Jatuh Cinta Pandangan Pertama

Jatuh Cinta Pandangan Pertama
Gosip


__ADS_3

Akhirnya Natasha tiba di sebuah gedung perkantoran yang begitu luas. Ia memarkirkan mobilnya kemudian turun dan berkaca sedikit merapikan penampilannya.


"Aku harus bisa ikhlas” –batinnya.


Ia berjalan menuju lift dengan tampang yang memukau dan sedikit senyum dibibir mungilnya, sehingga hal tersebut membuat karyawan yang melihatnya penuh keheranan. Pasalnya gadis yang selalu sombong dan tak pernah tersenyum kepada siapapun kecuali pada pria tampan kini memberikan senyuman terbaiknya ke setiap karyawan yang berpapasan dengannya.


Natasha berjalan melenggak-lenggokkan pinggul indahnya sehingga menambah keindahan yang ada dalam dirinya. Dengan santai ia menyapa salah satu karyawan yang akan masuk ke lift.


“Hai...” sapanya pada gadis cleaning servis di perusahaan itu yang sedang menunggu lift turun.


“H-hai bu,” jawabnya terbata-bata. Ia begitu kaget karena ia tahu betul dengan pemberitaan siapa Natasha dan bagaimana perilakunya, salah satu perilakunya adalah ia tak akan pernah menyapa karyawan lainnya jika ia tak di sapa lebih dulu. Dan saat ini apa yang terjadi sungguh bertolak belakang dengan sifatnya.


“Mau ke atas?” tanya Natasha.


Dibalas anggukan oleh gadis itu.


“Ayo masuk,” ajaknya pada gadis itu ketika lift sudah terbuka.


Ia masih diam mematung. Gadis itu tak percaya, sebab selama ini semua pemberitaan tentang siapa Natasha dan bagaimana perilakunya seketika berubah pada hari ini. Ia sungguh-sungguh tak menyangkanya.


“Hei, ayo. Apakah kamu akan diam di situ terus?”


“Ba-baik bu, saya ikut” sadarnya, kemudian ia melangkahkan kakinya.


Di dalam benaknya banyak sekali timbul berbagai pertanyaan, ingin rasanya ia bertanya tapi ia takut jika itu akan membuatnya dalam masalah. Ia memilih diam dan beberapa kali sedikit melirik ke arah Natasha.


“ Ada yang salah dengan penampilan saya?” tanyanya yang sejurus kemudian melihat tatapan gadis itu saat melirik ke arahnya.


“Ti-tidak bu, Ibu kelihatan cantik.”


“Apakah saya cantik hanya pada hari ini?”


“Pertanyaan apa ini,” gerutu gadis itu.


“Apa yang harus aku katakan?” Pikirnya.


“Hei, haloo. Apa kamu mendengar saya?” tanya Natasha.


“Ma-maaf bu, ibu cantik setiap hari, akan tetapi hari ini ibu lebih cantik lagi karena ditambah senyuman manis yang terukir indah di wajah ibu.” Jawabnya dengan lantang tanpa ragu walau jantungnya sudah berdegup kencang.


“HAHAHA,” tawanya “Kamu pandai merayu juga ya.” Jawabnya kemudian.


“Bukan begitu maksud saya bu,”


Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya suara dentingan lift pun berbunyi.


“Saya duluan ya,” Natasha kemudian keluar.


“Ah, hampir saja aku sport jantung. Terimakasih lift.” Ucap gadis itu. Kemudian ia juga keluar dari lift.


*******


Natasha tiba di ruangannya yang sudah seminggu ia tinggalkan. Di sandarkannya kepalanya di kursi panas miliknya.


Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang mendekati ruangannya. Sejurus kemudian pintunya terbuka.


“Hai, Sha.” Sapa seorang pria yang mengisi hatinya selama bertahun-tahun.


“Hai,,,” jawabnya dengan seulas senyuman di bibirnya.

__ADS_1


“Bagaimana kabarmu? Are you Oke tak?” tanya Ardi.


“Ya, seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja bukan?” jawab Natasha.


“Iya sih, aku lihat kamu sudah lebih baik dari kejadian yang lalu.” Singgung Ardi.


“Maaf, jika sebelumnya aku terlalu memaksamu untuk menerimaku.” Ucap Natasha, kali ini ia berucap tidak dengan kemarahan namun dengan senyuman manis.


“Tidak perlu meminta maaf, karena aku tahu itu berat untukmu. Bertahun-tahun kamu bertahan mencintaiku, namun aku tak pernah membalas perasaanmu. Aku akui Sha kamu begitu tulus mencintaiku. Akan tetapi kita juga harus ingat bahwa cinta tak bisa di paksakan.” Ucap Ardi.


“Ya, kamu benar. Untuk itu aku takkan memaksamu lagi.” Jawabnya.


“Baiklah, sekarang kita akan tetap berteman. Dan kita akan berjuan untuk mendapatkan cinta kita masing-masing.” Ucap Ardi tersenyum hangat dan menyodorkan jari kelingkingnya seperti mengikat janji. Awalnya ia tak menyangka bahwa jawaban Natasha akan berbeda dari sebelumnya, tetapi kini ia legah mendengar jawaban Natasha.


“Oke, kita berteman,” sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ardi. “Mari kita temukan cinta sejati kita.” Ucapnya kemudian.


“Baiklah nona, aku harus kembali ke ruang kerjaku. Karena jadwalku begitu padat hari ini apakah kamu siap menemaniku menemui rekan kerja kita setelah makan siang nanti?” ucap Ardi sambil bergurau mencolek hidung Natasha.


“Baik Bos, saya siap.” Jawabnya mengangkat tangan kanannya dan memberi hormat kepada Ardi.


Kemudian mereka tertawa bersama.


