
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan antara Dita, Ardi, dan Widya.
Yang ada hanyalah lirikan mata Ardi yang selalu melirik ke arah Dita. Sementara Dita terdiam dan menatap jalanan dari kaca mobil tersebut. Dan Widya melihat jelas lirikan Ardi penuh makna.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah kontrakan Dita. Widya yang sedari tadi melihat lirikan Ardi bertanya-tanya dalam benaknya, dan akhirnya ingin angkat bicara, namun kedeluan oleh Ardi.
"Sampai" kata Ardi
"Bapak tahu rumah Dita?" tanya Widya
"Eh, maksud saya kok bapak bisa tahu rumah Dita, sementara sepanjang perjalanan bapak tidak bertanya dimana alamat Dita" kata Widya kikkuk
"Ooo.... Saya tahu, karena sebelumnya saya pernah mengantar Dita pulang. Ya kan Dit? jawab Ardi sambil menatap Dita.
"Iya Wid" jawab Dita
"Kok bisa Dit?" tanya Widya
"Nanti aku jelasin, sekarang ayo turun" jawab Dita
"Oke deh..."
Dita membuka pintu mobil dan di ikuti oleh Widya. Sebelum kakinya memijakan tanah, Dita kembali menatap Ardi dan berkata
"Makasih ya pak, sudah membantu kami" jawab Dita dengan senyuman tulus
Ardi yang terpanah oleh senyuman Dita seakan terbius dan membisu.
"Pak,,," kata Widya yang menyadarkan Ardi dari lamunannya
"Ah iya.. Sama-sama"
__ADS_1
"Masalah mobil nanti saya kabari ya kalau mobil kamu sudah selesai, dan kalau sudah selesai saya akan telpon ke Dita"
"Iya pak. Terimakasih ya pak, kami permisi" jawab Widya
Dita dan Widya keluar dari mobil dan sekarang mereka bediri tepat di depan gerbang rumah kontrakan Dita.
Ardi pun segera meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalanan pulangnya.
Dita dan Widya masuk ke rumah, Widya ingin sekali bertanya ke Dita mengenai hal ini, karena ia sangat penasaran dengan hubungan Dita dan Bosnya.
"Duduk dulu Wid." kata Dita
Widya duduk. Widya yang sudah dilanda penasaran tak tahan lagi menahan mulutnya untuk menanyakan hal itu akhirnya bertanya
"Emm, Dit gue boleh nanya gak?"
"Tanya apa?" kata Dita
"Gak ada hubungan apa-apa Wid, kamu mau nanya kenapa kemarin itu aku bisa pulang sama pak Ardi ya?
"Iya Dit, maaf ya bukannya gue kepo nih sama hubungan lo, tapi gue penasaran. Lo gak mau kan gue mati penasaran?" kata Widya cengngengesan.
"Lo juga jangan marah ya karena gue nanyak hal ini" jelas Widya
"Huss.. Kamu ngomong apaan sih. Nih aku kasih tahu, aku dan pak Ardi gak ada hubungan apa-apa Wid, kita juga kenal karena gak sengaja."
"Gak sengaja gimana maksud lo Dit?"
"Bentar deh ya, aku buatin minum sekalian ngambil cemilan biar enak sambil ceritanya"
"Oke deh, lo ngegantung aja aah. Jadi makin penasaran gue"
__ADS_1
Tak lama kemudian Dita keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi dua gelas jus jeruk dan beberapa cemilan.
Dita meletakkannya di meja dan kemudian ia duduk berhadapan dengan Widya.
"Nah, lanjutin dong" kata Widya
"Kalau aku gak salah ingat dihari pertama aku bekerja, aku bertemu dengan pak Ardi"
"Kok bisa?"
"Waktu itu aku mau pulang, tiba-tiba saja hujan dan sangat deras. Nah saat itu juga pak Ardi muncul dan menawarkan untuk pulang bersama, karena tak ada pilihan lain dan saat itu juga jalanan sepi sebab karyawan lainnya sudah pada berpulangan hanya tinggal aku sendiri, aku takut, jika aku menunggu hujan berhenti maka aku akan sampai malam untuk sampai dirumah, jadi aku terima saja tawaran yang diberikan pak Ardi."
"Oooo begitu, eh terus kok pak Ardi bisa punya nomor ponsel kamu?"
"Emm, kalau masalah itu pak Ardi sendiri yang meminta nomor ponselku" jelas Dita apa adanya. Dan hal itu memang benar bahwa Ardilah yang meminta nomor ponselnya.
"Hhmm.. Apa jangan-jangan pak Ardi suka sama kamu ya Dit? pikir Widya
"Kok kamu ngomong gitu Wid?"
"Yaaa kalau aku perhatiin nih ya, sedari kita masuk ke mobil pak Ardi, dia selalu melirik ke arah kamu"
"Emm kamu ngaur kali Wid, nanti kamu salah lihat"
"Gak Dit, gue gak salah lihat, gue yakin sama filling gue"
"Udah deh gak usah di bahas" jawab Dita
"Kalau emang beneran pak Ardi suka sama lo, lo mau gak Dit?"
Dita hanya diam.
__ADS_1
Dalam hatinya, "Aku gak mungkin bisa bersama Ardi, aku gak pantas bila di sandingkan dengannya, dia sungguh lelaki yang sempurna. Ya walaupun aku merasakan setiap getaran di dadaku ketika bersamanya"