
dalam perjalanan ke butik Dania, Bagas terus fokus mengemudikan mobilnya. sesekali ia melirik ke arah Raisya yang sedang menghafal banyak ayat suci Alquran.
iya, almarhum pak Supri memang mendidik Raisya taat beragama. maka tak heran jika ia banyak menghafal Al-Qur'an begitu pula dengan tafsir artinya.
"dek, kakak lihat kau terlalu cantik. apa ada yang pernah mendekati dirimu?" tanya Bagas penasaran.
"mendekati dalam hal apa? jika berpacaran tentu tidak". jawab Raisya
"mengapa tidak?" tanya Bagas
"pertama aku masih kecil, kedua agama melarang, ketiga almarhum ayah Supri tidak mengizinkan aku berdekatan dengan laki-laki, keempat ayah crish dan ibu Nia juga menjagaku dengan ketat karena aku anak perempuan jadi ayah takut aku kenapa-napa jadi tidak ada yang berani mendekatiku". jawab Raisya menjelaskan secara rinci.
"apa Abang boleh menambahkan aturan untukmu? tak lain dari yang lain Abang pun ikut khawatir akan parasmu yang MasyaAllah Itu". ucap Bagas yang masih fokus mengemudi.
"aturan apa bang? jika aturan itu masih dalam batasan aku akan melakukan tapi jika diluar nalarku aku pastikan aku tidak akan melakukan." jawab Raisya tegas.
"Abang ingin kau memakai niqab. bukan tanpa alasan dek, untuk dirimu juga. untuk melindungi dirimu dari kejaran-kejaran pria tak baik diluar sana." ucap Bagas jujur.
"termasuk Abang? hehehe". jawab Raisya bercanda.
"iya, Abang pun tak baik. makannya tolong jaga dirimu. lindungi dirimu. jangan sampai Abang terkam kau disini saat ini tanpa Abang berpikir jika dirimu masih SMP". ucap Bagas menakuti Raisya.
"jika Abang menginginkan aku, meminta lah pada orangtuaku. tentu apa yang menjadi pilihan mereka adalah yang terbaik untukku karena sampai kapanpun aku akan berbakti pada mereka yang menyayangiku".
sontak jawaban Raisya membuat Bagas semakin bersemangat untuk mendapatkannya.
"oke, Abang akan bilang pada ayah dan ibumu. tahun depan kau SMA kan? itu artinya kita bisa menikah. sama seperti ayahmu yang menikahi ibumu sejak kelas 3 SMA". Bagas memikirkan bagaimana caranya ia meminta izin crish yang ia tahu pasti crish melarangnya.
"ayah kan menikahi ibu kelas XII kenapa aku harus menikah di kelas X. lagupun ayah kemarin mau memasukkan aku ke pesantren Abah Syauqi". ucap raisya yang tak ambil pusing akan kata-kata Bagas.
....
"assalamualaikum, Bu". ucap raisya sampai di ruangan kerja Dania di butik.
__ADS_1
"waalaikumsalam sayang. sudah pulang?. sudah makan siang?". tanya Dania lembut pada gadisnya.
"iya Bu hari ini guru rapat jadi pulang dipercepat. hmm aku belum makan Bu. ayo kita makan bersama Bu. aku yang akan mentraktir ibu. hehe tentu pakai uang yang ayah berikan padaku sebelum sekolah tadi". Raisya cengengesan dan Dania menggeleng kepalanya melihat putri sulungnya itu.
"Abang gak ditraktir dek? kan Abang yang anter kamu". ucap Bagas yang masih dibutik.
"loh kakak pikir udah pulang kamu dek. ya udah ayo makan siang sama-sama".
"baiklah calon ibu mertua". jawaban Bagas sontak membuat Dania melotot.
"jangan macam-macam, Raisya bahkan masih sangat kecil". ucap Dania.
.......
"gimana sekolah kamu nak?" tanya Dania pada Raisya yang mengunyah makanannya.
