Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 17 - Permintaan Erika


__ADS_3

"Ma, Mama sayang sama Eri, 'kan?" tanya Erika.


"Kamu ini bicara apa, Sayang? Tentu saja Mama sangat sayang sama kamu. Apakah selama ini perhatian dan kasih sayang yang Mama berikan masih kurang menurut kamu?" Rina balik bertanya pada putri tersayangnya itu.


Erika terdiam sesaat, lalu kemudian mengatakan sebuah kalimat yang membuat Rina sangat terkejut dan tidak menyangka. "Kalau Mama sayang sama Eri, apa Mama mau mengabulkan permintaan Eri, Ma?"


Rina langsung menatap tajam ke arah Anton setelah mendengar pertanyaan putrinya. Rina yakin, Anton pasti sudah mengatakan sesuatu untuk mencuci otak Erika.


Karena Rina tidak langsung menjawab pertanyaannya, Erika kembali mengulang pertanyaan yang sama. "Ma, kenapa Mama diam saja? Kalau Mama memang sayang sama Eri, Apa Mama mau mengabulkan permintaan Eri, Ma?"


Rina tersenyum, lalu menangkup kedua pipi putrinya dengan kedua tangannya. "Erika sayang .... Apa pun permintaan kamu akan Mama kabulkan, Nak. Asalkan permintaan kamu itu masuk akal dan tidak merugikan orang lain," jawab Rina. "Sekarang katakan, memangnya apa permintaan kamu, Sayang?"


"Eri mau, Papa hidup bersama kita lagi seperti dulu, Ma. Kasian Papa, dia disini tidak punya tempat tinggal, juga tidak punya uang untuk menyewa kontrakan. Rumah kita 'kan besar, Ma, dan banyak kamar yang kosong. Apa salahnya kalau Papa menempati salah satunya," jawab Erika. "Mama mau 'kan, Ma, mengabulkan permintaan Eri. Mulai sekarang Eri mau memiliki keluarga yang lengkap, seperti teman-teman Eri yang lain, yang punya mama dan papa." Erika menatap mamanya dengan penuh harap. Dia sangat berharap mamanya tidak menolak permintaannya.


Rina kembali terdiam. Saat ini dia merasa sangat geram karena ulah Anton. Aku yakin, pria brengsyek itu pasti sudah mencuci otak putriku. Batin Rina.


Dan benar saja kecurigaan Rina, Anton memang sengaja ingin memanfaatkan putrinya yang polos untuk membuat Rina kembali ke dalam pelukannya.


"Ma, kenapa Mama masih belum juga menjawab pertanyaan Eri, Ma?" desak Erika. Gadis kecil itu sepertinya sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan jawaban pasti dari mamanya.


Rina menatap putrinya dalam-dalam. "Erika sayang, bukannya Mama tidak sayang sama kamu, Nak, tapi Mama benar-benar tidak bisa mengabulkan permintaan kam-" Belum selesai Rina bicara, Erika sudah mengamuk dan menangis duluan.


"Mama jahat! Mama tidak sayang sama, Eri! Huhu ...!" Erika melempar tasnya ke tanah lalu menangis sekeras mungkin seraya berlari memeluk Anton.

__ADS_1


"Cup cup cup. Sudah Sayang, jangan menangis." Anton membawa Erika ke dalam pelukannya. Pria licik itu tersenyum dalam hati. Bagus Eri, kamu memang anak papa sayang. Kamu melakukan semuanya persis seperti yang papa katakan padamu.


Rina mendengus kasar melihat putrinya mengambek. Sebelumnya Erika tidak pernah seperti ini, tapi entah mengapa setelah bertemu dengan Anton, sikap anak gadis itu berubah, jadi cengeng dan terlalu memaksakan kehendaknya.


Rina berjalan mendekat untuk membujuk putrinya, tapi sayangnya Erika tetap tidak mau dibujuk olehnya. Gadis kecil itu masih saja menangis dan merajuk di dalam pelukan Anton. Bahkan Erika sempat berkata, jika Rina tidak mau membawa Anton pulang untuk tinggal bersama mereka, Erika akan ikut kemana pun Anton pergi. Rina yang tidak punya pilihan lain lagi mau tidak mau tetap harus membawa Anton untuk pulang dan tinggal di rumahnya. Semua ini dia lakukan demi kebahagiaan putrinya, bukan karena dia memberikan kesempatan pada Anton untuk kembali lagi padanya.


