
"Ayo, apakah kau akan terus seperti itu disini?
Suara itu kemudian membuyarkan pikiran Anindita.
"Aa i..ya, jika aku tidak merepotkanmu aku akan ikut pulang bersamamu" jawabnya gugup
"Ayolah, tentu saja tidak merepotkan. Ayo masuk"
Dalam hatinya, ini kesempatanku untuk lebih mengenalnya.
Anindita masuk ke mobil Ardi, Ia memilih untuk duduk di belakang. Namun Ardi yang sudah terlihat sedikit kesal berkata
"Aku bukan sopirmu, ayo duduk didepan bersamaku"
" A.. Ii..ya. Maaf"
"Kau selalu saja mengatakan maaf, maaf dan maaf"
Tak ada jawaban dari Anindita. Ia bergegas pindah kedepan.
Anindita pun duduk didepan bersama Ardi.
Ardi memang membawa mobil sendiri, sebab ia tidak ingin jika hari-harinya hanya di temanin oleh sopirnya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata telah melihat mereka dengan tersulut emosi yang menggebu.
Dia adalah Natasha.
"Aku saja yang bekerja dengan dia selama ini, tidak pernah bisa pulang bersamanya, bagaimana wanita itu bisa pulang dengannya? Siapa wanita itu? Aku harus mencaritahunya". Sambil mengepalkan kedua tangannya.
******
Mobil melaju dengan santai. Tak ada percakapan diantara keduanya.
Hingga akhirnya, Ardi berkata
"Dimana alamatmu?"
"Di jl. xxxx No.5"
__ADS_1
"Oke, ternyata kita searah"
Tak ada jawaban dari Anindita, dia hanya diam dan gugup. Karena ini adalah hari pertama ia pulang diantar oleh seorang pria, terlebih lagi pria tersebut sangat tampan.
Ardi memulai percakapan
"Kamu karyawan baru ya?"
"Iya. Kamu karyawan juga di perusahaan itu?" tanya Anindita dengan polosnya.
Ardi pun tersenyum, dan berkata dalam hatinya "bagaimana bisa dia tidak mengenali atasannya?"
"Heloooo" Terdengar suara Anindita
"Ahh, maaf. Aku bukan karyawan diperusahaan itu, tetapi aku merupakan pemilik perusahaan itu". Katanya sambil tersenyum
Ahhh manisnya, a..ap..apa katanya tadi? Anindita yang mulai tersadar. Dia pemilik perusahaan itu? Aduh bagaimana ini. Aku salah bicara gak ya dari tadi?.
"Ma..maaf, maaf pak jika perkataan saya telah menyinggung perasaan Bapak" katanya yang gugup.
"Tidak apa-apa anggap saja saya seperti karyawan yang lain, tidak perlu seformal itu. Oh ya, perkenalkan saya Ardinanta Nugroho, panggil saja Ardi".
"O ayolah tidak usah seformal itu, Dit. Saya juga manusia biasa, panggil saja nama saya jika di luar kantor"
"Ba.. Baik pak, eh.. Ardi"
"Sepertinya kamu bukan asli sini yah? tanya Ardi kemudian.
"Eh.. Iya pak, saya memang bukan asli orang sini. Saya merantau disini"
"Ooo.. Jangan panggil pak dong, emangnya saya sudah terlihat tua ya?"
"Maaf, saya segan kalau panggil nama, lagiankan kamu atasan saya"
"Kita kan sedang diluar kantor jadi kamu panggil nama saya saja"
"Baiklah, jika menurut kamu begitu"
"Oh ya, kamu asli mana?"
__ADS_1
"Saya dari kota Y, tapi masih jauh dari kotanya"
"Kamu disini sama siapa?"
"Saya tinggal sendiri disini"
"Emangnya orangtua kamu ngijinin anak gadisnya tinggal sendirian di kota sebesar ini?"
Raut wajah Dita berubah, seperti ada kesedihahan yang diratapinya. Ia juga meneteskan air mata di pipi kanannya, namun segera ia hapus.
Ardi yang melihat Dita demikian, kemudian berkata
"Maaf, jika aku telah melukai perasaan kamu"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya teringat dengan kedua orangtuaku"
"Apa mereka sudah tiada? Maaf jika perkataan saya lancang" Tanya Ardi yang ikut merasakan kesedihan Dita
Dita menarik nafas, dan kemudian menjawab pertanyaan Ardi
"Mereka memang sudah tiada sejak saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Orangtua saya meninggal karena kecelakaan" Jelas Dita
"Turut berduka cita, dan maaf telah mengingatkanmu akan kejadian itu"
Dita menarik nafas dan membuangnya dengan kasar seperti merasakan kelegaan.
"Hmm.. Tentu saja dimaafkan" Jawab Dita kembali ceria
"Kamu tidak marah?"
"Tentu saja tidak, aku malah legah dapat menceritakan masalahku yang selama ini aku pendam sendiri. Terimakasih berkat kamu perasaanku jadi sedikit plong seperti tak ada beban"
"Sama-sama. Aku senang kamu kembali ceria"
Dita tersenyum dengan bahagia
Senyum aja udah buat hatiku bergetar. -Batin Ardi
Hening
__ADS_1
******