"semua lancar Bu, hanya saja aku sedikit tak nyaman dengan paman shadow yang terus mengekoriku dari kejauhan" ucap raisya jujur
"maaf sayang, itu semua dilakukan ayah untuk melindungi mu, bukan untuk mengekang atau tak membiarkanmu bebas". ucap Dania mengelus pucuk kepala Raisya.
"iya bang nanti aku diskusikan sama ayah dan ibu". jawab Raisya
"gak ada diskusi-diskusi, kak tolong sediakan gamis lengkap dengan jilbab dan niqabnya. begitu juga dengan seragam sekolah yang harus Raisya gunakan. jahitkan sebanyak mungkin. aku akan membayar semuanya ". Bagas meminta Dania memenuhi keinginannya.
"kenapa kau posesif sekali pada putriku? sudah seperti emak-emak saja kau ini. tanpa kau minta pun aku akan menyediakan apa yang dibutuhkan anakku". curiga Dania pada Bagas.
"karena aku peduli. peduli akan wanitaku". jawab Bagas ceplos
"wanitaku wanitaku. kau pikir crish akan mengizinkanmu mendekati gadisnya yang masih belia ini?" ucap Dania meledek Bagas.
"lihat saja nanti, aku pastikan aku mendapatkannya". ujar Bagas sangat yakin dengan pendiriannya.
"apa sih bang? siapa yang mau sama Abang? kalau mau sama aku ya tunggu aku sampai tamat kuliah, bisa bekerja bisa menghasilkan uang untu ayah dan ibu". ucap raisya sebal.
__ADS_1
"hahaha anak ibu memang pintar. terimakasih sayang atas niat baikmu. semoga Allah melindungi mu dan memberkahi hidupmu". ucap Dania memeluk Raisya.
"udahlah. mau gak mau. suka gak suka ya ahrus jadi milikku. titik. tidak ada protes, tidak ada bantahan." ucap Bagas yang semakin kesal dengan ucapan Raisya.
"apa yang suka tak suka, mau tak mau? kalau aku mau protes bagaimana? mau aku cabut kembali bengkelmu itu?" suara bariton itu seolah menusuk tajam telinga Bagas.
"heheh, ayah. jangan gitu dong. nanti gimana caranya ngasih makan Raisya kalau bengkelmu diambil kembali". rayu Bagas pada crish.
crish yang mengetahui istri, anak dan Bagas makan siang direstoran itupun sengaja berdiri sedikit lebih dekat pada meja mereka untuk mendengarkan cerita Bagas yang dirasa mencurigakan, haha.
"ayah, ayah, matamu itu. jangan coba dekati anakku. kau boleh sih mendekatinya. tapi.." ucap crish membuat Bagas penasaran
"tapi apa?" tanya Bagas antusias.
"tunggu dia bisa bekerja sendiri." jawab crish
"percuma kau kaya raya kak, anakmu kau suruh bekerja". ucap Bagas tanpa filter.
"aku kaya bukan berarti memanjakan anak-anakku supaya hidupnya hanya menadah tangan saja. aku tetap ingin mereka bisa merasakan hasil dari jerih payah sendiri". ucap crish
"setuju". serempak Dania dan Raisya menjawab, serta gelak tawa menyelimutinya.
"ya Allah kuatkan aku dalam mengejar cita-cita ku untuk memiliki Raisya ya Allah". doa Bagas yang mendapat pukulan pelan dikepalanya oleh crish.
"doamu yang baik-baik aja". ucap crish
"kan baik itu kak". jawab Bagas mendengus.
"terserah kau".
"jangan lupa Raisya, pakai niqabmu. jangan mendekati laki-laki lain. jika ada yang mendekatimu itu artinya ia harus berhadapan langsung padaku. mengerti?" ucap Bagas mewanti-wanti Raisya.
"cih, kau pikir siapa dirimu? ibu dan ayahnya saja tak terlalu memaksanya". ucap crish menyantap hidangan dihadapannya yang sedari tadi di diamkan oleh Bagas.
__ADS_1
"ha kan, udah kaya. tapi beli makan saja tidak bisa. harus pula lagi memakan makananku". ucap Bagas semakin berasap.
"kan aku yang mentraktir, jadi siapa saja berhak makan". ucap raisya membela ayahnya.