
1 bulan sudah Raisya tidak masuk sekolah. ia juga mengikuti ujian dari rumah. kini ia dan Bagas sudah tinggal bersama dirumah Bagas.
"besok Raisya mau masuk sekolah"
"ha, apa kau yakin sayang? bahkan kau belum sepenuhnya bisa berjalan"
"belikan aku tongkat penyangga aja gimana? jadi tak perlu susah nemakai kursi roda ini"
"hmm, baiklah. nanti aku belikan. apa kau sibuk sekarang?"
"sibuk"
"aku serius, sayang. kenapa sejak kerumah ini sikapmu jadi berubah seperti kulkas 1000 pintu?"
"mengatai istri yang tidak-tidak bisa menghambat rezeki suami"
"astaghfirullah ya Allah. aku tak mengatai dirimu sayangku"
Bagas mendekat ke arah raisy. ia mengecup pipi Raisya yang tertutupi oleh niqabnya.
Raisya mengedip-ngedipkan matanya tak percaya apa yang dilakukan Bagas yang kini menjadi suaminya itu.
"kenapa? kau mau lagi? bahkan aku bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar menciummu"
"isss apa sih kak." Raisya memalingkan wajahnya dari Bagas
"sayang. apa kau ikhlas menerima pernikahan ini?"
"iya" jawabnya singkat.
"hei, tatap aku jika sedang berbicara. itu artinya kau menghargai diriku"
Raisya terpaksa menatap lekat mata Bagas.
"aku ikhlas menjalani rumahtangga bersamamu, kak. perjuanganmu sela ini bisa membuktikan bahwa kau bersungguh-sungguh untuk menjalin hubungan denganku."
__ADS_1
"apa kau yakin akan bahagia hidup bersamaku?"
"aku yakin. kita akan bersama-sama berusaha untuk menjalani pernikahan ini dengan baik. tegur aku jika caraku salah, maafkan aku jika aku juga bersalah. bimbing aku jika aku melakukan kekeliruan"
"baiklah kita akan memulai semuanya dari sekarang. hmm apa termasuk...."
Raisya melepas pelukan Bagas padanya.
"termasuk apa?"
"membuat adonan kue"
"maksudnya?"
"aiss.. aku tahu kau masih kecil, tapi kau tak sepolos itu, sayang"
"oh, hahah. aku paham. terserah kakak mau memintanya kapan saja, tapi aku masih belum siap untuk hamil. aku bisa dikeluarkan dari sekolah nanti"
"benarkah? jadi aku boleh hmmm"
"diamlah. aku sedang sibuk"
"dua kali mengataiku. maka eeh astaghfirullah tidak. jangan mengucap itu. aku sendiri yang rugi nanti jika rezekimu berkurang, maka jatah bulananku juga berkurang"
"hahaha. lucu sekali. sayang jika di dalam rumah hanya ada aku, kau tak perlu memakai niqabmu. aku halal melihatmu"
"hmm, baiklah"
Raisya membuka niqab juga hijab panjangnya. Bagas yang melihat itu tak percaya kini ia menikahi gadis layaknya bidadari dari comberan. eh, dari khayangan.
"MasyaAllah. sungguh indah ciptaanMu."
"jangan terlalu memuji"
Raisya berdiri hendak meninggalkan Bagas yang masih memandangnya.
__ADS_1
segera ia pegang tangan Raisya hingga Raisya yang tak siap pun terduduk dipangkuannya.
"ada apa?"
"kamu mau kemana?"
"isss, turunkan aku, kak. aku mau buang air kecil"
"oh, hahah. oke. perlu aku antar?"
Raisya menjawab ucapan Bagas hanya dengan matanya yang melotot.
"haha baiklah baiklah. silahkan"
....
malam telah tiba. bintang-bintang berhamburan ditengah gelapnya malam.
Bagas dan Raisya yang baru selesai makan memilih untuk duduk ditaman seraya melihat bintang.
"malam ini begitu indah, terlebih ada kamu sekarang. aku bersyukur bisa benar-benar memilikimu, sayang". ucap Bagas yang memeluk Raisya.
"terimakasih juga kak. sudah mau bertanggungjawab begitu besarnya padaku."
"sama-sama sayang."
"kak, apa kau tak menyesal menikahi anak kecil sepertiku? bahkan aku masih tak paham dengan hal-hal rumahtangga"
"kenapa harus menyesal. aku akan menyesal jika saja aku tak bisa menghalalkanmu"
"maaf ya jika nanti aku ada berbuat kesalahan dalam melayanimu, atau mengurus rumah dan lainnya. sungguh, ibu dan ayah sering sekali memarahiku jika aku ikut membantu membereskan rumah. jadi aku tak begitu tau caranya memasak, atau yang lain"
"tak masalah sayang. kita bisa bersama-sama melakukannya. tak selamanya pekerjaan rumah harus diselesaikan hanya oleh istri saja kan".
"hmm, baiklah. terimakasih sudah memahami"
__ADS_1
"fokus saja pada sekolahmu. banggakan ayah dan ibumu juga aku dengan prestasimu disekolah. aku tak akan menuntut lebih jauh untukmu segera memiliki anak. kita bisa merencanakannya saat kau benar-benar sudah siap dan matang"
"aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, kak. aku juga berjanji menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh orangtuaku"