
"Artis kantor kita itu adalah...." Widya menahan perkataannya
"Siapa si Wid, serius nih"
"Itu cewek yang tadi pagi lo sapa di lobby" jawab Widya.
"Ohh jadi bu Natasha artis disini, boleh dong nanti kita minta foto bareng" Dita bersemangat layaknya orang yang melihat artis idolannya.
"Udah aah Dit, gue mau kembali ke meja gue aja. Ampun gue lihat lo"
Widya segera meninggalkan meja Dita.
"Lah, kok pergi sih?" tanya Dita.
Dita yang melihat teman-temannya membubarkan diri, akhirnya ia kembali memutar kursi kerjanya dan menatap layar komputernya. Lalu ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 06.52 itu artinya dia harus memulai pekerjaannya.
******
Dita telah selesai berkutat dengan komputernya. Ia segera menyimpan file kerjanya agar tak hilang. Setelah itu ia mematikan layar komputernya.
"Waktunya makan sianggg" suara Ninda menggema di dalam ruangan itu.
"Lo kalau udah waktunya makan aja semangat bener" kata Egi yang juga karyawan disitu, yang mejanya bersebelahan dengan Dita.
"Iya harus dong. Lo kayak gak tahu aja kalau perut gue gak terbiasa keroncongan." jawab Ninda
"Iya iya, kita semua disini udah pada paham kok, kalau perut lo gak segera diisi nanti yang ada didalam tuh pada joget akang gendang, tung tak tung iya kan, gitukan suaranya?" kata Egi sambil tertawa.
"Ee lo ya.. Di biarin makin ngelunjak, awas lo ya" kesal Ninda.
"He sudah-sudah" kata Dita sedikit mengeraskan suaranya yang melihat Ninda dan Egi kejar-kejaran, sementara karyawan yang lain malah tertawa melihat tingkah Ninda dan Egi.
Ninda dan Egi tak kunjung juga menyelesaikan aksi kejar-kejaran mereka yang seperti kucing dan tikus itu. Akhirnya Widya bersuara
"Woii, entar kalian berdua berjodoh baru kapok" ejek Widya.
Dan setelah itu mereka akhirnya berhenti.
"Ihh amit-amit gue kalau sampai berjodoh sama mak lampir kayak dia" kata Egi sambil mengelus dada bidangnya.
"Emangnya lo pikir gue mau gitu sama lo" jawab Ninda sarkastik. "Ogah banget gue sama mak bucin kayak lo" sindir Ninda.
"Eee lo ya.." Egi mulai mendekati Ninda.
"Apa lo, lo mau nampar gue?" jawab Ninda menantang Egi.
Egi mendorong bahu Ninda, "Untung lo cewek, kalau gak gue babat lo" kata Egi menaikan sebelah alisnya dan kemudian pergi.
__ADS_1
"Udah dong Nin," kata Wisnu yang menyaksikan pertikaian mereka.
"Dia tuh yang mulutnya kayak bebek, ngatain perut gue akang gendang dan gue mak lampir segala lagi."
"Sudah, sudah. Ayo kita makan" jawab Widya yang menenangkan Ninda.
"Yok..." kata Ninda yang mulai tenang dan kembali bersemangat.
Widya dan Ninda segara berjalan menuju pintu keluar.
"Eh, tungguin aku dong" kata Dita yang buru-buru mengambil bekal yang ia bawa tadi pagi.
Namun belum sampai Dita di ujung pintu keluar langkahnya terhenti ketika melihat Ardi berada di depan pintu.
"Haii, mau makan siang?" sapa Ardi.
"I-iya" jawab Dita kikkuk seraya menundukkan kepalanya.
"Makan siang bareng yuk" ajak Ardi.
"Ta-tapi saya sudah bawa bekal" jawab Dita.
"Sudah gak apa-apa, kamu makan bekal kamu nanti saya pesan makanan saya"
"Emangnya kita mau makan dimana?" tanya Dita.
