Janda Kesayangan Dokter Duda

Janda Kesayangan Dokter Duda
Bab 19 - Janda Kualitas Premium


__ADS_3

Mobil milik Rina mulai memasuki area parkir sekolah. Pagi ini dia berangkat dan menyetir sendiri karena jarak dari tempat tinggalnya menuju sekolah Erika cukup dekat. Kecuali jika Rina ingin menghadiri acara resmi tertentu atau saat jasanya akan disewa oleh para istri pejabat atau bahkan artis ternama, barulah Rina berangkat ke tempat klien diantar oleh sopir dan ditemani oleh asistennya, asisten Cleo namanya, laki-laki setengah matang yang juga memiliki bakat merias yang handal seperti Rina.


Kembali ke keadaan Rina saat ini, setelah memarkirkan mobilnya bersama mobil para orang tua murid yang lain, Rina pun segera keluar dari mobil bersama Erika. Pagi ini Rina tampil cantik dengan setelan kasual berwarna mocca yang membuatnya terlihat semakin anggun, sedangkan Erika pagi ini mengenakan kostum berwarna pink putih yang memang sudah disiapkan oleh wali kelasnya jauh-jauh hari. Itu karena gadis kecil itu akan tampil paduan suara bersama teman-teman sekelasnya yang lain di atas panggung saat pembukaan acara.


Kala Rina menggandeng tangan Erika menuju aula tempat dimana acara ulang sekolah diselenggarakan, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang anak perempuan dari arah belakang mereka. "Eri!"


Rina dan Erika yang mendengar suara teriakan yang tidak asing itu segera berbalik. Nampak Aurora dengan wajah cerianya berlari menghampiri mereka. Gadis kecil itu juga mengenakan kostum yang sama dengan kostum yang dikenakan oleh Erika. Itu karena mereka berdua sama-sama berasal dari kelas 3 dan juga sama-sama akan tampil bersama teman-teman lainnya di atas panggung.


"Aurora!" Erika mengembangkan senyuman saat melihat sahabatnya berlari ke arahnya. Begitu kedua anak itu bertemu, keduanya lalu berpegangan tangan, tertawa bersama, dan melompat sambil berputar bersama-sama. Rina yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa mengembangkan senyumannya.


"Sayang, kamu ke sini ditemani siapa? Oma?" tanya Rina pada Aurora.


"Aurora ditemani Papa, Tante. Itu Papa sedang bicara sama Pak Kepala Sekolah." Aurora menunjuk ke arah dimana dokter Ricko sedang mengobrol dengan seorang pria berkumis tebal yang tidak lain adalah kepala sekolah mereka.


"O-oh." Seketika Rina menjadi salah tingkah sendiri. Rupanya yang menemani Aurora pagi ini bukan nyonya Baskara seperti biasanya, melainkan pria yang selama ini ingin dia hindari.


Kenapa dia masih ada di sini? Bukankah seharusnya dia sudah kembali ke kota X. Batin Rina. Kota X adalah kota tempat tinggal Rina dulu sebelum dia merantau ke ibukota. Dimana dokter Ricko juga menjadi dokter di salah satu rumah sakit yang ada di sana.


"Mm ... Aurora." Rina sedikit membungkukkan badannya mensejajarkan kepalanya dengan kepala Aurora.


"Iya, Tante. Ada apa?" tanya Aurora menatap Rina.


"Mm ... bukannya Papa kamu sibuk, ya? Kenapa sekarang dia bisa punya waktu untuk menemani kamu?" tanya Rina. Rasa penasaran yang tidak tertahankan membuatnya berani menanyakan hal itu.


"Karena sekarang saya bukan lagi dokter di rumah sakit mana pun, jadi sekarang saya bisa bebas menemani putri saya pergi kemana pun. Termasuk menghadiri acara ulang tahun sekolah pagi ini." Seketika Rina langsung salah tingkah. Bagaimana tidak, yang menjawab pertanyaannya bukanlah Aurora, melainkan orang yang bersangkutan, yaitu dokter Ricko sendiri. "Bagaimana? Apa lagi yang kamu ingin ketahui tentang saya? Silahkan tanyakan secara langsung, mumpung saya ada di sini," tambah dokter Ricko. Dia menatap janda kualitas premium yang ada di hadapannya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ti-dak ada lagi, Dok." Rina langsung membuang pandangannya ke arah lain, tidak berani menatap pria yang ada di hadapannya.


"HADIRIN SEKALIAN MOHON PERHATIANNYA!" Tiba-tiba suara pengumuman keluar dari alat pengeras suara. "UNTUK PARA MURID YANG HADIR BESERTA PARA ORANG TUANYA! SILAHKAN MEMASUKI AULA SEKARANG JUGA KARENA ACARA SEBENTAR LAGI AKAN DIMULAI! TERIMA KASIH!"


