
Hari yang telah ditentukan akhirnya tiba, kedua pengantin tengah dipersiapkan di dua kamar yang berbeda. Acara pernikahan putri keluarga Scouth itu digelar di sebuah ballroom hotel mewah di Brussels, salah satu aset milik Tuan Scouth sendiri.
Di dalam kamar rias pengantin wanita terdengar suara keributan, rupa-rupanya Lea dan Dona sedang berebut untuk menambah riasan di rambut Ree.
"Nona lebih simple pakai penjepit ini." saran Dona.
"Tidak, kau harus memakai pita ini Ree."
"Terlalu ribet Nona."
"Kata siapa? Dulu saat aku menikah, aku memakai pita seperti ini untuk aksesoris rambutku."
"Justru itu Nona, Nona Ree harus berbeda."
"Kau itu tahu apa tentang riasan pengantin? Kau kan belum menikah!" Lea tak ingin kalah.
"Tapi Nona.."
"Ck, berhentilah berdebat. Bukankah ini kepalaku dan juga rambutku? Harusnya kalian bertanya dulu padaku!" potong Ree dengan kesal.
Sementara Bibi Alena hanya bisa menahan senyumnya. Menantu keluarga Scouth itu selalu mempermasalahkan hal kecil sedari tadi.
Ya, saat persiapan pernikahan dimulai Bibi Alena diminta untuk segera menyusul ke Belgia. Oleh karena itu dia ada disini.
"Jadi kau mau memakai yang mana?" tanya Lea pasrah.
"Bibi, tolong pilihkan salah satunya!" pinta Lea pada Alena.
"Kenapa saya Nona?"
"Karena aku ingin bibi yang memilihkan."
Dengan ragu-ragu Alena memilih satu dari dua barang yang ditawarkan pada Ree. Dan pilihannya jatuh pada sebuah jepitan saran dari Dona.
"Maafkan saya, Nona."
Dengan berat hati Lea menganggukan kepalanya, "Tidak apa-apa!" jawabnya ketus.
__ADS_1
Ree sampai geleng-geleng kepala melihatnya, mood Lea akhir-akhir ini mengalahkan mood dirinya yang sedang hamil. Atau jangan-jangan?
"Kau sudah siap sayang?" Liona datang untuk menjemput putrinya, dia baru saja menyambut para tamu-tamu penting bersama dengan sang suami.
"Ya, Mom."
Liona mengulurkan sebelah tangannya untuk menuntun Ree, "Ayo."
Ree menerima uluran tangan sang Mommy dengan sukacita, meskipun dia merasa tidak bahagia dengan pernikahan ini. Tetapi dia tak ingin melewatkan momennya begitu saja.
Di ballroom hotel semua orang tengah menunggu kehadiran sang pengantin wanita. Termasuk Kenzo yang berdiri dengan tegang di atas altar, jantungnya berdegup kencang sementara lututnya terasa lemas.
"Oh ayolah Ken!" yakinnya.
Sampai semua suara tamu undangan benar-benar hening. Kedua bola mata Kenzo mengarah pada Davis terlihat berjalan sambil menuntun tangan seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun pengantinnya.
"Calon pengantinku.." lirih Kenzo sampai tak sadar ternyata Davis sudah berdiri di depannya. Pria paru baya itu menyerahkan tangan putrinya ke atas tangan seorang pria yang akan segera menjadi menantunya.
"Aku menyerahkan putriku padamu, kumohon bahagiakan dia, jaga dia dengan baik jangan biarkan dirinya terluka meskipun hanya sedikit saja. Kasihi dia sebagai mana aku mengasihinya selama ini. Jika kau sudah tidak sanggup memperistrinya maka kembalikanlah dia padaku dengan baik-baik." ucap Davis dengan suara yang tercekat.
Ree hanya bisa menunduk mendengarnya. Sampai tangannya diraih dan digenggam dengan erat.
Acara pemberkatan berlangsung dengan lancar, semua tamu undangan bersorak bahagia disaat kedua pengantin berciuman. Mereka terlihat sangat serasi.
"Kita sudah resmi berbesan Tuan." tegur Kafi.
Davis tertawa mendengarnya dia merangkul pundak besannya dengan senang, "Dari kedua menantuku hanya Kenzo yang masih memiliki orang tua, itupun hanya sebelah."
"Nona Lea?"
"Kedua orang tua Lea sudah meninggal sejak dia kecil oleh karena itu kami sangat menyayanginya."
"Kenzo selalu menyalahkan takdir karena dia terlahir di dalam keluarga yang berantakan."
"Tidak lagi, karena sekarang Kenzo sudah memiliki keluarga baru."
Kafi bahagia sekali mendengarnya, dia hanya berharap semoga Kenzo benar-benar berubah. Karena sebenarnya dia juga belum yakin.
__ADS_1
Sementara di pelaminan, jadwal pengambilan foto dimulai. Pengantin berpose dengan berbagai gaya yang terlihat sangat intim dan itu membuat Lea iri.
"Aku ingin menikah lagi!" cetusnya tanpa sadar.
"Apa!!??" kaget Rells bahkan sampai berteriak.
"Kau itu kenapa?" kesal Lea karena sudah menjadi pusat perhatian akibat Rells yang berteriak.
"Kau ingin menikah lagi Babe? Dengan siapa, apa dengan saudara iparmu itu?"
Lea menepuk jidatnya karena lagi-lagi Rells cemburu pada Kenzo, "Maksudku aku ingin berfoto menggunakan gaun pengantin lagi!"
"Tapi tadi kau bilang.."
"Diamlah, ayo cepat ini sudah giliran kita untuk berfoto dengan pengantin!" ajak Lea. Wanita itu memindahkan Draga ke gendongan suaminya karena harus merapikan dressnya yang semula sedikit berantakan karena ulah bocah kecil itu.
"Ayo cepat!"
Dengan sabar Rells mengangkat tubuh gembul Draga di gendongannya. Sampai bocah kecil itu tertawa karena tak sengaja meraih janggut tipis milik Daddynya.
"Ada apa dengan Mommymu itu Draga?"
Sementara yang ditanya hanya bisa tertawa lagi.
Rells dan Lea melakukan sesi foto bersama dengan pengantin dengan berbagai gaya apalagi Draga juga harus diarahkan supaya terlihat lucu di kamera.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian selalu bahagia. Dan kau.." Rells menatap iparnya dengan mengintimidasi, "Kalau sampai saudariku kenapa-napa maka.."
Rells memeragakan tangan yang memotong dibagian leher. Sementara Kenzo hanya menatapnya dengan datar.
"Apa-apaan sih, Draga melihatnya!" tegur Lea.
"Ya maaf Babe, lagian dia.."
"Ck so berlebihan, tanpa dimintapun Kee pasti bisa menjagaku dengan baik." bela Ree.
"Kee? Ree? Hahaha iya bagus-bagus, pasangan Kee Ree." Rells malah tertawa karena merasa lucu. Tanpa ia sadari kalau Lea tengah menatapnya dengan sengit.
__ADS_1