dirinya sudah menjadi seorang ibu yang gagal karena tidak becus menjaga janin yang ada di dalam kandungannya.


Ketika taksi yang dia tumpangi berhenti di lampu merah, dia tanpa sengaja melihat pemandangan yang membuatnya sangat terkejut. Untuk memastikan bahwa apa yang dia lihat itu nyata, dia sampai mengucek-ngucek matanya berkali-kali.


Benar, aku tidak salah lihat. Bukannya itu Bang Anton? Lalu siapa wanita yang sedang bersamanya itu? Kenapa mereka terlihat sangat mesra sekali? Rina bertanya-tanya dalam hati saat melihat Anton keluar dari dalam mobil mewah bersama dengan seorang wanita yang terlihat jauh lebih tua dari suaminya itu.


Apa jangan-jangan bang Anton berselingkuh? Dia sengaja mengencani tante-tante kaya raya untuk mendapatkan uang. Batinnya lagi mulai menerka-nerka. Apa jangan-jangan ini alasannya kenapa bang Anton sudah lama tidak pulang ke rumah? Kalau memang benar, bang Anton benar-benar sudah sangat keterlaluan. Aku masuk rumah sakit dan keguguran semua gara-gara dia. Dan selama aku dirawat di rumah sakit, dia sama sekali tidak pernah datang menjengukku. Jangankan menjengukku, menjaga Erika saja dia tidak mau. Ternyata dia malah sedang bersenang-senang dan berkencan bersama wanita lain. Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Seketika Rina merasa sangat emosi. Detik ini juga, dia ingin turun dari mobil untuk melabrak Anton bersama dengan selingkuhannya itu.


"Pak, saya turun di sini saja?" katanya pada bapak-bapak sopir taksi yang duduk di jok depan.


"Maaf, Bu, tapi dokter Ricko sudah mewanti-wanti saya untuk mengantar Ibu selamat sampai di tempat tujuan. Saya tidak berani bertanggung jawab kalau-kalau sampai terjadi sesuatu pada Ibu," kata sopir taksi tersebut.


Rina terdiam sejenak. Kenapa dokter Ricko sampai segitunya padaku? Memangnya aku ini siapanya? Tanyanya dalam hati. Ah, itu tidak begitu penting untuk dipikirkan sekarang. Yang terpenting sekarang adalah, melabrak bang Anton bersama dengan selingkuhannya itu. Tega-teganya dia mengkhianatiku setelah semua pengorbanan yang aku lakukan selama bertahun-tahun untuknya. Jika pada akhirnya dia ingin berselingkuh, lalu untuk apa selama ini dia selalu bersikeras tidak mau bercerai denganku?


"Kalau begitu tunggu sebentar ya, Pak. Saya turun di sini sebentar. Saya tiba-tiba ada sedikit urusan penting yang sangat mendesak dan harus segera saya selesaikan," jelas Rina.

__ADS_1


"Baik, Bu. Tapi jangan lama-lama ya, karena takutnya nanti dokter Ricko tiba-tiba menelepon saya dan menanyakan apakah saya sudah selesai mengantar Ibu atau belum," kata sopir taksi tersebut.


"Baik, Pak. Bapak tenang saja, jangan khawatir. Saya cuma sebentar kok," ucap Rina.


Dengan perasaan geram bercampur benci dan kesal, Rina turun dari taksi untuk menyusul Anton yang baru saja memasuki sebuah restoran mewah bersama tante-tante selingkuhannya itu. Begitu Rina memasuki restoran mewah tersebut, dia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Amarahnya semakin meluap-luap saat netranya menangkap pemandangan Anton tengah menci-umi punggung tangan kekasihnya itu.


"Bang Anton!" teriak Rina. Dengan napas memburu, dia menatap tajam dan benci ke arah suaminya itu. Saking marahnya, rasanya dia ingin mengangkat salah satu meja yang ada di restoran itu untuk menghantam kepala Anton, tapi urung dia lakukan karena teringat akan pesan dokter Ricko yang melarangnya untuk mengangkat beban berat.


