
Hay semuanya 😊😊... Maafkan atas keterlambatan saya. Happy Reading 🌹🌹
🌸🌸🌸🌸🌸🌹🌸🌸🌸🌸🌸
******
Akhirnya Ardi sampai juga. Ya kini ia telah tiba di kantornya, ia berjalan dengan sedikit terburu-buru seolah tak mau kehilangan sesuatu. Sepertinya Ardi bukan kehilangan sesuatu tetapi ia mungkin kehausan sehingga ia berjalan menuju dapur kantornya. Sangkin berjalan terburu-burunya ia menubruk seseorang hingga seseorang itu terjatuh, dan seseorang itu tak lain adalah Dita, seseorang yang begitu ia rindukan.
Ardi segera mengibaskan kemejanya yang terkena tumpahan kopi saat itu dengan tangannya, namun sayangnya noda di kemeja putih yang ia kenakan saat itu tak berkurang malah semakin lebar.
“Maaf, maaf pak. Saya tidak sengaja.” Ucap Dita tertunduk ketika ia melihat bahwa yang ia tubruk adalah atasannya sendiri.
Ardi yang sudah mulai hafal betul dengan suara tersebut, segera memberhentikan kegiatannya dan menolong gadis itu untuk dapat bangkit.
“ Maafkan saya” Ucapnya kemudian.
“Tidak pak, saya yang seharusnya meminta maaf, saya tidak memperhatikan jalan saya. Pasti panas sekali ya pak” Ucap Dita merasa bersalah.
“iya, tapi saya juga minta maaf ya.” jawab Ardi kemudian ia membuka kemejanya, “Bisa kamu bantu saya untuk membersihkannya?” Tanya Ardi.
Dan dibalas dengan anggukkan oleh Dita. Kemudian Ardi memberikan kemeja itu padanya dan berlalu pergi.
Dita dengan telaten membersihkan kemeja tersebut. Setelah kemeja itu bersih, ia kemudian mengeringkannya di gantungan belakang dapur. Kemudian ia segera membuat kopi yang baru. Ketika ia telah selesai dengan kegiatannya, ia segera bejalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti melihat Ardi yang sudah kembali dengan menggunakan kemeja lain.
“Kamu mau kemana?” Suara Ardi menghentikan langkah Dita.
“Seharusnya saya mengantarkan kopi ini pak, untuk pak Agung. Tapi kopinya sudah tumpah ke kemeja bapak.” Jelas Dita dengan raut wajah sedikit kecewa.
“Oh begitu, saya minta maaf, karena saya kamu harus membuatkannya lagi.”
“Bukan pak, bukan maksud saya membuat bapak tak enak hati, saya yang salah jadi sudah seharusnya saya membuatnya lagi.” Ucap Dita yang mengetahui bahwa bosnya melihat raut wajahnya.
“Baiklah, kalau begitu bisa kamu buatkan juga satu untuk saya?”
“Baik pak, akan tetapi bisa kan pak setelah saya mengantar kopi ini untuk pak Agung, saya takut pak Agung sudah menunggunya sedari tadi.”
“Oke, saya tunggu diruangan saya.” Kemudian ia pergi.
Dengan berhati-hati Dita mengantar kopi tersebut hingga sampai tepat di ruangan Agung, yang adalah kepala HRD di perusahan itu. Ia segera mengetuk pintu, dan tak lama ada sahutan yang menyuruhnya untuk masuk.
“Masuk” Ucap Agung yang terlihat kesal.
Dita masuk dan meletakan kopinya di atas meja kerja Agung.
“Kenapa lama sekali?” Tanya Agung
Belum sempat Dita menjawab ia sudah dicecar dengan beberapa pertanyaan lagi.
“Apa segitu susahnya hanya untuk membuatkan kopi saja? Apa begini cara kerja kamu? Lambat seperti siput.” keluh Agung
“Maaf pak, saya tidak akan mengulanginya.” Jawab Dita.
“Baiklah, jangan ulangi lagi kesalahanmu dan silahkan kamu kembali keruanganmu.” Tegas Agung.
“Baik pak, saya permisi.” Dita sedikit kecewa atas apa yang di katakan oleh atasannya tersebut, yang tidak tahu menahu apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
******
Dita segera kembali kedapur dan membuat secangkir kopi lagi, kemudian ia bergegas keruangan Ardi untuk memberikan kopi pesanan bosnya itu. Ia berjalan dengan hati-hati tak mau kesalahannya terulang kembali. Kini ia sudah di depan ruangan itu, ia ketuk pintu itu.
“ Masuk.” Sahut lelaki yang memiliki diruangan itu.
“Ini kopinya pak, maaf jika saya terlalu lama.” Ucapnya.
“Tak apa, letakan saja di meja santai saya di ujung sana.” Jawab Ardi yang sibuk memainkan jarinya di layar tipis ipad-nya sementara jari tangan kirinya menunjuk meja yang tepat berada di pojok ruangan tersebut.
“Saya permisi pak.” Ucap Dita setelah ia meletakan kopi tersebut.
“Terimakasih.” Jawab Ardi yang masih sibuk dengan benda pipih tersebut.
