
Jika pada umumnya wanita menangis dan bersedih karena hubungan rumah tangganya kandas, Rina justru sebaliknya. Dia malah merasa sangat lega setelah Anton ingin menceraikannya. Akhirnya, hari yang dia tunggu-tunggu tiba juga, ketika dia bisa terbebas dan lepas dari jerat pria tak berguna itu.
Dulu, saat Rina meminta cerai pada Anton, pria itu selalu mengancam akan membawa pergi Erika ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Rina jika Rina selalu memaksa ingin bercerai dengannya. Anton sangat tahu jika Erika adalah kelemahan Rina, jadi dia selalu menggunakan putri mereka untuk mengancam Rina. Rupanya Anton hanya menggertak, dia tidak mau bercerai dengan Rina karena dia tidak ingin kehilangan pabrik uangnya. Setelah dia menemukan pabrik uang yang baru yang lebih menjanjikan, dia dengan senang hati melepaskan Rina pergi.
Setetes pun air mataku tidak akan pernah aku jatuhkan untuk menangisi perpisahanku dengan pria brengsyek itu. Batinnya. Saking bencinya pada Anton, Rina bahkan merasa enggan untuk menyebut nama Anton meski pun dalam hati.
"Pak, bisa minta tolong antar saya ke SD Pelita Harapan? Saya ingin menjemput anak saya, Pak, sepertinya dia sudah pulang."
"Baik, Bu."
.
.
Setelah menjemput Erika, Rina pun segera mengarahkan si sopir taksi untuk menuju lokasi rumah kontrakannya.
"Terima kasih banyak ya, Pak." Rina berkata sebelum dia turun dari taksi bersama Erika.
"Sama-sama, Bu," jawabnya. Begitu Rina turun dari mobilnya, sopir taksi tersebut langsung mengabari dokter Ricko. "Pak Ricko, pasien Anda sudah saya antar dengan selamat sampai di tempat tujuan," ucapnya saat berbicara dengan dokter Ricko di telepon. Dia bahkan sempat memotret Rina dan Erika dari belakang lalu dia kirimkan pada dokter Ricko sebagai bukti.
Sementara itu, begitu Rina sampai, dia tidak langsung masuk ke dalam rumah kontrakannya sendiri, dia justru langsung menemui bu Marwah, ada suatu hal yang sangat penting yang ingin dia bicarakan dengan wanita paruh baya tersebut, karena saat dalam perjalanan pulang tadi, dia sempat mengambil satu keputusan yang sangat penting untuk kehidupannya ke depannya bersama Erika.
"Ibu sangat senang bisa melihat kamu pulang dalam kondisi yang sudah jauh lebih membaik dari sebelumnya, Rina." Bu Marwah memeluk Rina sebentar. "Padahal Ibu baru saja selesai membuat kue untuk dibawa ke rumah sakit, Ibu ingin memberikannya pada dokter Ricko sebagai ucapan terima kasih. Eh, tahu-tahunya kamu sudah pulang tanpa memberi kabar lebih dulu."
Rina menatap bu Marwah. "Ibu sepertinya tidak senang melihat saya pulang," katanya lalu tertawa.
__ADS_1
"Eh, bukan seperti itu. Tentu saja Ibu sangat senang kamu sudah pulang dan sudah sehat seperti sedia kala, tapi Ibu juga merasa harus berterima kasih pada dokter Ricko. Selama kamu dirawat, dia sudah menjaga dan merawat kamu dengan baik," ujar bu Marwah.
"Bukannya itu memang sudah tugasnya ya, Bu, sebagai seorang dokter," balas Rina, lalu kembali tertawa. Dia tertawa seolah tidak memiliki beban sama sekali. Jelas saja, beban hidup terberatnya selama ini disebabkan oleh Anton, dan sekarang Anton ingin bercerai dengannya, tentu saja hal itu membuat Rina sangat senang dan lega.
Bu Marwah mencubit pelan lengan Rina. "Kamu ini."
"Bu, sebenarnya setelah pulang dari rumah sakit saya langsung ke sini karena saya ingin bicara sesuatu sama Ibu. Saya mau pamit, Bu," ungkap Rina, dan itu sukses membuat bu Marwah terkejut sekaligus sulit percaya mendengarnya.
"Kamu mau pergi kemana, Rina? Jangan bercanda."
"Saya ingin memulai kehidupan baru di tempat jauh, Bu, di tempat sahabat lama saya," jawabnya.
