
Happy reading 😊😊
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Seminggu telah berlalu, sejak kejadian penolakan sebelumnya kini wajah cantik Natasha berubah drastis. Penampilan yang selalu ia jaga, kini seakan tak terurus dan acak-acakan. Sejak kejadian itu pula ia memutuskan untuk cuti selama seminggu. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Ardi tak mencintainya. Sakit yang ia rasakan juga belum sembuh. Hatinya hancur berkeping-keping, pria yang ia harapkan akan menjadi pendamping hidupnya tak sedikitpun memberi hati untuknya.
Sudah tiga hari pula Natasha tak keluar sedikitpun dari kamarnya, kini tubuhnya terlihat kurus bagaikan mayat hidup. Kedua orangtuanya yang selalu sibuk hingga tak mempunyai waktu untuk sekedar melihat keadaan putrinya pun tak menyadarinya.
Hari ini ia akan ke kantor karena masa cutinya telah berakhir. Natasha mulai berjalan keluar kamarnya, dan kini ia menuju dapur. Bibi Shila yang menjadi asisten rumah tangga di rumahnya pun terkejut melihat keadaan nonanya tersebut.
“Nona, apa yang terjadi?” tanya Shila khawatir.
“Saya laper, bik.” Ucap bibir pucat itu.
“Nona mau makan apa? Biar bibi siapkan.”
“Apa saja bik.”
“Baiklah, sebentar ya non. Bibi akan siapkan makanan kesukaan non Tasha.” Jelas bik Shila.
Natasha berjalan menuju meja makan, sembari menunggu bibi Shila menyiapkan sarapan untuknya, ia memutuskan untuk membaca majala.
25 menit lamanya bibi Shila berkutat di dapur, akhirnya ia menyelesaikan tugasnya. Ia memasak spaghetti, ini adalah makanan favorit Natasha.
“Silahkan di makan nona.” Ucap bik Shila.
“Terimakasih, bik.”
__ADS_1
“Sama-sama non.”
“ Oh iya, apakah papa dan mama sudah berangkat bik?” tanyanya kemudian.
“Sudah non, Sudah setengah jam yang lalu.” Jelas bik Shila.
Natasha melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 05.50 yang berarti kedua orangtuanya sudah berangkat sejak subuh tadi. Ya kedua orangtuanya selalu pergi sepagi ini, entah apa yang mereka lakukan di pagi buta seperti itu sehingga tak memiliki waktu untuk berkumpul bersama. Untuk sekedar basa-basi pun mereka tak sempat, apalagi untuk memperhatikan keadaan putrinya.
“Baiklah bik, mama dan papa selalu saja seperti itu. Hanya mementingkan pekerjaan dan pekerjaan sampai-sampai anak sendiri tak terurus.” Gerutunya.
“Mungkin tuan dan nyoya ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda, non.” Jelasnya untuk menenangkan hati nonanya.
Dan dibalas hembusan nafas olehnya, seraya merasa kesal akan ketidak pedulian kedua orangtuanya padanya.
“Maaf ya non, sebelumnya bibi mau tanya kenapa penampilan nona jadi seperti ini? Nona ada masalah?” tanya bik Shila, yang sedari dulu mengenal Natasha dan merawatnya serta sebagai teman curhatnya dikala ia sedih.
“Bibi, hanya bibi yang selalu peduli denganku. Sehingga bibi selalu memperhatikan keadaanku.” Ucapnya terisak namun masih tetap mengunyah makanannya.
“Ini masalah hati bik,” ucapnya
“Nona sedang putus cinta?” tanya bik Shila.
“Lebih dari sekedar putus cinta bik, ini patah hati bik. Lelaki yang ku cintai tak mencintai Tasha bik.” Sedikit demi sedikit air matanya mengalir membasuh pipi mulusnya.
