Jatuh Cinta Pandangan Pertama

Jatuh Cinta Pandangan Pertama
Pingsan


__ADS_3

Dita sudah sampai di lantai 4, ia sudah merasa lelah dan kram di kakinya. Apalagi ditambah dengan bawaan yang begitu banyak di tangan kanan dan kirinya. Ia menarik nafasnya dan kemudian melanjutkan perjalannnya yang masih jauh.


Keringat yang mengucur deras di pipi dan kening Dita juga di bagian punggungnya sudah basah sehingga membuat pakaiannya menerawang.


Dita sampai di lantai 6, rasanya ia sudah tak tahan lagi. Ia pun memilih untuk berhenti sejenak menarik nafasnya.


"Huft.... Lelah sekali, aku sudah tak tahan" gumam Dita.


Dita meletakkan semua barang bawaannya lalu segera meregangkan otot-otot lengannya.


"Apa-apaan ini? Aku sudah lelah sekali tapi masih harus menaiki tangga itu lagi. Mengapa bu Natasha tak memperbolehkanku untuk naik lift? Apa salahku padanya hingga ia menghukumku seperti ini." lagi-lagi ia bergumam.


"Aku harus semangat !!" Dita menyemangati dirinya dan ia mulai melangkah menaiki tangga itu.


Kini ia sampai pada lantai 10, kakinya mulai lemas dan tak berdaya. Ia juga mulai dehidrasi, ia memilih berhenti sejenak duduk di anak tangga itu untuk mengatur pernafasannya agar ia bernafas dengan baik. Di hirupnya oksigen sebanyak-bayaknya, lalu ia bangkit dari tempat duduknya, "Hanya tertinggal dua lantai lagi, ayo aku pasti bisa." ia kembali menyemangati dirinya, namun kali ini semangatnya lebih berkobar karena ia akan mengakhiri penderitaan yang dialaminya saat ini.


******


Di lain sisi Natasha yang sudah sampai diruangannya, sejak tadi ia hanya tertawa.


Betapa bahagianya ia melihat gadis itu menderita.


"Rasakan dan nikmatilah, ini belum berakhir lihat saja nanti. Akan ada penderitaan selanjutnya." gumamnya di balik kursi kekuasaannya.


**


Akhirnya Dita sampai di lantai 12, dimana ia harus memberikan barang bawaannya itu ke ruangan Natasha.


"Hah.. akhirnya aku sampai juga" ucapnya


Ia segera berjalan menuju ruangan sekretaris dari bosnya itu.


Tok...tok...tok, ia mengetuk pintu ruangan itu


"Siapa?" tanya Natasha.


"Saya bu, Dita, yang ibu suruh membawa barang-barang tadi." jawab Dita


"Akhirnya dia sampai" ucap Natasha menaikan sebelah alisnya dan tersenyum licik. "Silakan masuk." jawabnya kemudian.


Dita masuk dengan wajah yang dipenuhi oleh keringat dan pucat.


"Letakkan saja di meja ini."


"Baik bu." Dita meletakkannya.


"Kamu boleh keluar, dan jangan coba-coba memberitahu hal ini pada siapapun" ancam Natasha.


"Baik bu, saya permisi" jawab Dita.


Kemudian ia melangkah menuju pintu keluar dengan kaki yang sudah gemetaran, rasanya ia lemas sekali.

__ADS_1


Ia berjalan dengan hati-hati, hingga langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan Ardi.


"Dita, sedang apa kamu berada di sini?" tanya Ardi.


Dita hanya menggelengkan kepala.


"Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Ardi beruntut dan heran melihat penampilan Dita.


Dita tak menjawab salah satu pertanyaan itu. Dita merasa pusing, kemudian ia pingsan dan terjatuh. Namun sebelum ia sampai terjatuh dilantai tangan Ardi dengan sigap menangkap tubuhnya.


Ardi panik, "Dita, Dit, Dita" panggil Ardi sambil menepuk pelan pipi Dita.


Namun tak ada jawaban dari Dita, ia semakin panik. Dan Ia akhirnya meminta bantuan kepada karyawan lainnya.


"Tolong bantu saya untuk membawanya ke mobil saya" tegas Ardi.


"Baik pak" jawab karyawan itu. Yang kemudian membatu Ardi.


