
"Aku juga ingin mendaftarkan Aurora di tempat les itu. Tolong bagikan juga nomor kontak guru les itu padaku," kata Ricko. Dia mengulurkan layar ponselnya ke arah Rina.
"Hah?" Rina hanya bisa melongo saat melihat dokter Ricko memberikan kode bar akun whatsapp miliknya untuk dipindai oleh Rina.
Melihat Rina malah melongo, Ricko kembali mengulangi ucapannya. "Aku bilang, aku juga ingin mendaftarkan Aurora di tempat les Erika. Bisakah kamu membagikan nomor kontak pemilik tempat les itu juga padaku?"
"Tapi ... yang Erika ikuti adalah les menari, Dok, dan setahu saya Aurora tidak suka menari. Makanya sejak awal dia tidak mau ikut les menari bersama Erika," jelas Rina.
"Oh, jadi ternyata les menari, ya? Aku pikir ... les yang lain." Ricko menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal, lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Gagal sudah usahanya untuk mendapatkan nomor kontak Rina.
Astaga, ternyata les menari, aku pikir tadi les yang lainnya. Kalau lesnya les menari, sudah pasti Aurora tidak akan mau mengikutinya. Dia sangat benci menari sejak dia masih kecil dan dia juga tidak ingin mempelajarinya sampai kapan pun. Gumam Ricko dalam hati. Seketika ingatannya terbang ke masa lalu.
"Ehkm. Permisi. Bisa bergeser dari tempat duduk saya?" Seorang pria yang tidak lain adalah pria bernama Ayman tadi menyuruh Ricko untuk pindah dari kursinya.
Ricko mendongak menatap Ayman. Rasanya bibirnya ingin berkata seperti ini pada pria itu, 'duduk saja di tempat yang kosong. Kursi mana pun adalah milik siapa pun yang mendudukinya, bukan yang pernah meninggalkannya lalu ingin kembali lagi untuk menempatinya'. Tapi karena Ricko malas berdebat, dia pun memilih untuk mengalah dan segera bangkit dari duduknya. Anehnya, bukannya kembali duduk di kursinya semula, Ricko malah berjalan mendekati wanita yang duduk di samping kiri Rina. Rina dan Ayman hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh pria itu.
"Permisi, Bu. Boleh bertukar tempat duduk? Saya ingin duduk di samping ..." Ricko tidak meneruskan ucapannya dan malah menatap Rina sambil tersenyum.
Aku? Kenapa dia malah menatapku seperti itu. Batin Rina.
__ADS_1
"Ekhm." Rina berdehem. Jantungnya seketika berdetak kencang tanpa dia minta. Menyadari dokter Ricko begitu terang-terangan ingin mendekati dirinya, begitu juga dengan Ayman yang memang sudah melakukan hal itu sejak lama, rasanya Rina ingin berpindah tempat duduk saja, tapi saat melihat Erika dan Aurora yang sebentar lagi tampil membuatnya mengurungkan niat untuk berpindah tempat duduk. Apalagi kursi yang lain sudah terisi semua, tidak ada lagi kursi kosong lain yang bisa dia tempati.
Kini Ricko sudah duduk tepat di samping kiri Rina, dan wanita tadi sudah berpindah tempat duduk di samping kanan Ayman, tepatnya di tempat duduk Ricko semula.
Melihat Ricko tidak kehabisan cara untuk duduk di dekat Rina, Ayman menjadi kesal sendiri. Tadinya dia mengusir Ricko karena dia tidak ingin pria itu menjadi saingannya untuk mendekati wanita yang sudah lama dia kejar, tapi melihat kegigihan Ricko mendekati Rina, Ayman langsung mencapnya sebagai rival.
Merasakan ada aura-aura persaingan di sisi kiri dan kananya, Rina langsung memegangi tengkuknya yang sudah terasa meremang. Kok perasaan aku tidak enak ya? Batinnya.
