Jatuh Cinta Pandangan Pertama

Jatuh Cinta Pandangan Pertama
Penolakan Kesekian Kalinya


__ADS_3

Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian pingsan yang di alami oleh Dita saat itu. Dan itu artinya bulan ini memasuki bulan ke empat Dita bekerja di perusahaan manufaktur tersebut. Ya, perusahaan yang di geluti Ardi adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Perusahan ini merupakan perusahaan yang bergerak dalam perakitan bahan baku untuk di jadikan produk tertentu.


Hari ini merupakan hari yang di tunggu-tunggu oleh setiap karyawan di perusahaan itu. Karena hari ini mereka akan mendapatkan Gaji/upah dari hasil kerja mereka di bulan lalu.


Dan bagi Dita sendiri ini merupakan hari kebebasan untuknya, yang akan melepas masa training-nya.


Semua karyawan nampak ceria, dan bersemangat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tak luput juga Widya dan Ninda yang sekarang menjadi sahabat Dita, sekaligus rekan kerjanya, mereka berdua begitu bahagia menantikan hari ini.


"Eh Dit, hari ini lo mau kemana?" tanya Ninda.


"Gak kemana-mana sih Nin, emangnya kenapa?" jawab Dita.


"Gimana kalau hari ini kita jalan-jalan yuk ??!" tawar Ninda.


"Mau, mau, gue mau banget." ucap Widya kekanakan.


"Aduh, gimana ya??" Dita berpikir. Ia berniat untuk menghemat namun ia segan untuk menolak ajakan sahabatnya itu.


"Ayolah Dit, kali ini aja." ucap Ninda memohon agar Dita menyetujui ajakannya.


"Iya nih Dit, kita kan jarang-jarang dapat momen seperti ini, dikasih pulang cepat dan disaat gajian pula. Dan kalau gue gak salah ini adalah hari terakhir lo training-kan? Ayo dong kita rayain dengan jalan-jalan." rayu Widya.


"Emm, gimana ya??" gumam Dita.


"Mau dong," wajah Ninda memelas.


"Ya udah deh aku mau, tapi jangan pulang larut malam ya?" ucap Dita.


"Iyeee... Asik, akhirnya kita jalan bertiga." ucap Ninda dan Widya bersamaan.

__ADS_1


"Tapi janji ya, gak akan pulang larut malam?" kata Dita.


"Iya, kita gak akan pulang larut malam kok. Tapi lo traktirin kita-kita makan ice cream ya !" tawar Ninda.


"Iya nih, hitung-hitung ngerayain lepas training lo" sambung Widya.


"Okey, aku bakalan traktir kalian, tapi hanya ice cream doang loh ya." ucap Dita.


"Baik cekgu." jawab Ninda yang menirukan kartun upin-ipin.


Dita tersenyum, "Ya udh yok, lanjut lagi kerjanya biar cepat selesai."


"Siap cekgu." kali ini Widya yang menjawab.


Dan akhirnya mereka bertiga tertawa bersama karena tingkah kedua sahabatnya itu. Setelah itu mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, sehingga ini adalah saat yang mereka tunggu. Mereka berlari keluar kantor layaknya anak TK yang sudah menanti jemputan ibunya di depan gerbang. Akhirnya ketiga sahabat itu meninggalkan kantor dan memulai petualangan mereka dengan mengunjungi salah satu mall di kota itu.


Disatu sisi Natasha dan Ardi kali ini sedang tidak ada di perusahaan, mereka berada di luar kota untuk meninjau proyek yang sedang Ardi dirikan. Dimana Ardi berencana untuk membuka cabang di kota itu. Dengan adanya proyek tersebut membuat Natasha dan Ardi sibuk dan sering bolak balik ke luar kota.


Dan hal ini yang membuat Natasha belum sempat untuk melakukan pembalasan pada Dita. Namun Natasha juga bersyukur dengan adanya proyek ini, sebab ia bisa selalu bersama Ardi kemanapun Ardi pergi. Dan ia tak perlu mengkhawatirkan kedatangan Dita disana sebab Dita tidak ikut campur dalam menangani proyek pembangunan tersebut.


Kali ini Ardi dan Natasha sedang menikmati suasana indah di tengah taman bunga. Mereka duduk bersama dibangku taman itu.


"Ardi" Natasha memanggil sang empunya nama tersebut.


"Ya, ada apa Sha?" jawab Ardi.


"Gimana mengenai perasaan kamu ke aku?" tanya Natasha to the poin.

__ADS_1


Ardi menghela nafasnya, "Aku kan sudah pernah bilang ke kamu, kalau aku itu cuma menganggap kamu sebagai adik. Aku gak ada perasaan cinta sama kamu." jawab Ardi terus terang menghadap Natasha.


Dada Natasha terasa sesak, ini merupakan penolakan Ardi yang ke sekian kalinya untuk dirinya.


"Kenapa Ar?" tanyanya serak


"Aku tidak bisa mencintai kamu." jawab Ardi.


Butiaran air mata mulai membasahi pipi Natasha yang mulus tak berjerawat itu. Kemudian ia mulai menarik nafas, dan mencoba merilekskan dirinya.


"Apa kekuranganku?" tanyanya.


"Kamu tidak mempunyai kekurangan,"


"Lalu, apa yang membuat kamu tidak bisa mencintaiku?" Natasha kembali bertanya.


"Yang aku tahu adalah.." Ardi menggantung ucapannya.


"Apa?" Natasha sudah tak sabar menunggu jawaban Ardi


"Hatiku tak merasakan sedikitpun getaran saat bersamamu." ucapnya kemudian.


"Lalu siapa yang ada di hatimu saat ini?" tanya Natasha mulai senggugukan.


"Seseorang yang membuatku nyaman, dan aku merasakan getaran itu setiap kali aku berada di dekatnya."


"Siapa dia?" tanya Natasha yang sesungguhnya ia sudah dapat memperkirakan siapa wanita yang di maksud oleh Ardi.


Ardi hanya tersenyum, dan membayangkan wajah polos gadis itu.

__ADS_1


"Kamu tak perlu tahu hal itu" jawab Ardi kemudian. Lalu ia pergi meninggalkan Natasha.


Natasha yang masih berada di taman itu tak hentinya menangis, penantian selama 5 tahun ini tak berjalan mulus. Cinta yang ia harapkan tak pernah ia dapatkan. Mengapa mencintai bisa sesakit ini?? Itu yang dirasakan olehnya saat ini.


__ADS_2