janda ting-ting, istri dari anak SMA

janda ting-ting, istri dari anak SMA
kedermawanan istri dan anakku


__ADS_3

sore hari, crish telah usai dalam melaksanakan kewajibannya untuk belajar di kampus.


ia bergegas untuk pulang. namun. sebelum itu, dia menawarkan diri pada Diki untuk pulang bersama.


"ayo aku antar, supaya aku juga tahu dimana kamu tinggal"


"apa tidak merepotkan?"


"sama sekali tidak"


...


di dalam perjalanan, mereka berbincang panjang lebar hingga tak terasa kini telah sampai dikawasan tempat tinggal diki.


"hmm, yang mana rumahmu?"


"berhenti disini saja crish. tak bisa masuk ke dalam gang menggunakan mobil"


"ha? oke. aku ikut turun. aku ingin tahu rumahmu"


dengan berat hati Diki mengizinkan. awalnya ia khawatir jika crish ikut maka crish juga akan mencemeeh dirinya seperti teman-temannya yang lain yang selalu merendahkan kehidupannya.


"crish, ini rumahku"


crish terdiam sesaat, ia melihat ke kanan dan kiri ternyata Diki tinggal di sebuah gubuk terbuat dari kardus beratapkan terpal. lingkungan yang kumuh dan bau juga menjadi teman sehari-hari Diki.


ya, Diki tinggal di area tempat pembuangan sampah dibawah kolong jembatan layang.


"Diki, kau sudah berapa lama tinggal disini?"


"hmm sebelumnya ayo masuk dulu. tak perlu buka sepatu mahalmu. aku takut kakimu alergi menginjak tanah kotor seperti ini".


"tak apa. tak sopan jika aku masuk dengan alas kaki"


"baiklah. sebentar aku ambilkan minum dulu"


"tak perlu repot-repot Diki. kemarilah. ceritakan kehidupanmu padaku. aku tak akan menghinamu"


"oke oke. ternyata kau begitu tertarik dengan hidupku. aku tinggal disini sejak ayahku masih ada. tepatnya mungkin sekitar 13 tahun lalu. ayah meninggal disini karena sakit asma yang dideritanya."


"lalu ibumu?"


"oh iya. ibuku ada di balik gorden sebelah sana. ia tak bisa berjalan. ia pun sakit stroke akibat tertabrak truck saat sedang memulung barang bekas"


"apa? lalu kenapa tak kau bawa ke rumahsakit?"


"kami tak punya biaya. makannya tadi aku meminta pekerjaan padamu di restoran. dan uang yang kau berikan padaku tadi akan aku gunakan untuk berobat"


"maaf, gimana bisa dengan kehidupanmu yang seperti ini kau bisa melanjutkan kuliahmu bahkan di universitas ternama"


"beasiswa. aku mengandalkan otakku untuk itu"


"aku salut padamu. hmm besok kan hari libur. boleh aku kesini mengajak istriku?"


"dengan senang hati crish. datanglah. tapi jangan bawa anak-anakmu. tempat ini tak bersih. aku takut mereka sakit"


"ahahah kau ini bisa saja. anak-anakku memang masih berusia satu tahun lebih. saat ini juga mereka sedang tak bersamaku. ayah dan ibuku membawa mereka bersamanya untuk menghabiskan akhir pekan ini. mungkin aku kesini dengan putri sulungku".


"baiklah. aku tunggu kedatangan kalian".


"salam untuk ibumu ya. aku pamit dulu."


"hati-hati crish. terimakasih banyak".


..........


crish tiba di apartemen sedikit terlambat karena macet sore hari. para pekerja pasti banyak yang dalam perjalanan kembali ke rumahnya setelah bekerja.


crish masuk ke apartemen dengan melihat seisi ruangan. ia tersenyum kala melihat Dania dan raisya sedang bersenda gurau sembari membuat adonan kue.


"sepertinya seru ya. sampai tak ada yang menjawab salamku"


"eh, ayah udah pulang. waalaikumsalam yah. maaf. Raisya dan ibu tadi lagi buat kue jadi gak tau ayah pulang"


"hmm. lanjutkan lah. ayah mau bersih-bersih dulu"


"mau aku buatkan kopi sayang?" tanya Dania lembut


"tak perlu. tadi aku mampir kerumah teman kuliahku. disana sudah disuguhkan minuman".


