
Malam ini Davis dan Kenzo kembali saling bertemu di meja makan. Tidak ada satupun yang menyapa, mereka sibuk dengan makanannya masing-masing.
Setelah selesai Kenzo pun membuka mulutnya lebih dulu, "Aku pamit kembali ke hotel, Tuan. Aku akan berkunjung kemari setiap hari untuk memenuhi syarat-syarat yang anda minta."
"Sayang, kau tidak berbicara padaku." Ree pura-pura merajuk, karena memang dia tidak tahu kalau Kenzo memutuskan untuk tidak tinggal disana.
Kenzo mendekat kemudian mengusap rambut panjang nan pirang milik wanita itu, sejenak mereka memang seperti pasangan yang saling mencintai, "Bersabarlah sebentar lagi kita akan tinggal bersama."
Terenyuh, tentu. Andai saja ini bukan sandiwara maka Ree akan selalu tersenyum bahagia.
"Aku selalu menunggunya sayang." balas Ree sementara Davis masih mengacuhkan Kenzo.
"Dad, apa Daddy tidak mendengar? Calon suamiku sedang berpamitan."
"Pergi saja." sahut Davis tak ingin banyak bicara.
"Ya ampun Dad.."
"Berhenti mengomel Ree telinga Daddy sakit!"
"Tidak apa-apa sayang, baiklah aku pamit sekarang ya." Kenzo menengahi.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu ini sudah malam, istirahatlah!"
__ADS_1
"Tidak, aku tetap akan mengantarmu."
"Ree benar apa kata Kenzo, sekarang masuklah ke kamar dan istirahat." tegur Liona.
"Aku tetap akan pergi, Mom."
"Jangan keras kepala Ree kau itu sedang hamil." tegur Davis lagi.
"Biar saja lagipula tidak akan lama kok." Ree memang ingin sekali mengantar Kenzo. Dia ingin memastikan pria itu baik-baik saja.
"Baiklah, minta sopir untuk mengantar." putus Liona sebelum ayah dan anak itu berdebat.
...---...
"Kapan terakhir kali kau memeriksanya?" tanya Kenzo yang memecah keheningan di dalam mobil.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dokter bilang pertumbuhannya sangat baik, saat itu janinnya masih sebesar kacang."
"Aku benar bukan kalau dia akan menjadi biji kecambah?"
Ree tertawa mendengarnya, biji kecambah itu pernah membuatnya bingung.
"Lain kali aku akan mengantarmu periksa."
__ADS_1
Ree tersenyum-senyum saat membayangkan mereka akan memeriksa kandungan bersama, "Kenapa kau tidak tinggal di mansion saja?"
"Tidak, lebih tepatnya aku tidak ingin merepotkan. Tenang saja aku akan berkunjung kesana setiap hari. Kuharap Daddymu tidak mempersulit persyaratannya supaya kita bisa menikah dan kau harus ikut denganku ke London. Sudah banyak pekerjaan yang aku tunda."
"Apa kau akan pergi ke perkebunan?"
"Banyak klien yang menginginkan aku menjadi pemasok, jadi aku tetap harus menemui mereka kan?"
"Tentu saja. Lalu apa kau tidak membangun perusahaan?" sedikit banyak Ree harus mengetahui pekerjaan Kenzo.
"Untuk apa jika semua pekerjaan bisa dilakukan melalui gadget. Aku juga bisa memantau perkembangan kebun dengan mudah."
"Aku kurang mengerti sistem bisnismu. Aku hanya berharap semoga semua pekerjaanmu selalu mudah."
Kenzo menatap Ree dengan tatapan yang sulit diartikan, harapan Ree terdengar sangat tulus untuknya.
"Sudah sampai. Aku pamit dulu."
"Kau tidak mengajakku turun?" cetus Ree dengan raut wajah kecewa.
"Mungkin lain kali, cepatlah kembali ini sudah malam. Terima kasih sudah mengantar."
Ree mengangguk paham, "Baiklah. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu."
Entah apa yang sedang mereka rasakan, saling memperhatikan tetapi menolak untuk berhubungan. Berlagak seolah-olah apa yang mereka lakukan itu hanya demi anak. Kenzo keluar dari mobil dan melambaikan tangannya. Setelah mobil Ree keluar dari pelataran hotel, pria tampan itu menghela nafas sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
"Sepertinya aku kelelahan dan jantungku mengalami guncangan yang sangat hebat saat hampir diterkam oleh Momo. Malam ini aku akan beristirahat penuh."
Sementara di dalam mobil Ree sedang tertawa sendiri karena dia merasa sangat bahagia, "Mungkin ini bawaan bayi ya." gumamnya.