Begitu suara pengumuman itu selesai, Erika dan Aurora langsung menarik papa dan mama mereka masing-masing menuju Aula.


"Mama duduk di sini, ya."


"Papa juga duduk di sini, ya."


Kedua gadis kecil itu sangat kompak sekali. Mereka mendudukkan mama dan papa mereka dengan posisi berdampingan di barisan kursi paling depan.


"Duduk di sini Papa, jangan kemana-mana," kata Aurora.


"Mama juga jangan kemana-mana, karena sebentar lagi kami akan tampil untuk acara pembukaan," tambah Erika.


Anak-anak apa-apaan sih? Membuatku malu saja. Rina segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


Saat acara sebentar lagi di mulai, tiba-tiba seorang pria mengenakan jas berwarna navy langsung mengisi kursi kosong yang menjadi penghalang antara Rina dan dokter Ricko.


"Hai, Bu Rina, ketemu lagi," sapa pria yang baru duduk tersebut sambil tersenyum. "Oh iya, seingat saya beberapa bulan lalu saat kita sama-sama menghadiri rapat komite, kita juga duduk bersebelahan seperti ini, ya?" tambah pria itu. Dia adalah Ayman, salah satu orang tua murid yang bersekolah di sana.


Rina memaksakan diri untuk tersenyum sambil berkata, "Iya, Pak Ayman. Kebetulan sekali."


Setahu Rina, pria yang baru duduk tersebut juga tertarik padanya. Maka dari itu Rina merasa harus menjaga jarak dengan pria tersebut, beserta pria lain mana pun yang mencoba untuk mendekati dirinya.

__ADS_1


Mendengar ucapan pria itu, seketika Ricko menoleh. Dia menatap pria yang duduk di antara dirinya dan Rina dengan intens. Jika aku lihat-lihat, aku jelas lebih tampan dari pria ini. Kenapa Rina mau duduk berdekatan dengannya sedangkan denganku dia malah menjaga jarak. Gumam Ricko dalam hati. Tidak bisa dia pungkiri bahwa dia merasa tidak suka dengan hal tersebut.


Pria yang bernama Ayman tadi kemudian mengajak Rina mengobrol ini dan itu. Rina yang awalnya ingin mengabaikan justru terbawa suasana, apalagi saat pria itu mulai membahas mengenai anak mereka yang sama-sama sekolah di sana, lalu menanyakan dimana Rina memasukkan Erika untuk les tambahan, dan lain sebagainya. Sampai-sampai dokter Ricko merasa telinganya gerah mendengar Rina selalu meladeni pertanyaan pria itu.


"Ekhm!" Ricko berdehem keras sehingga membuat orang-orang yang duduk di sekitarnya seketika menatap ke arahnya, termasuk Rina dan Ayman.


Menyadari apa yang baru saja diperbuatnya ternyata mampu mengundang perhatian orang lain sehingga banyak pasang mata yang tertuju padanya, Ricko akhirnya memutuskan untuk berpura-pura batuk saja. Dengan begitu pandangan orang lain pasti akan langsung beralih darinya.


"Uhhuk! Uhhuk! Ekhm. Tenggorokanku gatal sekali." Ricko meraih botol air mineral yang tersedia di hadapannya lalu menenggak isinya hingga hampir habis. Sedari tadi perasaannya memang sudah gerah, akhirnya dia menemukan air untuk mendinginkannya.


"Bu Rina, sepertinya saya juga tertarik untuk mendaftarkan anak saya di tempat les anak Ibu," kata Ayman.


"Oh, itu hal bagus Pak Ayman, jika Anda mau, saya bisa memberikan nomor kontak bu Tiffany, pada Anda," kata Rina menawarkan. Bu Tiffany adalah nama pemilik tempat les sekaligus guru les Erika.


"Ya, tentu saja saya sangat membutuhkannya, Bu Rina," jawab Ayman. "Kalau begitu, boleh bagikan nomor kontak bu Tiffany ke whatsapp saya?"


"Ya, tunggu sebentar, Pak."


Setelah Rina selesai membagikan nomor kontak bu Tiffany pada Ayman, tiba-tiba ponsel pria itu berdering. "Bu Rina, saya permisi keluar sebentar untuk menjawab telepon."


"Iya, Pak. Silahkan," jawab Rina.


Kini kursi yang tadinya diduduki oleh Ayman kembali kosong, Ricko yang melihat hal itu merasa tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan cepat dia segera mengangkat pantatnya dan berpindah tempat duduk di kursi kosong tersebut.


"Aku juga ingin mendaftarkan Aurora di tempat les itu. Tolong bagikan juga nomor kontak pemilik tempat les itu padaku," kata Ricko.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2