Acara sebentar lagi dimulai, terlihat Erika dan Aurora berdiri di barisan terdepan di antara teman-temannya yang lain. Kedua anak itu tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah orang tuanya. Tidak lupa juga Rina dan Ricko mengabadikan momen tersebut, hingga sampai pada moment kedua gadis kecil itu selesai menyanyi bersama teman-temannya.
Di pertengahan acara, saat kepala sekolah tengah berpidato di atas podium. "... Saya ucapkan juga terima kasih banyak kepada Bapak Ricko Baskara, putra bungsu keluarga Baskara, karena beliau telah menjadi penyumbang terbesar di sekolah ini selama bertahun-tahun!" Tangan kepala sekolah itu menunjuk sopan ke arah Ricko, sehingga semua pandangan tertuju pada pria itu. "Kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk Pak Ricko!"
Prok prok prok! Suara tepuk tangan begitu riuh memenuhi seisi aula.
"Pak Ricko, dimohon kesediannya untuk naik ke atas panggung untuk menyampaiakan sepatah dua kata ... .... ...."
Ricko tersenyum sambil mengangguk sopan ke arah pria berkumis tebal yang berdiri di balik podium, menandakan bahwa dia menerima undangan dadakan untuk berpidato dari bapak kepala sekolah tersebut. Ricko lalu berjalan dengan penuh wibawa dan percaya diri naik ke atas panggung.
Tidak berselang lama kemudian, Ricko pun mulai berpidato. Semua pasang mata kini hanya tertuju padanya tanpa terkecuali. Yang dia sampaikan tidak begitu panjang dan bertele-tele, isinya hanya tentang memberikan semangat belajar untuk para murid yang menuntut ilmu di sekolah itu. Ricko juga menyampaikan bahwa bagi anak-anak yang berprestasi, mereka akan mendapatkan beasiswa hingga ke jenjang tingkat perguruan tinggi jika anak tersebut bisa terus mempertahankan prestasinya.
__ADS_1
Sepanjang Ricko berpidato, suara tepuk tangan kerap kali memenuhi aula, saking luar biasa dan takjubnya orang-orang dengan apa yang dia sampaikan. Bahkan Rina sendiri pun mengakui betapa luar biasanya pria itu. Kini Rina tahu sedikit hal lagi tentang pria itu.
.
.
Siang menjelang, acara akhirnya selesai. Semua orang tua murid sudah diperbolehkan untuk pulang, kecuali para murid sendiri harus tetap tinggal untuk mengikuti lomba antar kelas.
Saat Rina berjalan keluar meninggalkan Aula, Ricko terus mengikutinya dari belakang. Sebelum sampai di parkiran, Rina terlihat berjalam terburu-buru sambil berbicara dengan seseorang di telepon. Sepertinya wanita itu begitu buru-buru ingin pergi ke suatu tempat.
Baru saja Ricko berniat untuk mengikuti mobil Rina dari belakang, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. "Pak Ricko."
Ricko berbalik. Dia tidak menyangka bahwa pria yang tengah menyapanya saat ini adalah Ayman.
"Kamu. Mau apa kamu?" tanya Ricko.
Mau apa dia? Apa dia ingin mengajakku berduel? Atau, dia mau memperingatkanku untuk tidak mendekati Rina. Gumam Ricko dalam hati. Ricko ingat betul jika tadi Ayman sempat menatapnya dengan tatapan permusuhan.
Ayman pun kemudian mengatakan maksud dan tujuannya dia menghampiri Ricko. Dia ingin meminta maaf atas ketidak sopanannya tadi.
__ADS_1
"Oh, tidak masalah. Kalau begitu saya pergi dulu. Saya buru-buru." Dengan cepat Ricko segera berlari menuju mobilnya. Dia melihat mobil Rina baru saja keluar meninggalkan lokasi sekolah. Sepertinya Ricko masih memiliki kesempatan untuk mengikuti mobil Rina dari belakang.
B e r s a m b u n g ...