“Sabar non, jika dia memang jodoh non Tasha pasti Tuhan akan mengembalikannya untuk nona. Tetapi jika dia bukan jodoh non Tasha, mau sekeras apapun nona memperjuangkannya maka tak kan ada hasilnya. Nona jangan bersedih, Tuhan sudah atur semuanya, yang terbaik untuk umatnya.”
Natasha merenungkan apa yang baru saja dikatakan oleh bibinya itu, ia mulai membuka pikirannya. “Benar apa yang bibi katakan, selama ini aku sudah berjuang hingga sejauh ini namun sampai detik ini aku tak mendapatkan hasil yang kumau. Apa aku harus mengakhiri perasaan ini saat ini juga?” batinnya.
__ADS_1
“Non, non Tasha, jangan melamun non nanti kesambet lo,” ucap bik Shila yang memperhatikan mimik wajah nonanya itu.
“Eh, iya bik.” Sadarnya. “Makasih ya bik, karena bibi selalu perhatian dan menjadi pendengar setia semua curhatanku.”
Kemudian mereka saling berpelukan, layaknya seorang ibu yang memeluk putrinya dengan pelukan hangat dan penuh rasa sayang, begitu pula sebaliknya Natasha memeluk bibinya itu. Pelukan hangat ini yang selalu menjadi candu baginya dan rasa sayang ini yang membuatnya begitu nyaman sehingga ia lebih menyayangi bibinya dibandingkan ibunya.
“Sekarang habisin dulu makanannya non, keburu dingin nanti.” Ucapnya sambil mengelus pundak gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya itu.
“Iya bik, masakan bibi tak pernah berubah, selalu enak.” Pujinya.
“Non Tasha bisa aja deh.” Balasnya, meninggalkan meja makan.
Tasha adalah panggilan sayangnya sedari dulu, ia menyayangi gadis itu seperti putrinya sendiri. Baginya Tasha adalah gadis kebanggaannya. Shila memang mempunyai seorang anak namun ia tak mempunyai seorang putri, maka dari itu ia selalu memberikan kasih sayangnya kepada Tasha yang ia anggap sebagai putrinya.
******
Natasha telah menyelesaikan sarapannya, kini ia berjalan meninggalkan dapur dan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia segera membersihkan diri. Kurang lebih 20 menit akhirnya ia keluar, kali ini dengan penampilan yang berbeda, ya sekarang penampilannya terlihat segar bugar kembali seperti semula. Ia mulai memoles wajah mulusnya dengan sedikit make up sehingga menambah kecantikannya.
Hari ini ia besiap-siap untuk ke kantor, Ia sudah terlihat rapi dengan balutan blouse berwarna merah senada dengan blazer yang ia kenakan, seakan menambah kecantikan di wajahnya. Kulitnya yang putih mulus menjadi nilai plus bagi setiap orang yang melihatnya.
“Bik, Tasha berangkat ya” pamitnya pada Shila.
“Iya non, hati-hati ya. Semangat, genbate” ucapnya.
Tasha tertawa geli melihat kelakuan bibinya yang seakan tak mau ketinggalan dengan bahasa anak melenial kini.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia memikirkan apa yang sebelumnya disampaikan oleh bibinya itu.
__ADS_1
“Aku harus bisa melupakannya, harus. Bagaimanapun aku sudah berusaha, hatinya memang bukan untukku. Mungkin akan berat bagiku, tapi dengan demikian aku akan menjadi lebih baik. Untuk apa mengharapkan orang yang tak pernah mencintaiku? Sedikitpun hatinya tak tergubris oleh kehadiranku. Aku lelah, Aku mundur, Aku menyerah, Aku kalah. Ya kalah untuk kemenangan yang lain. Aku sudah ikhlas jika dia memang bukan jodoh yang Tuhan berikan untukku. ” gumamnya. Kemudian ia menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskanya. Kini hatinya terasa tenang dan damai.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, comment dan jadiin cerita favorite kalian. Please🙏 Mohon dukungannya😉🙏