Dita segera keluar dan kembali ke meja kerjanya yang sudah setengah jam ia tinggalkan.
******
Jam sudah menunjukan pukul 17.00 waktunya untuk pulang. Seluruh karyawan sudah bersiap-siap dan membereskan semua berkas-berkasnya. Tak lupa juga Widya yang sudah selesai beberes. Ia segera mendekati meja Dita yang tepat di belakangnya.
“Ayo, Dit. Waktunya back to home.” Dibalas anggukan oleh Dita. Dan dengan semangat Widya membatu Dita untuk membereskan barang-barangnya.
“Kamu mau gak aku ajak main ke rumah aku?” tanya Widya
“Mau, mau” ucap Dita semangat.
“Oke, kali ini kita akan kerumah aku.” Balas Widya.
“Tapi---”
“Bukannya aku tidak mau Wid,” Kata Dita terputus, yang langsung disamber oleh Widya.
“Terus apa dong?”
“Aku tidak membawa persiapan.” Jawab Dita
“Tenang saja, tak perlu membawa persiapan, kan ada aku. Kamu bisa memakai barang-barangku seperti aku yang memakai barang-barangmu kala itu.” Jelas Widya yang sudah mengerti apa yang akan di bahas oleh sahabatnya itu. Ya sahabat, Widya sudah menganggap Dita sebagai sahabatnya.
“Tapi---” Belum sempat dita meneruskan perkataanyan Widya langsung menyaber.
“Tidak ada penolakan.” Ungkapnya tegas dengan raut wajah cemberut.
“Baiklah, baiklah, tak usah cemberut begitu dong.” Ucap Dita menghibur sahabatnya yang sedang ngambek.
Kemudian Widya sengaja berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan Dita, ia sengaja berbuat demikian untuk mengerjai sahabatnya itu.
“Wid, Widya, tunggunin dong” ucap dita sedikit berteriak. Dita yang tak mau ketinggalan segera berlari mengejar langkah sahabatnya.
Sementara Widya hanya tertawa, dan sesekali ia melihat kebelakang untuk memastikan sahabatnya itu masih mengikutinya.
Widya tiba di depan lift, namun Dita belum juga muncul.
“Aku yakin ia mengikutiku, tapi kemana dia?” batinnya.
3 menit sudah Widya menunggu kehadiran Dita. Akhirnya yang ditunggu tiba.
__ADS_1
“Lama amat si lo Dit, si amat aja gak lama-lama.” Ucapnya yang sengaja kembali memasang wajah kesal.
“Maaf Wid,” sambil menarik nafasnya yang terengah-engah. “Kamu jalannya kaya kereta ekspress sih” ucap Dita kemudian menarik nafas.
“Hahahaha, baru segitu aja dah ngos-ngosan lo Dit.” Ucap Widya usil
“Kamukan tahu Wid, aku punya riwayat penyakit sesak nafas. Jadi ya manalah bisa aku kejar kamu yang jalannya secepat kereta ekspress.”
“Maaf Dit, maaf sekali aku melupakan perihal itu.” Ucapnya yang merasa bersalah dengan apa yang sudah diperbuatnya.
“Oke, tidak apa. Ayo kita pulang.”
Widya menekan tombol turun pada dinding dekat lift. Dan tak lama lift pun terbuka. Mereka berdua memasuki lift, dan mereka terkejut saat melihat atasannya yang berada di dalam lift saat ini.
“Sore, pak.” Ucap Widya dan Dita bersamaan.
Hanya di balas senyuman simpul oleh Ardi.
Kemudian keadaan hening beberapa saat.
“Dita, apakah kemejaku sudah kering” ucap Ardi
“Oh ya ampun, saya lupa pak.” Ucap Dita sambil menepuk keningnya.
Hal tersebut mampu membuat Ardi tertawa.
“Nanti setelah keluar dari lift saya akan mengambilnya pak. Kok bapak malah tertawa?” ucap Dita yang terheran, karena ia bukannya mendapatkan amarah dari bosnya.
“Kamu lucu,” ucap Ardi.
“Eheemmm..... masih ada saya loh disini, tolong jangan membuat saya iri” ucap Widya usil
“Loh, ada orang ternyata,” balik Ardi sehingga membuat kesal Widya.
“Ya, kita disinikan memang orang pak,” jawab Dita dengan polos.
Yang kemudian dibalas tawa oleh Widya dan Ardi
“Kan, kamu beneran lucu,” ucap Ardi
Belum sempat Dita berkata, suara dentingan lift sudah berkumandang dan menghentikan tawa Ardi dan Widya.
Kemudian mereka bertiga keluar dari lift.
“Wid, bentar ya aku ambil kemeja pak Ardi dulu.”
“Oke.”
“Saya duluan ya,” ucap Ardi
“Loh, kemejanya pak?”
“Tolong suruh Dita untuk membawanya, permisi.” Setelahnya Ardi melangkah pergi.
“Bapak, mau modus ya” teriak Widya.
__ADS_1
Ardi segera mengisyaratkan jari telunjuknya menuju belahan bibirnya. Hal itu semakin membuat Widya tertawa.