
Sesampainya Natasha di depan pintu masuk ruangan itu matanya terbelalak melihat kejadian yang tak pernah ia lihat, bahwa Ardi disuapi makan oleh Dita dan mereka tertawa bersama.
"Ini tidak bisa dibiarkan, awas kamu ya" geram Natasha sambil mengepalkan tangannya.
Ardi yang tak sengaja menoleh ke arah pintu itu melihat Natasha dan kemudian berkata
"Kamu sudah datang, mana makanan yang saya pesan?" tanya Ardi.
"I-ini pak, maaf saya lama pak" jawab Natasha yang mulai berjalan mendekati Ardi dan Dita.
Kemudian ia menyerahkan pesanan Ardi.
Ardi mengeluarkan pesanannya dari kantung plastik dan membukanya, lalu menyerahkannya kepada Dita.
"Suapi aku lagi" kata Ardi.
Natasha yang belum juga pergi, melihat hal itu hatinya sudah panas terbakar.
"Kamu sedang apa disini? Kamu tidak makan?" tanya Ardi.
Kata-kata Ardi sungguh menusuk tajam jantung Natasha namun ia tetap harus sabar
"Eh iya pak, kalau begitu saya permisi." jawab Natasha yang sedari tadi menahan air matanya.
Ia pun keluar, dan berjalan menuju ruanganya.
Sesampainya ia diruangannya, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes
"Mengapa kau setega itu padaku, apa kau tak tahu bahwa aku begitu mencintaimu. Mengapa kau memilih dia? Apa kekuranganku?" teriakan suara Natasha yang tertahan.
10 menit sudah Natasha mengamuk dan mencampakan barang-barangnya untuk mengeluarkan segala kekesalannya dan menangis sejadi-jadinya, hal ini di lakukannya agar hatinya tenang dan luapan emosinya keluar. Ia tak pernah seperti ini, namun kali ini ia tak dapat menahannya lagi.
"Aaaaaaahhhhhhhhhh" teriaknya.
Natasha merupakan gadis cantik, pintar, sexy, dan juga baik namun entah mengapa Ardi sampai tak bisa menerima perasaan Natasha terhadapnya. Jika di lihat sekilaspun Natasha sangat cocok disandingkan dengan Ardi. Mereka yang sama-sama memiliki ambisi yang kuat untuk bekerja keras demi hasil yang memuaskan. Tapi hanya Ardi yang tahu mengapa ia tak menyukai Natasha.
Setelah dirasa puas Natasha menyudahi tangisannya, kemudian berjalan menuju toilet untuk memperbaiki penampilannya yang kacau setelah melihat kejadian di lantai 5 tadi.
Hatinya masih terasa sakit, dan sesekali iya meneteskan air matanya kembali. "Apa kekuranganku?" sebuah pertanyaan yang sedari tadi muncul di benaknya.
Ia menatap kaca dan melihat dengan seksama batapa kacaunya penampilannya saat ini. Ia bergegas merapikan pakaian dan rambutnya serta membasuh wajahnya dan kemudian memberikan polesan make up sedikit tebal dari biasanya agar menutupi mata bengkaknya. Setelah di rasa cukup, lalu ia keluar menuju ruang kerjanya untuk kembali bekerja, mengingat bahwa jam kerja sudah di mulai kembali. Dengan langkah tertatih ia memasuki ruang kerjanya. Kemudian ia kembali merapikan ruangannya.
******
Disatu sisi Widya dan Ninda yang baru saja selesai menyantap makan siangnya terlihat bingung saat menyadari akan ketidakhadiran Dita.
"Eh, Dita mana Wid?" tanya Ninda.
"Gue juga gak tahu, seingat gue tadi dia nyusul kita deh." jawab Widya.
"Nah, sekarang mana orangnya?"
__ADS_1
"Itu dia, gue yang gak tahu"
"Ya udah yuk, kita balik keruangan, mana tahu Dita masih disana." ajak Ninda.
"Yuk, buruan lo bayar makanan lo." kata Widya mengingatkan.
"Eh, iya. Lo tunggu disini dulu ya, gue bayar dulu."
"Iya, udah buruan sana."
Ninda segera berjalan menuju kasir kantin tersebut.
Setelah selesai membayarnya Ninda berjalan menemui Widya.
"Yuk, Wid" ajak Ninda
Kemudian mereka berjalan meninggalkan kantin tersebut.