"Baiklah, Sayang, mulai sekarang Papa kamu akan tinggal bersama kita," kata Rina. Dia tersenyum dipaksakan di hadapan putrinya.


"Hore!!!" Erika lompat-lompat kegirangan. Akhirnya mamanya mau mengabulkan keinginannya.


Sementara itu, di dalam hati Anton, rasa senangnya justru puluhan kali lipat dari rasa senang Erika. Akhirnya, cita-citanya terwujud juga. Tidak sia-sia dia meninggalkan sugar mommy-nya yang kaya raya itu hanya untuk kembali pada Rina, pabrik uangnya yang telah lama hilang.


Mulai detik ini, kehidupan Anton akan jauh lebih berwarna dari sebelumnya. Hidup selama 2 tahun bersama mommy Chintya yang usianya 20 tahun lebih tua, tentu saja membuat hidup Anton terasa hampa dan tidak bahagia. Memang semua keinginannya dengan mudah dikabulkan oleh sugar mommy-nya itu, tapi sayangnya untuk urusan ber cinta, dia harus mematikan lampu terlebih dahulu sebelum memulainya. Terkadang dia merasa geli sendiri melihat wajah wanita tua itu.


.


.


Wah, Rina benar-benar sudah kaya raya sekarang. Batin Anton, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan bercat putih yang memiliki banyak pajangan mewah di dalamnya. Di luar sana dia juga bisa melihat ada kolam renang di balik dinding kaca. Membayangkan dirinya bersantai di sana sambil berjemur dan menikmati cemilan membuat Anton senyum-senyum sendiri. Pasti rasanya sangat menyenangkan. Pikirnya.


"Ikut aku." Suara Rina seketika menyadarkan Anton dari khayalannya. Melihat punggung Rina yang berjalan menjauhinya, Anton segera menyusul langkah mantan istrinya tersebut.


"Dia mengajakku pergi kemana?" gumam Anton.

__ADS_1


Setelah mereka melewati ruangan demi ruangan, kemudian yang terakhir melewati pintu belakang samping ruang dapur, sampailah mereka di sebuah ruangan yang terletak di samping teras belakang.


"Tempat apa ini?" tanya Anton saat dia dan Rina sudah berdiri di depan pintu sebuah ruangan.


"Ini kamar kamu," jawab Rina, masih dengan ekspresi dingin dan datar.


Anton tidak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar di luar ekspektasinya. Loh, kenapa kamarku malah di ruang belakang?


"Kenapa diam saja? Cepat masuk dan ganti baju. Di depan banyak pekerjaan yang menunggu kamu," ketus Rina.


Apa? Pekerjaan? Apa maksudnya ini?


"Ri-Rina, apa maksud dari semua ini? Kenapa kamu seolah-olah ingin memperlakukanku seperti-"


"Pembantu!" Rina langsung memotong ucapan Anton. "Iya, aku memang ingin menjadikan kamu sebagai pembantu. Kenapa? Keberatan? Kalau kamu keberatan, silahkan angkat kaki dari rumah ini," ketus Rina.


Anton kembali terdiam. Sejujurnya dia tidak terima Rina ingin menjadikannya sebagai pembantu, tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Yang berkuasa di rumah ini adalah Rina, dia tidak punya hak sedikit pun. "Ti-dak. Aku sama sekali tidak keberatan."


"Cepat ganti baju sana. Enak saja kamu mau numpang hidup gratis di sini. Memangnya kamu siapa?" kata Rina. Setelah itu dia meninggalkan Anton yang masih berdiri mematung di tempat. Anton sadar jika sekarang Rina sudah banyak berubah, bukan lagi Rina yang dulu yang bisa dia manfaatkan sesuka hati.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini sih?! Akh!!!" Anton berteriak dengan kesal sambil menendang pintu. "Auwh! Si*al!" Dia memegangi kakinya yang kesakitan.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2