Jebakan Benih Tuan Billionaire

Jebakan Benih Tuan Billionaire
Bab 20 - Tekad


__ADS_3

Keesokan harinya Kenzo langsung bersiap. Semalaman penuh ia telah berpikir dan akhirnya Kenzo meminta Bibi Alena untuk memintakan alamat wanita yang sedang mengandung anaknya itu.


"Tuan, apa rencana anda kali ini?"


"Aku akan membawanya kemari, biar saja dia melahirkan disini. Setelah itu akan aku pulangkan."


Bibi Alena sampai memegangi dadanya setelah mendengar ucapan Kenzo, bagaimana bisa Tuannya itu mempunyai pikiran sepicik itu. Dia benar-benar menganggap Ree sebagai mesin pencetak anak.


"Mau kemana kau?" tanya Kafi saat melihat anaknya berdiri di depan pintu utama lengkap dengan sebuah koper kecil di sisinya.


"Menjemput anakku." balas Kenzo enteng.


"Baguslah, kau memang harus menjemput calon menantuku." balas Kafi yang sudah sedikit tahu tentang wanita yang tengah mengandung cucunya itu.


Kenzo hanya bisa mendelik mendengar ucapan ayahnya, jika boleh jujur Kenzo sangat-sangat menyesal. Kalau ia tahu semuanya akan serumit ini maka Kenzo memilih untuk tidak mempunyai anak selamanya. Dia berpikir semuanya akan mudah hanya dengan uang tetapi nyatanya tidak. Dan sekarang semuanya sudah terlanjur terjadi, Kenzo akan berjuang untuk mendapatkan anaknya. Tidak peduli dengan perasaan wanita itu.

__ADS_1


Kenzo menyetir mobilnya sendiri menuju ke bandara, dia memilih pesawat kelas bisnis supaya perjalanannya lebih nyaman.


Membutuhkan waktu selama satu jam dua belas menit untuk sampai di Brussels Airport Company, saat keluar dari wilayah bandara Kenzo langsung singgah ke salah satu restoran terlebih dahulu untuk mengisi perutnya yang kosong. Sedari pagi perutnya belum terisi makanan.


Karena ini sudah sore dan kebetulan tidak ada lagi penerbangan Brussels menuju ke London maka Kenzo memilih untuk menyewa satu kamar hotel. Rencananya dia akan menjemput Ree esok hari.


Sementara di salah satu belahan Belgia lainnya, tampaknya ada salah seorang wanita yang sedang menjawab sebuah panggilan telpon. Raut wajahnya terlihat senang sekali karena sepertinya rencananya akan berhasil.


"Baiklah aku akan menghadapinya, setidaknya dia sudah bersedia untuk datang kemari."


"Lihat saja nanti siapa yang akan kalah Bi. Apalagi calon ayah mertua sudah mendukungku." balas Ree dengan pede-nya. Oh ya ampun kenapa rasanya senang sekali disaat membahas itu, Ree sudah seperti orang yang kebelet nikah saja.


"Saya percaya pada anda, Nona."


"Baiklah terima kasih untuk bantuanmu, Bibi."

__ADS_1


"Tentu saja, Nona. Jaga diri anda baik-baik."


Malam ini Ree sudah kembali ke kediaman Scouth. Selesai menelepon Ree langsung turun ke lantai dua untuk makan malam. Disana sudah ada Davis dan Liona yang menunggu dirinya.


"Maaf, aku sedikit terlambat."


"Duduklah sayang dan makan ini, ini bagus untuk perkembangan janinmu." tawar Liona seraya menyodorkan sepiring makan yang ia buat khusus untuk Ree.


"Kalian berbicara seolah janin itu akan tetap ada, ingat Ree satu hari lagi!"


"Kekasihku sudah ada disini. Dia akan menemui Daddy esok hari."


Davis tersenyum misterius mendengarnya, entah apa yang sedang pria tua itu pikirkan, "Baguslah."


"Mari kita lihat Kenzo Walter. Siapa yang akan kalah setelah ini. Kau sudah berani menjebakku dan menghancurkan semua mimpi yang telah aku susun dengan rapi. Kau pikir hanya dirimu saja yang mempunyai pikiran sepicik itu? Kau salah besar! Aku adalah Rellyn Scouth! Aku bersumpah akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku bahkan jika perlu akan ku buat kau gila sampai tidak mengingat apapun, hanya mengingat namaku!" tekad Ree dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2