Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 14 - Trauma Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Ayra, nyonya Baskara, dan Aurora menatap keduanya dengan tatapan bingung. "Sebenarnya mana jawaban yang benar?" tanya ketiganya.


"Ah ... itu ...." Rina bingung harus menjawab apa. Dari sekian banyak pasien yang pernah ditangani oleh dokter Ricko selama 2 tahun terakhir, Rina tidak pernah menyangka bahwa ternyata dokter Ricko masih mengingat dirinya.


"Jawaban yang benar ya 2 tahun yang lalu," jawab Ricko. "Aku tidak tahu kenapa dia memberikan jawaban yang berbeda. Mungkin karena dia sudah lupa bahwa 2 tahun lalu aku pernah menjadi dokternya dan dia pernah menjadi pasienku."


Mendengar ucapan dokter Ricko, Rina jadi merasa sedikit bersalah. Dia seperti orang yang tidak tahu terima kasih, padahal waktu itu dokter Ricko sudah berbaik hati mau merawat dan menjaganya melebihi pasien lain, bahkan saat pulang pun masih dipesankan taksi dan diantar pulang dengan selamat sampai rumah. Apalagi waktu itu Rina hanya sendirian di rumah sakit karena bu Marwah dia suruh pulang untuk menjaga Erika sedangkan Anton sebagai suaminya lebih memilih untuk bersenang-senang dengan selingkuhannya ketimbang menjaga Erika atau bahkan menunggui dirinya di rumah sakit.


"It-itu ... sa-saya tidak bermaksud seperti itu, Dok. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda," jelas Rina. "Tadinya ... tadinya saya berpikir bahwa Dokter Ricko sudah lupa pada saya, jadi ... jadi-"


"Jadi kamu ingin berpura-pura tidak mengenal saya? Begitu?" Dokter Ricko memotong ucapan Rina. Nada bicara pria tampan itu terdengar sedikit sewot.

__ADS_1


Rina menunduk. Dia bingung harus menjelaskan seperti apa lagi. Dokter Ricko kenapa sih? Kenapa hal seperti ini harus dia permasalahkan dan seolah-olah ingin dibesar-besarkan? Aneh sekali. Batin Rina.


"Sudah Rick." Nyonya Baskara memutuskan untuk menengahi keduanya, apalagi saat melihat ekspresi Rina yang sudah tidak seperti biasanya. "Kamu ini apa-apaan sih? Kenapa kamu bicara seperti itu pada Rina? Memangnya kenapa kalau dia berpura-pura lupa sama kamu? Apa masalahnya? Kalian 'kan bisa berkenalan lagi, tapi bukan sebagai dokter mau pun sebagai pasien. Tadinya Mama memanggil kamu ke sini karena Mama ingin mengenalkan kamu sama dia, tapi Mama tidak pernah menyangka bahwa kamu akan menekan Rina seperti itu hanya gara-gara masalah sepele seperti ini." Nyonya Basakara menjeda ucapannya sejenak. Sepertinya penyakit cerewetnya kembali kumat. "Rick, Mama tanya baik-baik sama kamu, memangnya kamu dan Rina pernah menjalin hubungan? Kenapa hal seperti itu seolah-olah ingin kamu jadikan sebagai masalah besar?"


Mendengar pertanyaan nyonya Baskara, Rina dan Ricko seketika membulatkan mata.


"Ti-dak. Bu-kan seperti itu, Ma." Dokter Ricko menjawab dengan sedikit gelagapan.


"Lalu?" Nyonya Baskara mendongak menatap putranya.


Ricko tersenyum kecut sambil membuang pandangannya ke arah lain, tidak disangka dia malah menangkap pemandangan bahwa sekarang para tamu yang hadir di sana mulai melihat ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Astaga. Apa ini? Memalukan sekali.

__ADS_1


"Ma, ini bukan waktu yang tepat untuk kita berdebat. Malu dilihat orang. Lagi pula, Ricko baru pulang tadi siang, apa Mama mau membuat putra Mama pergi lagi dari rumah?" bisik dokter Ricko. Tidak ada yang tahu apa yang dia katakan selain hanya mereka berdua, author dan para pembaca sekalian.


Nyonya Baskara mendengus kasar. Tentu saja dia tidak rela jika putranya pergi lagi. Di usianya yang semakin hari semakin tua, dia hanya ingin dekat dengan anak-anak dan cucu-cucunya, tapi Ricko dan Aurora lah harapan dirinya satu-satunya, anak-anaknya yang lain semuanya sangat sibuk meniti karir dan bisnis mereka masing-masing di luar negeri dan sudah bertahun-tahun tidak pernah kembali.


"Pergi lah, Rick, ajak para tamu-tamu itu untuk berbicara. Mama berdiri di sini saja, Mama takut kecapekan kalau berjalan kesana kemari," kata nyonya Baskara. Ini pertama kalinya dia mengalah pada putranya. Dia tidak ingin lagi egois seperti dulu karena dia sadar bahwa hartanya yang bergelimang itu tidak cukup untuk mengobati rasa kesepiannya jika dirinya ditinggal lagi oleh Ricko dan hanya ditemani oleh Aurora.


Melihat sang ibunda mengalah, Ricko tersenyum dalam hati. Baru kali ini dia menang debat dari sang Mama. Apa karena sekarang nyonya Baskara sudah tua, jadi tidak punya banyak tenaga lagi untuk berdebat. Begitu pikir Ricko.


Ricko lalu berjalan melewati Rina, tapi Rina tidak berani lagi menatap wajah pria itu. Entah mengapa ada yang aneh menurutnya dengan tatapan pria itu ketika menatap dirinya, seperti sebuah tatapan ketertarikan. Rina sangat tidak ingin hal itu terjadi.


Selama 2 tahun dirinya menjanda, sudah banyak pria yang mendekatinya, dari yang biasa-biasa saja sampai yang tampan dan kaya raya, dia tetap menolak dan tetap bersikeras untuk tidak menjalin hubungan dengan pria mana pun lagi. Masa lalunya dengan Anton cukup membuatnya trauma, mengingat dulu saat dia dan Anton masih berpacaran, Anton begitu baik, sangat perhatian dan sangat sayang padanya. Tidak ada sedikit pun bayangan bahwa Anton adalah pria tak berguna yang tidak bertanggung jawab. Karena mereka hanya berpacaran selama 4 bulan sebelum menikah, Rina tidak begitu mengenal karakter Anton dengan baik, hingga pada akhirnya setelah beberapa tahun mereka menikah, Rina baru sadar jika ternyata dia sudah salah pilih pendamping hidup.

__ADS_1


Saat ini aku hanya ingin fokus membesarkan putriku saja, tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan pria mana pun. Batin Rina.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2