Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 24 - Undangan Makan Malam


__ADS_3

Malam minggu kemudian. Malam ini Rina mendapat undangan makan malam dari nyonya Baskara. Tentunya itu adalah bagian dari rencana Ayra yang ingin membuat Rina dan Ricko saling mengenal lebih dekat.


Sebenarnya Rina ingin menolak undangan makan malam itu karena jika dia pergi ke sana, dia pasti akan bertemu dengan dokter Ricko, tapi karena Rina merasa tidak enak pada nyonya Baskara yang telah berbaik hati mengundangnya, dia pun terpaksa menerima undangan itu.


Malam ini Rina tampil cantik dan anggun dengan balutan gaun sederhana dan tertutup, dipadu dengan make up natural yang membuatnya terlihat semakin cantik alami. Dia tidak ingin penampilan yang mencolok malam ini, mengingat undangan yang akan dia hadiri hanyalah undangan makan malam biasa. Malam ini Rina juga membawa Erika untuk ikut bersamanya sesuai dengan permintaan Aurora.


Sesampainya di mansion mewah itu, kedatangan Rina dan Erika langsung disambut dengan hangat oleh nyonya Baskara, Ayra, dan juga Aurora. Begitu Erika dan Aurora bertemu, Aurora langsung menarik tangan Erika untuk masuk ke dalam mansion. Dia ingin menunjukkan pada Erika rumah barbie yang baru saja dibelikan oleh papanya untuknya.


"Terima kasih karena kamu sudah meluangkan waktumu untuk datang kemari, Rina," kata nyonya Baskara. Raut wajah wanita berambut serba putih itu terlihat sangat bersemangat dan berseri-seri. "Oh iya, saya sudah mencoba mempraktekkan beberapa resep masakan yang ada di buku resep, dan malam ini kamu harus makan banyak dan mencoba semuanya." Nyonya Baskara berkata dengan senyuman merekah di bibirnya.


"Terima kasih kembali, Nyonya. Anda sebenarnya tidak perlu repot-repot," kata Rina sopan dan sedikit sungkan.


"Tidak, saya sama sekali tidak repot. Justru sekarang saya merasa sangat senang karena kamu mau datang kemari bersama putrimu. Itu artinya, tenaga saya tidak habis sia-sia karena berkutat di dapur sejak sore," kata nyonya Baskara lalu tertawa kecil. "Dan saya akan lebih senang lagi jika kamu dan Erika mau sering-sering berkunjung kemari," tambahnya kemudian sambil kembali tertawa.


"Iya, Aunty Maya benar, Rin. Dia pasti akan sangat senang jika kamu mau meluangkan waktumu untuk sering-sering berkunjung kemari bersama Erika. Jadinya 'kan Aunty Maya bisa punya teman mengobrol dan Aurora punya teman bermain," tambah Ayra sambil tersenyum.

__ADS_1


Nyonya Baskara kembali tertawa mendengar ucapan keponakannya itu. "Ya, ya, ya. Yang dikatakan Ayra benar. Selama ini saya memang sering merasa kesepian karena tidak punya teman bicara. Ricko sibuk, Ayra juga sibuk. Kalau kamu memiliki waktu senggang, saya akan sangat merasa senang jika kamu bersedia berkunjung kemari," katanya lagi lalu tertawa.


Mendengar ucapan kedua wanita itu, Rina tertawa dengan sedikit dipaksakan. Ini saja dia datang karena terpaksa, tidak enak jika dia harus mengecewakan orang sebaik nyonya Baskara dengan menolak undangan makan malam dari beliau. Sepertinya ke depannya Rina harus memikirkan alasan yang masuk akal untuk menolak undangan nyonya Baskara secara halus. Bukan apanya, Rina hanya tidak ingin sering-sering bertemu dengan putra si pemilik mansion jika dia sering menginjakkan kaki di tempat mewah itu.


Setelah mengobrol basa-basi selama beberapa saat, mereka berlima pun akhirnya sama-sama duduk di meja makan. Berbagai macam makanan enak nan menggugah selera sudah terhidang di atas meja makan. Nyonya Baskara duduk di kursi paling atas, sementara Rina duduk di samping kanannya bersama Erika, sedangkan Ayra dan Aurora duduk di samping kirinya. Melihat orang yang sangat ingin dia hindari tidak ada di sana, Rina merasa cukup lega. Sepertinya malam ini dia akan menikmati masakan nyonya Baskara dengan tenang.


"Coba cicipi makanan ini, Rina." Nyonya Baskara meletakkan beberapa potong makanan dengan masakan jenis berbeda di piring Rina.


Melihat perlakuan nyonya Baskara padanya, seketika Rina teringat akan mendiang ibu mertuanya. Dulu, saat Rina pertama kali dibawa oleh Anton untuk berkunjung ke kediaman orang tua pria itu, mendiang ibu dan ayah Anton juga memperlakukannya dengan sangat baik, seperti yang dilakukan oleh nyonya Baskara barusan.


"Terima kasih, Nyonya," ucap Rina, lalu mulai mencicipi masakan nyonya Baskara untuk yang pertama kalinya. "Em, Nyonya, masakan Anda enak sekali. Bagaimana cara memasak makanan seenak ini?" puji Rina. Masakan nyonya Baskara memang benar-benar lezat, tidak kalah dari masakan para koki di hotel bintang lima.


Rina mengangguk sopan sambil kembali memaksakan untuk tertawa. Sungguh dia tidak ada maksud untuk belajar memasak pada nyonya Baskara, tapi bagaimana cara menolak maksud baik wanita tua itu. Rina takut nyonya Baskara akan tersinggung jika dia menolak.


Saat mereka baru saja memulai acara makan malamnya, tiba-tiba suara seorang pria muncul dari arah belakang Rina. "Maaf, aku terlambat. Boleh aku ikut bergabung?"

__ADS_1


Semua orang menoleh kecuali Rina. Itu karena dia memang sudah tahu siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Ricko, putra bungsu si pemilik mansion.


"Duduklah, Rick. Kami baru saja memulainya," kata nyonya Baskara pada putranya.


Ketika Ricko hendak duduk di samping Aurora, tiba-tiba saja Ayra langsung berdiri dari duduknya dan membawa piringnya ke arah Ricko. "Kak Ricko, kamu duduk di situ saja, biar aku yang duduk di sini."


"Oh, ya sudah. Terima kasih." Ricko tersenyum pada Ayra. Tidak ada penolakan darinya karena memang itu yang dia mau, duduk berhadapan dengan sang pujaan hati.


"Mama pikir kamu sedang lembur, Rick, jadi kami tidak menunggumu untuk makan malam bersama," kata nyonya Baskara.


"Tidak, Ma. Hari ini pekerjaan Ricko selesai lebih cepat, jadi Ricko bisa pulang untuk makan malam di rumah," jawab Ricko.


Sebenarnya pekerjaannya di perusahaan belum benar-benar selesai. Dia sengaja menundanya agar bisa ikut makan malam bersama Rina.


Sepanjang mereka makan malam bersama, Rina terus fokus pada makanan di piringnya. Dia tidak berani menatap ke arah depan, tepatnya ke arah Ricko. Sementara itu, hal yang berkebalikan justru dilakukan oleh Ricko, sesekali dia menatap Rina diam-diam sambil tersenyum tipis. Rupanya hal itu tidak lepas dari perhatian nyonya Baskara.

__ADS_1


Kalau aku lihat, sepertinya Ricko menyukai Rina, hm .... Batin nyonya Baskara.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2