"baiklah."


.....


beberapa menit berlalu, crish telah ke meja makan dengan pakaian santainya.

__ADS_1


Dania dan raisya pun telah selesai menyiapkan makanan serta kue yang mereka buat tadi.


"kau mau makan dengan apa sayang?" tanya Dania melayani suaminya.


"telur balado dan sayur asam saja"


"ini. makanlah".


mereka bertiga makan dengan hening. hanya dentingan peraduan sendok dan piring yang terdengar ditelinga.


saat selesai makan. crish mengajak Dania dan raisya ke ruang keluarga dengan membawa kue dan jus.


"bagaimana sekolahmu raisya?" tanya crish


"aman ayah. hanya saja beberapa temanku ada yang tidak mau berteman denganku. mereka menyebutku kura-kura ninja dengan pakaian tertutup begini"


"biarkan saja mereka. jangan masukkan hati"


"iya ayah"


...


"hmm, bagaimana kuliahmu sayang? dan teman siapa yang kau bilang tadi? apa kau langsung punya sahabat?"


"ah, iya. dia Diki. teman baruku" crish menceritakan semua kisah Diki tanpa ada sedikitpun yang tertinggal.


Dania dan raisya dengan seksama mendengarkan cerita crish tanpa Danya yang memotong pembicaraan.


"lalu bagaimana menurutmu?" tanya crish pada Dania.


"hmm, besok kita kesana. kita bawa ibu Diki ke rumahsakit. dan aku pikir tak ada salahnya kita memberikan mereka tempat tinggal yang layak. mereka orang yang sangat membutuhkan, bukan"


"benar katamu. dimana kita akan membeli rumahnya?"


"bagaimana jika dekat dengan kampus ayah? jadi kak Diki tidak perlu jauh berjalan kaki untuk kuliah"


"apa kalian berdua lelah hari ini?"


"tidak" jawab keduanya


"bersiap-siaplah. kita akan langsung mencari rumah dan perlengkapannya. juga sembako dan pakaian untuk mereka. Diki tak bisa mengendarai motor atau mobil. dia hanya mempunya sepeda butut. kita bisa membelikan dia sepeda listrik kan"


"benar. ayo raisya bergegaslah"


.....


crish, Dani, dan raisya berpencar mencari keperluan untuk rumah itu. crish bertugas untuk membeli perabotan. Dania bertugas mencari pakaian dan sepeda listrik, sedangkan Raisya mencari sembako lengkap.


....


keesokan harinya, crish, raisya dan Dania bergegas kerumah diki. meskipun masih terlihat ngantuk, mereka tetap melakukan perjalanan sesuai janji.


"turun. kita tak bisa membawa mobil ini melewati gang itu. rumahnya didalam sana". ucap crish


"ayah gak salah? ini tempat sampah ayah"


"stttt. pelankan suaramu nak. kau bisa menyinggung mereka yang tinggal disini" ucap Dania


"maaf Bu, yah"


mereka bertiga berjalan memasuki gang rumah Diki. hingga mereka dapat melihat Diki sedang mengobrak-abrik sampah disekitar rumahnya untuk mencari barang-barang yang dapat dijual kembali.


"assalamualaikum" ucap crish


"waalaikumsalam. eh crish. kau beneran datang?"


"iya dong. kenalkan ini istriku, Dania. dan itu putriku, raisya"


"MasyaAllah. beruntungnya kau mendapatkan bidadari seperti mereka"


"haha jangan memuji berlebihan."


"hmm kak Diki tinggal sendiri?" basa basi raisya


"kakak sama ibu kakak tinggal disini"


"wah benarkah? lalu dimana Tante?"


"kau mau bertemu dengan ibuku?"


"tentu saja"


"pakai kembali sepatumu. disini kotor. masuklah"


"tak apa kak. aku lepas saja."

__ADS_1


"ini ibuku" Diki menunjukkan ibunya yang kurus dan hanya bisa berbaring lemah.


