Jatuh Cinta Pandangan Pertama

Jatuh Cinta Pandangan Pertama
Berubah


__ADS_3

Setelah dirasa lelah dan kantuk akhirnya Natasha memilih untuk kembali ke penginapan.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di hotel tersebut, kini ia sudah memasuki kamarnya. Dengan wajah sembab ia mencoba untuk menatap dirinya pada kaca kamar mandi dan melihat betapa hancurnya ia saat ini. Setelah dirasa cukup, kemudian ia membersihkan diri.


"Salahkah aku telalu mengharapkanmu?" isaknya sesekali.


20 menit sudah Natasha berada dikamar mandi, akhirnya ia keluar juga. Ia segera mengenakan piyamanya lalu berbaring dan tertidur lelap.


******


Pagi telah tiba, kini saatnya Ardi dan Natasha bergegas untuk kembali ke kota X. Ardi sudah terlihat rapi dengan kemeja kasualnya. Sedangkan Natasha juga sudah terlihat rapi dan cantik dengan balutan blousenya yang berwarna ungu, seakan menambah kecantikannya.


"Ayo, masukkan barang-barangmu" ujar Ardi


"Ya," jawab Natsha singkat. Kali ini ia tak banyak bicara seperti sebelumnya.


Ardi segera duduk di kursi kemudinya, kemudian Natsha duduk di sebelahnya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tak ada sepatah katapun yang mereka ucapkan. Hingga tak terasa mereka sudah setengah perjalanan dan sebentar lagi akan sampai.


"Kamu langsung pulang saja, tidak usah ke kantor" suara Ardi yang memberhentikan lamunan Natasha.


"Ya, apakah boleh?" tanyanya


"Tentu saja, kerjaan kita telah selesai dan lagian besok merupakan hari weekend. Jadi kamu istirahat saja." Ardi memberi waktu Natasha menenangkan diri, karena ia tak enak dan kasihan pada Natasha atas penolakannya kemarin malam.

__ADS_1


"Baiklah." jawab Natasha


Ardi sedikit merasa heran atas perubahan sikap Natasha, namun Ardi tak mau ambil pusing. Ia berfikir bahwa keputusannya semalam adalah hal yang benar. Ia tak mau memberi harapan kosong kepada seorang gadis, ia lebih suka berterus terang.


Keheningan mulai terjadi lagi. Kini hanya hembusan angin yang terdengar. Baik Natasha dan Ardi tak ada satupun yang memulai pembicaraan setelah pembicaraan sebelumnya.


Tak terasa 6 jam lamanya mereka di perjalanana dan kini mereka sudah sampai tepat di depan gerbang rumah Natasha.


Natasha yang masih termenung tak menyadari hal tersebut. Hingga akhirnya Ardi membuyarkan lamunannya.


"Sudah sampai, kamu tidak turun?" kata Ardi yang sudah berada di samping mobilnya sambil memegang barang milik Natasha.


"Ahh... apa? maaf aku tak menyadarinya. Kalau begitu aku akan menurunkan barangku terlebih dahulu." ia keluar dari mobil.


"Barangmu sudah turun nona."


Ardi hanya menjawab dengan klakson mobilnya. Kemudian ia melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan pulang Ardi masih mengingat pembicaraannya dengan Natasha malam itu. Ardi juga tak menyangka jika Natasha masih mencintainya selama ini. Dia berfikir bahwa mengapa sampai sejauh ini, jelas-jelas bahwa sebelumnya ia mengatakan tak mencintai Natasha sedikitpun. Tapi ia tak tahu jika Natasha masih mengharapkan cintanya.


"Kamu cantik, kamu pintar dan kamu sangat sexy, namun aku juga tak tahu-menahu mengapa hatiku tak tergubris olehmu. Jangan salahkan aku, cinta tak mungkin dipaksa. semoga kamu menemukan yang terbaik untukmu." ucapnya.


Setelah berucap demikian ia melirik jam tangannya. Ia melihat bahwa masih ada waktu untuk menemui wanita pujaanya. Yah, ini masih pukul 13.00 tentu saja masih ada waktu. Ia sudah merindukan wajah wanita yang saat ini menjadi pujaannya, kakinya segera menancapkan pedal gas mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan tinggi seakan tak ingin melewatkan sedikitpun waktu untuk segera menemui wanitanya.


Namun apalah daya, jalanan seakan tak mendukungnya. Saat ini jalanan sungguh macet parah, panas terik matahari membuatnya emosi.

__ADS_1


"Macet sialannn, mengganggu waktuku saja. Kau tak tahu aku begitu merindukannya." kesalnya.


5 menit berlalu.


Ia yang tak sabar bolak balik mengklakson mobil yang berada tepat di depannya. Hingga membuat pengemudi lainnya ikut mengklason.


Sampai 15 menit berlalu, akhirnya ia terlepas dari kerumunan mobil-mobil lainnya.


"Aku benci dengan keadaan ini yang sengaja membuang waktuku yang sangat berharga." umpatnya.


"Oh ayolah, semoga saja di lain tempat tak ada kemacetan lagi." harapnya.


Ardi menggerutu seperti ibu-ibu yang sedang mengantri panjang.


"Kamu sedang apa cantik?" pikirnya yang sedang membayangkan wajah Dita, hingga tak sadar bahwa ada seseorang yang akan menyebrang.


"Aaahhhh..." teriak seorang wanita yang hampir saja tertabrak. Untung saja Ardi tepat waktu untuk menginjak rem mobilnya.


Ia keluar untuk memastikan keadaan wanita yang hampir di tabraknya.


"Apa ibu baik-baik saja?" tanyanya


"Untung saya baik-baik saja nak. Kalau menyetir jangan melamun dong." keluh ibu tersebut.


"Baik bu, ini saya kasih uang untuk ibu berobat." jawab Ardi.

__ADS_1


"Terimakasih ya nak, hati-hati."


"Iya, Bu. Saya pamit ya bu." Kemudian Ardi masuk kemobilnya dan melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2