Jebakan Benih Tuan Billionaire

Jebakan Benih Tuan Billionaire
Bab 10 - Berisi


__ADS_3

Hari itu, Ree kembali memulai pekerjaannya yang sebelumnya sempat tertunda. Ree terlihat lebih bugar daripada kemarin, apalagi Bibi Alena selalu memasakan makanan yang tidak membuatnya mual.


"Bisakah aku berbelanja?" tanya Ree yang sedikit jenuh.


"Pemotretannya sudah selesai dan tidak ada jadwal yang lain. Jadi sore ini anda bisa berbelanja, Nona."


"Ah, baguslah. Tapi aku ingin berbelanja sendiri."


Dona terlihat ragu membiarkan Nonanya pergi sendiri, terakhir kali Ree meminta pergi malah menjadi petaka seperti ini. Tapi mau bagaimana pun Dona harus memberi Nona nya sebuah privasi.


"Baiklah, Nona. Saya harap anda berhati-hati."


"Kau tenang saja." jawab Ree meyakinkan.


Setelah mengganti pakaiannya, Ree dan Dona berpisah di tempat pemotretan. Ree mengemudi dengan lebih tenang daripada malam itu. Hari ini dia berencana untuk berbelanja dan melupakan semua masalahnya sejenak.


Ya, selama pemotretan Ree tidak pernah melupakan masalahnya. Bahkan untuk yang pertama kalinya Ree sampai ditegur oleh sang fotografer.

__ADS_1


"Ck, bodohnya aku." Ree merasa malu jika mengingatnya, bisa-bisanya dia tidak profesional seperti itu.


Mobil Ree terlihat melesat menuju ke pusat perbelanjaan terbesar di Kota New York.


Ree terlihat kalap dengan beberapa barang bagus yang terpajang di store ternama. Ree membeli bermacam-macam dress, sepatu, dan tas. Tapi tiba-tiba saja dia jadi mengingat saudara iparnya-Allea. Jika saja Lea ada disini sudah pasti mereka akan asyik berbelanja. Ree jadi merindukan keluarganya.


Selesai membayar, Ree merasa sangat lapar. Padahal tadi pagi Ree sudah memakan masakan Bibi Alena dan di tempat pemotretan Ree juga sudah memakan beberapa cemilan. Cemilan yang selalu dihindarinya.


"Ya ampun, kenapa perutku lapar sekali?" Ree mulai mencemaskan berat badannya. Otak dan nuraninya menjadi tidak sejalan.


"Oh ayolah daripada aku pingsan kelaparan, lebih baik aku mencari restoran sekarang."


Ree terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Dan akhirnya otaknya kalah diatas nurani, Ree mulai mencari-cari restoran yang masih berada di dalam mall tetapi matanya malah tertuju pada penjual ice cream cone dengan antrian yang lumayan panjang.


Ree sampai rela mengantri hanya untuk mendapatkan ice cream itu. Padahal sebelumnya Ree paling anti antri-antrian.


"Bukannya aku lapar? Tapi kenapa aku jadi membeli ice cream?" lagi, Ree bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Disaat Ree sedang asyik memakan ice cream, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang sangat dikenalinya. Ree sampai tidak berselera lagi untuk memakan ice cream itu.


"Sepertinya ada model kolot di sebelah sini, Baby."


Cih, suara yang sangat menjijikan. Siapa lagi kalau bukan suara Jessa, satu-satunya musuh Ree di dunia permodelan. Ree mendelik, wanita itu bangkit dari duduknya. Dan tampaklah pemandangan yang lebih menjijikan disana.


"Hai!" sapa seorang pria yang sangat-sangat Ree kenali. Pria yang selama tiga bulan belakangan telah menjadi kekasihnya dan sudah menjadi mantan, siapa lagi kalau bukan Jason.


"Apa dia yang kau maksud Baby?"


"Kurasa begitu." sahut Jessa dengan suara yang dibuat semanja mungkin.


"Sudahlah jangan seperti itu. Mau bagaimanapun dia ini pernah singgah di dalam hatiku, benar begitu Nona Rellyn?"


Ree berdecih mendengarnya, hati katanya? Apa arti hati untuk seorang pria yang hanya menginginkan kepuasan?


"Maaf, aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian." lebih baik Ree pergi daripada harus berhadapan dengan kedua manusia gila itu.

__ADS_1


"Eh, tunggu sebentar!" suara Jason menghentikan langkah Ree, "Kurasa badanmu sedikit berisi, sepertinya kau bahagia putus dariku." komentarnya.


__ADS_2