"Tante, apa kabar?" ucap raisya


ibu Diki hanya bisa tersenyum samar menjawab pertanyaan Raisya.


tiba-tiba raisya berlari keluar rumah. ia menangis sesenggukan melihat kondisi keluarga itu.


Dania, crish, dan Diki mengejar raisya keluar.


"ada apa sayang?" tanya crish


"ayah, ayo bawa Tante kerumahsakit. Tante pasti kesakitan yang teramat sakit ayah. aku bisa merasakannya"


raisya masih terisak dalam pelukan Dania.


"tenangkan dirimu dek. Tante tidak apa-apa. sudah biasa baginya untuk terus terbaring sepanjang hari. jangan khawatir". meskipun dalam hatinya, Diki juga mengkhawatirkan kondisi sang ibu.


"benar kata raisya, Diki. ayo angkat ibumu ke dalam mobil. kita kerumahsakit sekarang" ucap Dania yang masih mengelus lembut punggung sang putri yang terisak


"hmm tapi a-aku..."


"jangan khawatir. aku akan menanggung semuanya" ucap Dania.


"baiklah. aku akan mengabdikan diriku selama hidupku pada kalian sebagai ganti semua biayanya"


"hei, kawan. kita bersahabat, bukan? lupakanlah ganti mengganti itu" ucap crish merangkul pundak diki.


mereka kini tiba dirumahsakit. ibu Diki mendapatkan perawatan intensif disana.


Dania menelepon Bagas dan Hanna untuk segera kerumahsakit.


sesampainya mereka disana, Dania meminta tolong untuk menjaga ibu Diki.


"tolong jagakan dulu. ada hal yang harus kami tunjukkan kepada Diki sekarang"


"hmm baiklah. hati-hati"


Diki yang hanya menurut saja akan dibawa kemana terdiam di dalam mobil. sesekali raisya mencairkan suasana dengan bersenda gurau padanya.


terlihat sebuah rumah dengan cat berwarna abu-abu itu sangat indah.


"Diki, kemarilah" ucap Dania.


"ini kunci rumah ini. rumah ini milikmu dan ibumu."


"ap-apa!! aku tidak bisa menerimanya. kemarin crish sudah memberiku uang yang bayak. kalian juga membawa ibuku kerumahsakit. aku tak perlu ini lagi"


"jika kau menolak, aku tak mau menjadi temanmu lagi" ucap crish


"kau ini bisanya mengancam saja. tapi, apa ini tidak berlebihan?"


"tidak sama sekali" ucap crish


mereka masuk ke dalam rumah yang telah lengkap dengan perabotan berkelas. Diki menangis tersedu melihat isi rumah itu.


"terimakasih banyak atas bantuan kalian"


"tak perlu sungkan. kita keluarga" ucap crish


"kak. aku sudah menyiapkan banyak sembako di dapur. dan hmm ini, aku pribadi hanya mampu memberikan ini untuk tante" raisya memberikan kursi roda yang sengaja ia beli dengan uang tabungannya sendiri.


"terimakasih dek. boleh aku menganggapmu adikku?"


"tentu boleh kak" ucap raisya tersenyum


"dan ini untukmu ke kampus Diki" Dania mendorong sepeda listrik yang ia persiapkan.


"aku bisa berjalan kaki. aku tahu ini dekat dengan kampus. bagaimana aku bisa membalas baik budinya kalian semua"


"dan ini aku belikan perhiasan untuk Tante. simpanlah. suatu waktu kalian butuh, kalian bisa menjualnya atau menggadaikannya padaku. jadi kalian tidak harus terlalu berpikir kapan bisa membayarnya"


Diki semakin terisak melihat teman dan keluarganya itu yang sangat dermawan.


setelah berbincang-bincang, mereka mengantar Diki Kembali ke rumahsakit.


"kami pamit ya Diki. besok kami kesini lagi" ucap crish


"terimakasih sekali lagi"


"tak masalah"


dalam perjalanan, Dania dan Raisya tertidur pulas dalam mobil. crish tersenyum haru melihat keduanya.


"terimakasih ya Allah. kau memberiku istri dan anak yang begitu dermawan dan peduli dengan sesama". ucap syukur crish dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2