
Ardi sampai di lantai 12, tempat dimana ia menghabiskan hari-harinya untuk bekerja. Sebelum ia memasuki ruang kerjanya ia memilih untuk menghampiri ruangan Natasha.
"Sha, setelah ini apa jadwal gue selanjutnya?" tanya Ardi yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Hal tersebut membuat Natasha kaget, dan segera menghapus air matanya agar tak terlihat oleh Ardi.
"Jam 2 nanti kita ada meeting dengan klien di restoran garuda" jawab Natasha memalingkan wajahnya yang masih metes air mata.
"Kamu kenapa?" tanya Ardi.
"Tidak, tidak apa-apa hanya sedikit pusing" jawab Natasha tersenyum meyakinkan Ardi.
"Ooo, minumlah obat agar mengurangi rasa pusingmu" kata Ardi.
"I-iya" jawab Natasha.
"Hanya itu saja jadwal ku hari ini?" tanya Ardi kembali.
"Iya, hanya itu saja." jawab Natasha
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali keruanganku. Tolong kamu siapkan berkas-berkas untuk meeting nanti" kata Ardi, kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Huhf...." Natasha bernafas legah. Dalam hatinya, "Aku harus bagaimana? Haruskah aku menyakiti gadis itu?. Tidak, itu tidak mungkin. Dia terlalu baik, dan polos. Tapi aku tidak akan membiarkannya mendekati Ardi lagi, aku akan memberinya sedikit pelajaran."
******
Tepat pada Jam 2 siang Ardi dan Natasha telah sampai di restoran garuda untuk mengadakan meeting bersama kliennya. Begitu pula dengan klien mereka yang telah sampai sebelum mereka.
"Maaf, Pak Bram" kata Ardi yang kemudian menarik salah satu kursi pada meja itu.
"Maaf kami terlambat pak" ucap Natasha.
__ADS_1
"Tidak, ini adalah waktu yang tepat" jawab Bram yang merupakan klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan Ardi.
Natasha memulai persentasenya.
Tak terasa 30 menit sudah Natasha melakukan persentase mengenai kerjasama yang akan mereka lakukan.
"Saya terima kerjasama ini, dan saya sangat suka sekali dengan penjelasan yang diberikan oleh Sekretaris Pak Ardi" ucap Bram yang merupakan klien Ardi.
Berkat kecerdasan Natasha mereka berhasil mengajak Bram untuk bekerja sama, dan Bram sangat tertarik dengan penjelasan yang diberikan oleh Natasha. Ia langsung menandatangani kontrak perjanjian itu.
"Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik." Bram menjabat tangan Ardi
"Terimakasih pak, semoga berjalan dengan baik." jawab Ardi menerima jabatan tangan Bram.
"Saya permisi" ucap Bram kemudian meninggalkan Ardi dan Natasha.
"Kamu memang sangat berbakat," puji Ardi setelah klien mereka meninggalkan restoran itu. Ardi memang mengakui kecerdasan Natasha, namun ia tak pernah memiliki perasaan terhadap Natasha. Ia hanya mengaguminya.
"Baiklah kalau begitu mari kita kembali ke kantor." ajak Ardi
******
Tak memerlukan waktu yang lama, mereka telah tiba di kantor. Mengingat waktu jam pulang masih lama Ardi segera kembali keruangnnya dan meninggalkan Natasha seorang diri di Lobby perusahaan.
Natasha pun merasa kesal akan sikap Ardi yang tak peduli padanya. "Iihh" kesal Natasha. Kemudian ia berjalan menuju lift, saat sampai di depan lift ia tak sengaja melihat Dita yang juga ingin berjalan menuju lift.
"Hei, kamu" panggil Natasha
"Ibu memanggil saya?" tanya Dita yang menunjuk dirinya.
"Iya, kamu, tolong kemari dan bantu saya" tegas Natasha.
__ADS_1
Dita berjalan mendekati Natasha.
"Apa yang bisa saya bantu buk?" tanya Dita
"Tolong kamu bawakan semua barang-barang saya" jawab Natasha, "Hari ini aku akan mengerjaimu" Batinnya.
"Baik buk" jawab Dita
Dita kemudian berjalan menuju lift.
"Eitts, tunggu sebentar" Natasha menghentikan langkah Dita.
"Iya buk, ada apa?" tanya Dita heran.
"Siapa yang suruh kamu naik lift, kamu harus naik tangga darurat" jawab Natasha sinis dan penuh penekanan.
"Hah.. Ibu gak salah ini kan berat buk?" tanya Dita meyakinkan
"Kamu mau melawan saya? Atau saya akan laporkan kamu kepada bos kita?" Natasha sedikit mengancam Dita.
"Emm.. Baiklah buk" wajah Dita memucat dan ia mulai berjalan menuju tangga darurat.
"Anak ini begitu penurut, sekali gertak saja sudah ketakutan. Rasakan, ini baru permulaan" batin Natasha
******
Dita sudah sampai di lantai 4, ia sudah merasa lelah dan kram di kakinya. Apalagi ditambah dengan bawaan yang begitu banyak di tangan kanan dan kirinya. Ia menarik nafasnya dan kemudian melanjutkan perjalannnya yang masih jauh.
Keringat yang mengucur deras di pipi dan kening Dita juga di bagian punggungnya sudah basah sehingga membuat pakaiannya menerawang.
Dita sampai di lantai 6, rasanya ia sudah tak tahan lagi. Ia pun memilih untuk berhenti sejenak menarik nafasnya.
__ADS_1
"Huft.... Lelah sekali, aku sudah tak tahan" gumam Dita.