Mereka masuk ke lift, dan tak butuh waktu yang lama mereka tiba di lantai 5 dan berjalan kedepan ruang kerjanya.
Ninda berhenti tepat di depan pintu masuk ruangan tersebut. Mereka terkejut melihat kejadian langkah yang tak pernah mereka alami.
"Waoow" ucap Ninda dengan mulut yang menganga
"Apaan?" tanya Widya yang berjalan sedikit di belakang Ninda.
Kemudian Widya melihat mata Ninda yang mengarah ke dalam ruangan itu.
"Kemajuan? Maksud lo apaan Wid?" tanya Ninda penasaran.
"Ya kemajuan dong, akhirnya pak Ardi dan Dita semakin dekat"
"Dekat? Mereka ada hubungan?" tanya Ninda lagi.
Widya hanya mengangguk.
"Dita dengan pak Ardi?" kata Ninda
"Iya, jadi maksud lo siapa lagi?"
"Hmm, hebat juga sih Dita dapat merayu bos kita"
"Bukan merayu, tapi pak Ardi duluan yang mendekati Dita." jelas Widya kesal dengan Ninda, yang menganggap Dita merayu bosnya itu.
"Iya, iya. Maaf, jangan marah dong" kata Ninda yang melihat ekspresi wajah Widya.
Dita yang telah selesai menyuapi Ardi, kemudian membereskan mejanya dan ingin membuang sampahnya ke tong sampah yang berada di pojok dekat pintu, ia terkejut saat melihat Widya dan Ninda telah berada di depan pintu.
"Eh... Kalian sudah selesai makan?" tanya Dita yang menundukkan pandangannya karena malu ketangkap basah.
"Sudah" jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
"Wah kalian. Masuk saja tidak perlu sungkan inikan ruangan kalian" kata Ardi
"I-iya pak" jawab Ninda.
Mereka masuk dan kembali ke meja kerjanya masing-masing.
Ardi ingin meninggalkan ruangan itu, namun terhenti sesaat,
"Nanti pulang sama ya" kata Ardi kemudian melanjutkan langkahnya.
Dita hanya diam, karena malu.
Setelah melihat Ardi pergi, Widya segera memdekati Dita.
"Sudah sejauh mana?" tanya Widya antusias.
"Apaan sih, kan kamu sudah lihat tadi kita sudah sejauh mana." jawab Dita malu-malu.
"Lo hebat ya Dit, baru juga sebentar kerja disini sudah bisa dapetin bos kita." kata Ninda tersenyum. "Gue seneng kalau lo sama pak Ardi, dari pada si srigala yang satu tu" lanjut Ninda.
"Emm... Makasih ya Nin, doain aja ya" kata Widya.
"Eh kok malah lo yang jawab sih" kesal Ninda pada Widya
Dita dan Widya hanya tertawa melihat wajah kesal Ninda yang memanyunkan bibirnya seperti ikan mas.
******
Ardi sampai di lantai 12, tempat dimana ia menghabiskan hari-harinya untuk bekerja. Sebelum ia memasuki ruang kerjanya ia memilih untuk menghampiri ruangan Natasha.
"Sha, setelah ini apa jadwal gue selanjutnya?" tanya Ardi yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Hal tersebut membuat Natasha kaget, dan segera menghapus air matanya agar tak terlihat oleh Ardi.
"Jam 2 nanti kita ada meeting dengan klien di restoran garuda" jawab Natasha memalingkan wajahnya yang masih metes air mata.
"Kamu kenapa?" tanya Ardi.
"Tidak, tidak apa-apa hanya sedikit pusing" jawab Natasha tersenyum meyakinkan Ardi.
"Ooo, minumlah obat agar mengurangi rasa pusingmu" kata Ardi.
"I-iya" jawab Natasha.
"Hanya itu saja jadwal ku hari ini?" tanya Ardi kembali.
"Iya, hanya itu saja." jawab Natasha
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali keruanganku. Tolong kamu siapkan berkas-berkas untuk meeting nanti" kata Ardi, kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Huhf...." Natasha bernafas legah. Dalam hatinya,"Aku harus bagaimana? Haruskah aku menyakiti gadis itu?. Tidak, itu tidak mungkin. Dia terlalu baik, dan polos. Tapi aku tidak akan membiarkannya mendekati Ardi lagi, aku akan memberinya sedikit pelajaran."
__ADS_1