Menyadari siapa yang memanggil namanya, Anton seketika membulatkan matanya lebar-lebar, lalu dengan cepat pamit pada kekasihnya itu. "Sayang, aku keluar sebentar, ya? Temanku sepertinya ingin bicara sesuatu padaku."


Di depan wanita itu Anton mengakui bahwa Rina adalah temannya, bukan istrinya. Rupanya, setelah dia menganggap bahwa Rina tidak bisa lagi menghasilkan uang yang cukup untuknya, Anton segera mencari pabrik uang baru yang dia anggap lebih menjanjikan dan lebih bisa menjamin kehidupannya ke depannya.


Ingin sekali rasanya Anton memukul Rina karena sudah berani mengganggunya, tapi dia tidak berani melakukan hal itu karena saat ini mereka sedang berada di tempat umum dan banyak orang yang melihat. Namun, jika sampai Anton kehilangan pabrik uang berjalannya yang baru dan itu semua disebabkan karena kemunculan Rina yang tiba-tiba, dia tidak akan pernah memaafkan istrinya itu.


"Bang, kamu itu benar-benar tidak punya malu, ya? Jelas-jelas kamu sudah kepergok selingkuh, tapi justru malah kamu yang marah sama aku." Rina tidak habis pikir bagaimana cara berpikir suami lak natnya itu. Jika pada umumnya laki-laki lain yang dipergoki oleh istrinya berselingkuh meminta maaf, ini justru malah marah-marah. Aneh.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, hah?" tanya Anton. "Asal kamu tahu, secepatnya aku akan menceraikan kamu. Sekarang aku sudah menemukan wanita yang jauh segala-galanya dari kamu. Dia lebih baik, punya banyak uang, dan tentunya lebih bisa membahagiakan aku dan menjamin kehidupanku di masa depan ketimbang kamu."


Mendengar pernyataan Anton, Rina merasa semakin geram dan sakit hati. "Oh jadi selama ini Abang hanya memanfaatkan aku, iya?"


"Tentu saja. Jika saja selama ini kamu tidak pandai mencari uang, sudah pasti sejak lama aku membuangmu," ucapnya dengan ekspresi meremehkan.


Kurang ajar. Batin Rina. Saking sakit hatinya, rasanya dia ingin merobek-robek mulut busuk Anton.


"Baik, kalau Bang Anton mau menceraikan aku silahkan, tidak ada masalah, memang itu yang aku inginkan sejak dulu." Rina melenggang pergi meninggalkan Anton setelah mengucapkan kalimat itu.


Rasa sedih yang menyelimuti hatinya karena kehilangan calon buah hatinya kini sudah tergantikan dengan rasa benci yang teramat besar pada Anton. Sekarang Rina memutuskan untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian itu.


Aku sama sekali tidak bersalah. Semua ini bukan salahku, melainkan salah bang Anton sepenuhnya. Dia yang sudah mendorongku malam itu sampai aku terjatuh, sehingga membuat kandunganku bermasalah. Setelah itu, dia juga yang memaksaku untuk tetap bekerja meski pun dia sudah tahu bahwa kandunganku sangat lemah, hingga pada akhirnya aku benar-benar kehilangan janinku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkan bang Anton. Sekarang aku baru tahu, alasan utama dia selalu bersikeras tidak mau bercerai denganku selama bertahun-tahun karena dia hanya ingin memanfaatkanku saja. Awas saja, suatu saat nanti aku pasti akan membalas semua perlakuan kasar dan buruknya itu padaku. Lihat saja nanti pria brengsyek.


BAM! Suara pintu mobil tertutup. Kini Rina sudah kembali masuk ke dalam mobil taksi yang menunggunya.

__ADS_1


"Jalan, Pak."


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2