
******
Akhirnya mereka sampai dan mobil Ardi berhenti tepat di depan rumah Anindita. Lebih tepatnya rumah kontrakan Anindita.
"Terimakasih pak, eh Ardi" Dita Menoleh menghadap Ardi sambil tersenyum.
"Sama-sama" Ardi tersenyum manis
Dita yang melihat Ardi tersenyum seketika hatinya meleleh, "Manisnya senyum pria ini" gumamnya
Dan rasanya ia ingin sesegera mungkin berteriak histeris namun kesadarannya segera kembali. Ia pun memilih untuk segera turun sebelum ia berharap yang tidak tidak.
Dita ingin turun, namun tangan Ardi yang menarik lengan tangan Dita dengan pelan seketika itu juga menghentikan langkahnya. Dita menunduk dan melihat tangan Ardi menyentuh lengannya.
Deg..
Deg..
Deg..
Deg..
Deg..
bunyi detak jantung Dita yang memompa dengan cepat seperti ingin keluar, hal tersebut disebabkan oleh sentuhan tangan Ardi yang mengenai kulit lengan Dita.
Kemudian terdengar suara Ardi yang menghentikan langkah Dita.
"Tu..tunggu" Kata Ardi terbata bata
__ADS_1
Dita pun menatap ke arah pemilik suara tersebut.
"Ya, a..ada apa Ardi?" tanya Dita yang sudah keringat dingin.
"Bolehkan aku meminta nomor ponselmu?" tanya Ardi.
Dita semakin bersemangat dan rasanya ia ingin sekali loncat dan berteriak sekencang mungkin. Hal yang tak diduga terjadi, apa ini? - pikirnya
Betapa bahagianya ia seorang pria tampan yang meminta nomor ponselnya. Namun nyatanya ia harus tetap pada kesadarannya. Jika tidak maka ia akan sangat malu dihadapan seorang pria bertingkah seperti itu.
"Yah, tentu saja boleh" Jawab Dita tersenyum
Dalam hatinya, kenapa aku langsung mengiyakannya? Aduh bagaimana jika ia berpikir bahwa aku ini wanita murahan?
Tidak, tidak. Jika aku tidak memberikannnya maka ia akan menganggap aku sok jual mahal, sudah tidak cantik tapi mau jual mahal. Pikirnya kemudian
Ardi yang melihat Dita tersenyum seketika hatinya menjadi meleleh, "Manisnya gadisku. Gadisku? Apa-apaan aku ini" pikirnya.
"Tolong kamu simpan disini" Ardi memberikan ponselnya kepada Dita.
Dita mengambil ponsel Ardi dan segera mengetikkan nomor ponselnya.
"Sudah aku simpan"
Dita menyerahkan kembali ponsel milik Ardi.
Kemudian Ardi mengecek nomor ponsel yang disimpan oleh Dita, dan Ardi langsung menelpon nomor tersebut.
Ponsel Dita pun berdering.
__ADS_1
Ia segera mengambil ponselnya, dan terlihat nomor baru yang telah menghubunginya.
"Itu nomor ponselku" Jawab Ardi ketika Dita menunjukkan ponsel genggamnya kehadapan Ardi.
"Ok.. saya simpan yah?" tanya Dita
"O ya, silahkan disimpan, dan jika butuh bantuan segera hubungi aku"Jawab Ardi
"Terimakasih, senang berkenalan denganmu" jawab Ardi sekali lagi.
"Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Dita tersenyum
"Senang berkenalan denganmu juga. Kamu tidak singgah?" tanya Dita
"Lain kali saja" jawab Ardi
"Baiklah, terimakasih atas tumpangannya"
Ardi mengangguk dan tersenyum ramah.
Dita segera masuk ke rumahnya. Begitu juga Ardi segera meninggalkan rumah Dita ketika Dita sudah masuk ke rumah tersebut.
Sepanjang perjalanan Ardi tersenyum, entah mengapa ia merasa bahagia sekali saat bersama gadis tersebut.
"Anindita Claudia, Cantik sesuai dengan namanya. Gadis yang Manis dan Ceria. Rasanya aku ingin selalu didekatnya" Gumamnya.
Sepertinya aku mulai tertarik padanya. - Pikirnya kemudian.
Ardi melajukan mobilnya dengan pelan.
__ADS_1
Karena hari ini hari rabu maka jalanan yang biasanya dilalui oleh Ardi pun terlihat padat dan sangat macet. Apa lagi ini adalah waktunya karyawan berpulangan dari tempat mereka bekerja. Untuk sampai di kediamannya yang biasanya hanya memakan waktu 40 menit dari kantornya ke rumah, begitu pun sebaliknya namun kali ini ia harus memakan waktu satu setengah jam untuk sampai di rumah. Sehingga hal ini membuat Ardi sangat sangat lelah dan telat untuk sampai di kediamannya.