******


Ardi sudah bosan di ruang kerjanya. Tak terasa sudah tiga jam berlalu ia berkutat dengan laptop kesayangannya. Kini ia merenggangkan tangannya, tampaknya ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengambil ponselnya kemudian mengetikkan sebuah pesan untuk seseorang.


“Hai, apakah pekerjaan kamu telah selesai?” isi ketikan pesan di ponselnya.


Tring..


Tanda pesan masuk di ponselnya.


“Apa kamu ada waktu luang dalam minggu ini?” tanya Ardi.


“Ada, besokkan hari sabtu waktunya weekend. Emangnya ada apa?” tanya gadis itu lagi.


“Aku ingin mengajakmu jalan.” Jawab Ardi tanpa basa-basi seperti kebanyakan pria lainnya.


5 menit kemudian. Pesan itu belum ada balasan dari sang empunya nomor tersebut. Siapa lagi yang empunya nomor tersebut jika bukan Dita. Iya, Dita gadis yang sedari tadi Ardi kirimi pesan.


“Kemana sih, kok belum di balas”- tanya batinnya yang sedari tadi menunggu.


“Oke, Aku akan tunggu sampai makan siang nanti. Jika ia belum membalas pesanku juga aku akan datangi ruang kerjanya setelah selesai meeting.” Oceh Ardi yang tak sabar.


******


Jam dinding menunjukkan pukul 12.10 tiba waktunya untuk istirahat dan makan siang.


Dita, Widya dan kawan-kawannya berjalan menuju kantin. Sepanjang perjalanan ke kantin mereka asik bercanda ria namun candaan mereka terhenti akibat suara riuh yang berasal dari kantin. Tak jauh dari posisi mereka kini mereka melihat para karyawan lainnya sedang membicarakan sesuatu.


“Gue gak nyangka dia bisa berubah, serius dah. Dia kesambet setan apa selama gak ngantor?” ucap Laila.


“Wah,wah, wah ada apa ini? Siapa yang kesambet setan oi?” tanya Widya yang sudah lebih dulu mendekati Laila. Disusul oleh Dita dan yang lain.


Salah satu karyawan yang bernama Anes membuka suara.


“Wid, lo harus tahu berita ini.” Ucap Anes dengan heboh.


“Berita apa?” tanya Widya.

__ADS_1


“Lo, ada jumpa sama artis perusahaan ini gak?”


“Enggak tuh, emang kenapa dia?” tanya Widya serius.


“Wah kali ini dia gak seperti biasanya Wid,” jawab Anes.


“Ya baguslah, emang gimana dia hari ini?” tanya Ninda. “Gak buat tingkah yang aneh-anehkan?” tanyanya lagi.


“Beh, jauh beda Nin, gak biasanya deh.” Ucap Ema.


Dita hanya mendengarkan percakapan mereka tanpa merespon apa pun.


“ Beda gimana maksudnya?” ucap Widya.


“Hari ini tuh dia cakep banget nget nget deh pokoknya.” Jawab Ina.


“Kan biasanya emang cakep, maksudnya apaan sih?” protes Ninda, tak sabar menunggu penjelasan teman kerjanya.


“Waduh, kali ini dia lebih cakep, perfect deh gak tahu lagi gue ngomongnya. Dan lo semua tau dia kan, dia tuh gak biasanya senyum ke semua orang tapi kali ini dia senyum sumringah oi ke kita semua yang dilantai bawah. Sekarang semua karyawan lagi pada ngomongin dia. Dan asal lo pada tau yang buat lebih kaget lagi yaitu kebiasaanya yang lain juga berubah gays.” Jelas Anes.


“Wah, Wah kesambet apa dia? Kebiasaan apa lagi yang berubah oi?” tanya Widya.


“Dia gak akan nyapa kita kalau kita gk nyapa dia duluan kan gays?” tanya Ina.


“ He eh” jawab Widya dan Ninda


.


“Tadi pagi dia nyapa salah satu office girl di kantor kita.” Ucap Laila.


“Oh OMG, gak mungkin gays, mustahil banget.”


Kata Widya sambil menggelengkan kepalanya.


“Ha, gue gak salah denger nih?” tanya Ninda


“Beneran,” jawab Ina, Laila, Ema dan Anes kompak.


“Siapa? Siapa OG yang di sapa tu mak lampir” celetuk Ninda.


“Neni,” ucap Ica yang sedaritadi diam dan kini buka suara.


“Lo yakin? Gak salah apa dia nyapa Neni?” kata Widya ragu.


“Enggak, gak salah gays tadi gue denger sendiri, dan gue juga udah pastiin ke Neni.” Jelas Ica.


“O waw, seminggu gak masuk terus berubah. Gimana kalau sebulan gk masuk kantor ya?” celetuk Ninda. “Kepala dia gak terbentur kan?” celetuk Ninda lagi sambil mendayu-dayukan suaranya meniru Natasha.


“Hahahaha” tawa mereka


“Lo emang the best kalau meniru mak lampir.” Kata Widya mengacungkan ibu jarinya.


“Ih kalian ada-ada aja deh, kawan berubah baik kok malah di gosipin.” Celetuk Dita yang sedari tadi diam kini ikut menanggapi obrolan mereka.


“Yaelah, gue baru sadar kita salah menggosip gays.” Ucap Ninda.


“Salah gimana maksudnya?” tanya Ica.


“Iya, kita salah kalau udah menggosip di depan ibu peri ha ha ha.” Jawab Ninda di selingi tertawa.

__ADS_1


Dan mereka semua pun ikut tertawa, kecuali satu orang nih yang gak ikut tertawa, ya, dia Dita, yang hanya tersenyum kecut sambil memanyunkan bibirnya.


__ADS_2