Bu Marwah terdiam sejenak, lalu berkata, "Anton?"
"Tunggu tunggu tunggu." Bu Marwah berjalan mundur lalu duduk di salah satu kursi yang ada di belakangnya. Pernyataan Rina ini cukup membuatnya terkejut. "Ibu masih belum bisa percaya, Rina, kamu akan pergi jauh dan Anton sendiri yang ingin menceraikan kamu. Rasanya ini semua seperti mimpi. Selama ini yang Ibu tahu Anton tidak bisa hidup tanpa kamu. Hidupnya terlalu bergantung pada kamu, dia laki-laki yang tidak bisa diandalkan, mana bisa dia bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri."
Rina kembali tersenyum. "Ibu tenang saja, sekarang dia sudah menemukan wanita yang lebih segala-galanya dari saya, Bu."
"Apa maksud kamu?" tanya Bu Marwah tidak mengerti.
"Begini, Bu, tadi saat saya sedang dalam perjalanan pulang ke sini, saya secara tidak sengaja melihat dia bersama dengan wanita lain. Setelah saya hampiri, ternyata wanita itu memang benar selingkuhannya, dan dia lebih memilih wanita itu ketimbang saya, Bu," jelas Rina.
Bu Marwah mendengus, lalu sejurus kemudian dia tersenyum sambil menatap Rina. "Sebenarnya Ibu merasa prihatin kalian akan bercerai, tapi Ibu juga merasa sangat lega jika mengingat betapa kejamnya Anton terhadap kamu selama ini. Mungkin ini memang sudah menjadi jalan yang terbaik untuk kalian. Oh iya, apa Erika sudah tahu tentang hal ini?"
"Belum, Bu. Rencananya nanti akan saya beri tahu dia pelan-pelan. Erika masih terlalu kecil untuk memahami rumitnya masalah orang dewasa."
__ADS_1
Hening sesaat. Keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Namun tidak lama kemudian, bu Marwah kembali tersenyum dipaksakan. Sebenarnya yang membuatnya sedih bukan karena Rina dan Anton akan bercerai, tapi dia bersedih karena Rina dan Erika akan pergi, tidak lagi menjadi tetangganya. "Hiduplah lebih baik setelah ini, Nak. Jangan lupa untuk terus memberi kabar pada Ibu, ya?"
"Iya, Bu, tentu. Apa pun yang terjadi, saya tidak akan hilang komunikasi sama Ibu."
Sebelum kembali ke kontrakannya sendiri, Rina sempat memeluk bu Marwah erat-erat, dan mereka sama-sama meneteskan air mata perpisahan. Rina sangat berterima kasih atas kebaikan bu Marwah selama ini. Selama bertahun-tahun bu Marwah lah satu-satunya orang yang selalu sigap mengulurkan tangan saat dirinya membutuhkan bantuan. Wanita paruh baya itu juga sudah menggantikan peran orang taunya yang telah lama tiada.
Setelah memasuiki rumah kontrakannya, Rina segera mengemasi barang-barangnya beserta barang-barang Erika. Meski pun keadaannya masih belum stabil, tapi Rina tetap nekat ingin pergi jauh dengan membawa serta putrinya, takutnya suatu saat nanti Anton masih akan kembali dan mengganggu kehidupannya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk lepas dari jerat Anton.
.
.
Saat dalam perjalanan menuju terminal, Rina sempat menghubungi salah satu sahabat lamanya. Tujuan utamanya saat ini adalah pergi ke kota besar dimana sahabatnya yang bernama Ayra itu tinggal.
"Halo Ayra."
"Halo, Rin. Apa kabar kamu?" tanya Ayra begitu dia menjawab panggilan telepon dari Rina.
"Kabarku, Baik," jawab Rina. "Kamu?"
"Kalau aku, kabarku seperti sebelum-sebelumnya, selalu luar biasa," jawab Ayra, lalu tertawa. Dari dulu dia memang selalu seperti itu.
Setelah berbasa-basi dengan Ayra, Rina pun mengutarakan niatnya bahwa sekarang ini dia sedang dalam perjalanan menuju terminal. Dia ingin meminta bantuan Ayra untuk menampung mereka sementara waktu begitu dia dan Erika sampai di kota besar. Untungnya Ayra adalah sahabat yang baik, dia dengan senang hati mau menampung Rina dan Erika di rumahnya begitu keduanya sampai di kota tempat tinggalnya.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1