Ardi segera mengambil mobilnya dan melajukannya menuju pintu lobby.


Kemudian ia dan karyawan itu mengangkat Dita dan meletakkannya di kursi depan.


"Terimakasih, ini tips untuk kamu" kata Ardi yang mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Tidak pak, ini memang sudah kewajiban saya untuk menolong sesama pak" jawab karyawan itu.


"Tidak usah berkecil hati, terimalah jika kamu masih menganggap saya sebagai bos kamu."


"Saya pergi dulu, jika ada yang mencari saya tolong katakan saya sedang di rumah sakit."


"Baik pak" jawab karyawan itu


Kemudian Ardi melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


"Apa yang telah terjadi? Mengapa kamu sampai seperti ini Dit?" ucap Ardi


Selama di perjalanan Ardi terlihat panik dan tak tenang.


Tak membutuhkan waktu yang lama Ardi akhirnya telah sampai di rumah sakit, ia segera meminta bantuan kepada para suster untuk membawa Dita ke dalam.


Dita diperiksa oleh dokter, sedangkan Ardi masih setia menunggu di ruang tunggu.


Akhirnya dokter yang memeriksa Dita keluar.


"Dok, bagaimana? Apa yang terjadi padanya?" tanya Ardi.


"Ia hanya kelelahan dan dehidrasi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan pak" jawab dokter itu.


"Bagaimana ia bisa sampai pingsan dok?"


"Apa ia melakukan pekerjaan yang berat?"

__ADS_1


"Setahu saya tidak dok, dia bekerja di perusahaan saya." jawab Ardi.


"Baiklah jika memang seperti itu, tapi dia mempunyai riwayat sesak nafas. Dan saya harap bapak tidak menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan yang berat, sehingga mengganggu sistem pernafasannya." jelas dokter itu.


"Baik dok. Apa saya sudah boleh melihatnya?" tanya Ardi


"Silahkan, silahkan saja, kalau begitu saya permisi." dokter itu meninggalkan Ardi.


Ardi masuk dan ia melihat Dita yang terbaring lemah. "Aku tak tega melihatmu seperti ini." ucap Ardi yang mulai mengelus pipi Dita. Kemudian ia tertidur.


30 menit kemudian Dita bangun dari tidurnya. Ia merasakan sesuatu yang berat menimpah tangannya. Dan ya, itu adalah kepala Ardi yang sedang tertidur pulas.


Dita mencoba mengangkat tangannya dengan perlahan namun hal itu membuat Ardi terbangun.


Ardi menjerjap dan melihat Dita, "Kamu sudah sadar" kata Ardi.


"Saya dimana pak?" tanya Dita


"Kamu di rumah sakit" jawab Ardi.


"Mangapa saya bisa sampai di rumah sakit?" tanya Dita.


"Kamu tadi pingsan, dan saya membawa kamu kemari" jawab Ardi.


Dita terdiam untuk mengingat kembali kejadian sebelumnya.


"Apa yang terjadi pada kamu? Mengapa kamu bisa sampai pingsan?" tanya Ardi.


Dita diam, dan tertunduk mengingat ancaman Natasha.


"Ada apa?" tanya Ardi


"Tidak ada apa-apa pak, saya hanya kelelahan akibat menaiki anak tangga" jawab Dita.


"Mangapa kamu naik tangga? Kan ada lift." Ardi heran.


"Saya tadi hanya ingin mencoba naik tangga darurat saja pak, dan akhirnya saya tidak tahan lalu pingsan pak" jelas Dita berbohong.


"Kamu aneh, ada lift tapi malah menggunakan tangga darurat." kata Ardi sedikit curiga.


"Iya pak, maaf saya merepotkan bapak"


"Hm baiklah, kamu sudah enakkan?" tanya Ardi.


"Sudah pak, kita pulang saja pak saya tidak tahan bau rumah sakit."


"Baiklah, ayo" jawab Ardi


Mereka keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju dimana mobil Ardi diparkirkan.


Kemudian mereka meninggalkan rumah sakit itu. Sepanjang perjalanan Dita hanya diam, begitu juga Ardi.

__ADS_1


Ardi masih memikirkan jawaban Dita yang dianggapnya bahwa Dita berbohong. "Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku Dit?" batin Ardi.


__ADS_2