
Tidak ingin berpikir panjang, Kenzo langsung menginjak pedal gas dengan tujuan rumah sakit. Sesekali pria itu memanggil-manggil nama istrinya.
Sesampainya di rumah sakit Kenzo bergegas turun dan mengeluarkan tubuh istrinya dari mobil. Pria itu berlari ke bagian unit gawat darurat.
"Cepat tangani istriku, dia sedang hamil." pinta Kenzo pada salah satu perawat yang akan membawa istrinya masuk.
"Baik Tuan."
Di luar sana Kenzo mondar-mandir tidak jelas saking paniknya dengan keadaan Ree. Sampai Dokter yang menangani Ree keluar.
"Bagaimana keadaan istriku?"
"Beruntung istri anda baik-baik saja Tuan, dia hanya mengalami kram perut dan hal itu wajar selama masa kehamilan tetapi tidak baik juga jika terjadi terus-menerus. Lebih detailnya anda bisa menghubungi dokter kandungan."
"Baiklah, terima kasih Dok."
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat."
"Aku akan mengurus administrasinya." Kenzo pun membayar semua biaya perawatan istrinya untuk tiga hari kedepan, sesuai intruksi dari dokter. Pria itu meminta ruangan VVIP.
__ADS_1
Tetapi sebelum masuk ke dalam ruangan, Kenzo ingin memeriksa kandungan Ree terlebih dahulu. Wanita itu memang belum sadarkan diri tetapi dokter kandungan yang kebetulan berjaga malam ini mengijinkannya.
Dan ada satu fakta menarik yang mengejutkan Kenzo dari hasil pemeriksaan, yang mungkin selama ini disembunyikan oleh Ree. Atau Ree belum tahu? Tapi rasanya mustahil jika Ree tidak mengetahuinya.
Ternyata bakal calon bayi mereka adalah kembar!
Tapi kenapa Ree menyembunyikan fakta tersebut?
"Sebegitu takutnya dirimu sampai tidak mau memberitahu keberadaan satu dari dua anak kita?" tanya Kenzo pada Ree yang masih nyaman menutup mata.
Kenzo memilih untuk duduk di balkon, karena ini ruang VVIP maka segala macam fasilitas tersedia. Pria itu memejamkan kedua matanya dan menikmati semilir angin malam yang menerpa kulitnya.
Diantara pikirannya tiba-tiba wajah Ree yang sedang tersenyum lebar muncul tetapi sedetik kemudian terdengar suara tangis Ree yang begitu memilukan, Kenzo sampai membuang nafas dengan kasar dan meninju udara.
"Kau memang brengsek Kenzo, dan Ree maafkan aku.." lirihnya.
Keesokan harinya, Ree akhirnya sadar. Wanita itu meringis sakit sembari memegangi perutnya.
"Apa masih sakit?" tanya Kenzo perhatian.
__ADS_1
"Aku lapar!" cetus Ree yang membuat Kenzo menganga.
"Baiklah aku akan meminta pihak rumah sakit untuk mengantar makanan."
"Rumah sakit? Jadi aku di rumah sakit?" Ree membuka lebar-lebar kedua matanya dan memindai seisi kamar dengan teliti.
"Kenapa aku ada disini?"
"Sebentar, aku akan menelpon."
"Aku tidak mau makan makanan rumah sakit, tidak enak!"
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin makan masakan Bibi Alena. Jadi ayo kita pulang!"
"Tidak bisa, Dokter bilang kau masih harus dirawat beberapa hari jadi diamlah di tempatmu. Aku akan menghubungi Bibi Alena untuk mengantar makanannya."
Saat layar ponsel menyala rupanya sudah ada beberapa jejak panggilan masuk dari sang Ayah. Kenzo mengabaikannya terlebih dahulu karena yang paling penting sekarang adalah isi perut istrinya.
__ADS_1
Sementara Ree sedang mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam sampai dirinya berakhir di rumah sakit. Tetapi anehnya Ree tidak mengingat apapun. Yang dia ingat terkahir kali adalah roti tumpuk bernama burger yang terasa begitu nikmat.