Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 27


__ADS_3

Begitu mendengar suara seorang pria di belakangnya, Ricko segera berbalik. Dia menatap Anton yang sekarang sedang menatap tidak suka padanya.


Sementara itu, Anton yang melihat ada seorang pria datang berkunjung ke rumah Rina tentu saja merasa curiga, jangan-jangan pria yang datang itu merupakan saingannya untuk mendapatkan cinta Rina kembali.


Cukup lama kedua pria itu saling menatap dan saling melempar tatapan tidak suka satu sama lain. Padahal, saling mengenal saja mereka masih belum, tiba-tiba saja begitu bertemu keduanya langsung seperti musuh bebuyutan.


Bu Marwah yang melihat reaksi tidak baik antar keduanya saat pertama kali bertemu pun segera angkat suara. Sebelum kekacauan terjadi, dia harus mencegahnya secepat mungkin. Meski pun bu Marwah yakin bahwa Ricko tidak akan memulai keributan duluan karena dia adalah orang berpendidikan, tapi bu Marwah khawatir Anton yang akan melakukan hal demikian.


"Anton, cepat bersihkan ruang depan, jika Rina melihat masih ada ruangan yang kotor saat dia turun, dia pasti akan kembali memarahimu," titah bu Marwah.


Seketika Anton merasa harga dirinya jatuh di hadapan Ricko. Dengan statusnya yang sebagai papa kandung Erika tapi diperlakukan seperti seorang pembantu di rumah mantan istrinya sendiri, tentu saja membuatnya sangat malu.


Sebenarnya Anton tidak diperlakukan seperti seorang pembantu di rumah Rina, lebih tepatnya dia memang benar pembantu baru di rumah itu, menggantikan posisi bibi yang masih mengambil jatah cuti hingga detik ini. Padahal, sudah beberapa minggu Anton berada di rumah itu, tapi si bibi masih belum juga kembali.


Anton sadar, Rina pasti sengaja memperlakukannya dengan tidak baik, itu agar dia segera angkat kaki dari rumah itu, tapi bukan Anton namanya jika dia menyerah segampang itu. Mau seburuk apa pun Rina memperlakukannya, dia akan tetap tinggal di rumah itu sampai kapan pun. Toh masih ada Erika yang bisa dia manfaatkan untuk membujuk Rina agar mau kembali lagi padanya.


"Anton, kenapa kamu diam saja?" tanya bu Marwah saat melihat pria itu masih saja berdiri di tempat seperti patung. "Cepat sana, lakukan tugasmu," titahnya kemudian. Mau tidak mau Anton terpaksa menyingkir dari hadapan Ricko.


"Bu, kenapa tadi Ibu menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan ART?" tanya Ricko penasaran sekaligus tidak mengerti. "Dia mantan suaminya Rina 'kan, papanya Erika? Dan ... apakah mereka sudah rujuk? Kenapa dia bisa tinggal satu atap dengan kalian di sini?"


Bu Marwah mendengus kasar kemudian menjawab semua pertanyaan Ricko satu per satu hingga jelas tanpa membuat yang mendengarnya salah paham.


"Begitulah cerita yang sebenarnya Nak Dokter," kata bu Marwah mengakhiri penjelasannya.


Setelah mendengar semua cerita dari bu Marwah, Ricko akhirnya bisa tersenyum lega. Ternyata semua tidak seperti yang dia bayangkan.

__ADS_1


"Ma, ayo, Ma. Ayo kita turun." Suara Erika terdengar dari arah tangga.


"Tante Rina, ayo ...." Dan sekarang suara Aurora juga ikut terdengar.


"Iya, iya, tapi pelan-pelan. Kalau kita jatuh bagaimana?" kata Rina. Sepertinya kedua gadis kecil itu tengah memaksanya untuk turun ke lantai bawah.


Ketika kaki mereka bertiga bertolak dari anak tangga terakhir, Erika dan Aurora langsung menarik Rina menuju meja makan dimana Ricko dan bu Marwah berada saat ini.


"Duduklah, sarapan dulu," kata bu Marwah pada Rina. "Anak-anak, ayo ikut duduk," ajak bu Marwah. Wanita paruh baya itu pun kemudian menuang 3 cangkir teh beserta sepiring kue untuk mereka bertiga.


"Selamat pagi, Dok." Rina menyapa dokter Ricko dengan canggung. Seandainya Erika dan Aurora tidak memaksanya untuk keluar kamar kemudian turun ke lantai bawah, dia pasti lebih memilih untuk mengeram di atas kasur selama seharian.


"Pagi," balas Ricko sambil tersenyum menatap wajah baru bangun tidur wanita pujaannya itu. Pagi ini Rina tetap terlihat sangat cantik meski pun tanpa polesan make up sedikit pun di wajahnya.


"Aurora, jadi minggu lalu kamu pergi ke kebun binatang tapi tidak mengajakku?" kata Erika.


"Maaf aku lupa. Memangnya kalau aku mengajakmu kamu akan pergi, Eri?" tanya Aurora.


"Tentu saja. Setiap hari minggu aku merasa sangat bosan di rumah. Mamaku selalu saja tidak mau keluar kamar," jawab Erika.


"Anak-anak, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan bersama saja?" usul Ricko.


"Mau mau," jawab Erika dan Aurora bersamaan. Kedua gadis kecil itu terlihat sangat senang dan bersemangat.


"Tapi Tante Rina juga harus ikut jalan-jalan, ya. Karena kalau tidak, Aurora pasti akan menangis dan tidak akan mau berhenti sampai Tante Rina mau ikut," kata Aurora sedikit mengancam membuat semuanya tertawa.

__ADS_1


Karena tidak ingin membuat Aurora dan Erika bersedih, Rina pun terpaksa mengiyakan, meski pun sebenarnya dia merasa tidak enak karena harus pergi bersama pria yang selalu ingin dia hindari akhir-akhir ini.


.


.


1 Jam Kemudian.


Rina dan anak-anak sudah selesai bersiap-siap, sementara Ricko sedari tadi memang menunggu mereka di lantai bawah bersama bu Marwah. Anton yang melihat mereka berempat berjalan bersama menuju mobil Ricko pun segera menanyakannya pada bu Marwah.


"Bu, mereka semua mau pergi kemana?" tanya Anton penasaran.


"Jalan-jalan."


"Jalan-jalan kemana, Bu?"


"Kebun binatang," jawab bu Marwah singkat, lalu berbalik meninggalkan Anton yang masih berdiri di teras.


"Apa? Jadi mereka mau jalan-jalan ke kebun binatang." Baru saja Anton berniat untuk ikut bersama mereka, tapi begitu dia menoleh, mobil Ricko sudah melaju menuju pintu gerbang.


"Rina! Rina! Eri! Aku ikut!" teriaknya sambil berlari mengejar mobil Ricko. Namun percuma saja karena sekarang mobil Ricko sudah melaju di jalan raya.


"Si*al!" Anton menendang ke sembarang arah karena kesal. "Aku tidak akan membiarkan pria itu merebut Rina dariku. Aku harus mencari cara untuk menyusul mereka," gumamnya kemudian, lalu mencari taksi untuk dia tumpangi.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2