"Oh iya, kalau di restoran seberang sana gimana?"
"Jadi dimana? Atau dikantin kantor ini saja?"
"Jangan disitu juga, nanti dilihat karyawan yang lainnya gimana?" kata Dita
"Emangnya kenapa kalau mereka melihat kita berdua?" tanya Ardi serius.
"Saya malu" jawab Dita menunduk.
Ardi paham betul maksud perkataan Dita, ia tahu bahwa Dita tak ingin digosipin oleh karyawan lainnya.
"Baiklah kita makan disini saja" kata Ardi kemudian.
Ardi mulai membawa Dita untuk kembali duduk di kursi kerjanya, dan kemudian ia menarik kursi lainnya untuk duduk di samping Dita.
"Bapak tidak pesan makanan?" tanya Dita.
"Saya sudah memesan tadi, tetapi belum datang juga." jawab Ardi sambil melihat jam ditangannya.
"Bagaimana kalau bapak makan bekal saya saja." tawar Dita.
__ADS_1
"Terus kamu makan apa?" tanya Ardi.
"Maksud saya kita berbagi saja pak, setengah bekal saya untuk bapak setengahnya lagi untuk saya." jelas Dita
"Ooo, baiklah. Tetapi bagaimana caranya? Saya tidak membawa piring." kata Ardi
Dita mulai berpikir, "Kalau bapak tidak keberatan saya suapi saja gimana? tanya Dita.
"Hah, begitu lebih baik" jawab Ardi bersemangat.
Ini adalah momen yang Ardi tunggu-tunggu.
Kemudian mereka mulai makan dan sedikit bercanda gurau. Sesekali Dita tertawa mendengar cerita Ardi.
Natasha yang sudah kembali dengan membawa pesan Ardi, segera keruangan Ardi. Namun ia tak menemukan Ardi disana. Kemudian ia turun kebawah untuk memcari Ardi. Ia sampai di lantai 5, dan di lihatnya seorang karyawan yang akan turun kebawah. Ia bertanya pada karyawan itu.
"Apa kamu melihat pak Ardi?" tanya Natasha.
"Kalau saya tidak salah lihat, tadi bapak masuk ke ruangan itu deh bu" jawab karyawan itu.
"Baiklah terimakasih" jawab Natasha kemudian berjalan menuju ruangan yang dimaksud.
Sesampainya Natasha di depan pintu masuk ruangan itu matanya terbelalak melihat kejadian yang tak pernah ia lihat, bahwa Ardi disuapi makan oleh Dita dan mereka tertawa bersama.
"Ini tidak bisa dibiarkan, awas kamu ya" geram Natasha sambil mengepalkan tangannya.
Ardi yang tak sengaja menoleh ke arah pintu itu melihat Natasha dan kemudian berkata
"Kamu sudah datang, mana makanan yang saya pesan?" tanya Ardi.
"I-ini pak, maaf saya lama pak" jawab Natasha yang mulai berjalan mendekati Ardi dan Dita.
Kemudian ia menyerahkan pesanan Ardi.
Ardi mengeluarkan pesanannya dari kantung plastik dan membukanya, lalu menyerahkannya kepada Dita.
"Suapi aku lagi" kata Ardi.
Natasha yang belum juga pergi, melihat hal itu hatinya sudah panas terbakar.
"Kamu sedang apa disini? Kamu tidak makan?" tanya Ardi.
Kata-kata Ardi sungguh menusuk tajam jantung Natasha namun ia tetap harus sabar
"Eh iya pak, kalau begitu saya permisi." jawab Natasha yang sedari tadi menahan air matanya.
Ia pun keluar, dan berjalan menuju ruanganya.
__ADS_1
Sesampainya ia diruangannya, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes
"Mengapa kau setega itu padaku, apa kau tak tahu bahwa aku begitu mencintaimu. Mengapa kau memilih dia? Apa kekuranganku?" teriakan suara Natasha yang tertahan.