
Keesokan harinya Kenzo mencoba untuk menemui Ree, meskipun sangat sulit karena harus melewati beberapa pengawal yang menjaga ketat kamar Ree, tentu saja atas perintah Tuan Scouth. Tetapi nyatanya pria itu berhasil masuk dengan cara mengelabui mereka semua.
Saat ini baik Kenzo maupun Ree tidak ada yang bersuara, mereka hanya saling melempar tatapan yang terlihat tidak bersahabat.
"Kalau kau ingin kembali maka kembali saja." ujar Ree memecah keheningan.
"Aku tidak akan kembali."
"Lalu apa maumu sekarang hah?"
"Aku bersedia menikahimu dengan satu syarat."
"Kau berbicara seolah-olah aku yang meminta pernikahan ini."
"Tidak, aku tahu semua ini adalah permintaan ayahmu dan saudara kembarmu itu. Jadi mari kita membuat perjanjian dan hanya kita yang mengetahuinya. Bagaimana?"
"Cih, kau sudah membawaku ke dalam keadaan yang rumit seperti ini. Padahal sebelumnya aku tidak tahu apa-apa tentang kehidupanmu, sebenarnya apa dosaku padamu?" kesal Ree.
Kenzo benar-benar tidak memperdulikan tanggapan Ree dia hanya ingin sebuah jawaban dari wanita itu, "Iya atau tidak, keputusan ada padamu."
"Perjanjian apa itu? Aku tidak mungkin menyetujuinya begitu saja."
"Aku akan meminjam laptopmu."
Akhirnya Ree menyerahkan laptop miliknya, biarkan saja Kenzo ingin mengetik apa disana. Ree tidak peduli! Wanita itu malah asyik memperhatikan wajah Kenzo yang terlihat sangat serius dan sialnya Kenzo terlihat lebih tampan dengan raut wajah seperti itu.
__ADS_1
"Tidak-tidak, kau tidak boleh jatuh cinta duluan Ree!" gumamnya, wanita itu sampai mengetuk-ngetukan jarinya di kepala untuk menyadarkan diri.
"Sudah, bacalah ini!" Kenzo mengarahkan layar laptop menghadap Ree. Ree mulai membaca kalimat demi kalimat yang tertera.
"Baiklah, aku setuju." Ree menyetujui isi perjanjian itu dengan mudah membuat Kenzo mengernyit heran.
"Kau yakin?"
"Aku yakin, setidaknya bayi ini akan lahir ke dunia dan aku tidak akan menjadi pembunuh dadakan."
Bukannya menjawab, Kenzo malah menyipitkan kedua matanya untuk mencari sebuah kebohongan dari raut wajah Ree. Tapi sialnya tidak ada, wanita itu terlihat sangat tulus.
"Kenapa melihatku seperti itu hah?"
"Tunggu dulu, aku juga mempunyai satu syarat untukmu."
"Apa itu?"
"Kau tahu arah mainku bukan?"
"Ya, aku mengerti."
"Baguslah kita harus saling membantu untuk meyakinkan Daddy."
"Apapun itu yang terpenting anakku baik-baik saja." jawab Kenzo yakin. Ree hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Dimana printer nya?"
Ree menunjuk pintu lain yang berada di dalam kamarnya, Kenzo langsung mengangguk paham.
"Mommy tidak akan membiarkan kalian berdua dibawa begitu saja. Mari kita buat Daddy jatuh cinta pada Mommy!" ucap Ree dalam hati seraya mengelus permukaan perutnya.
Pada intinya di dalam surat perjanjian itu tertera, pernikahan Ree dan Kenzo hanya berlangsung selama masa kehamilan Ree saja. Setelah melahirkan keduanya harus bercerai. Hak asuh anak mereka nanti akan jatuh pada tangan Kenzo bagaimanapun caranya. Dan Ree tetap akan mendapatkan sebagian harta Kenzo sebagai gono-gini. Kenzo akan menyembunyikan identitas Ree sebagai ibu dari anaknya supaya Ree bebas untuk kembali fokus dengan karir modellingnya.
Tanpa menunggu Kenzo selesai mencetak surat itu, Ree memutuskan untuk keluar dari kamar dan menemui Daddynya guna menyampaikan kabar tersebut.
"Panggil si brengsek itu kemari!" pinta Davis pada salah satu pelayan.
"Dia ada di kamarku."
"Kamarmu? Bagaimana bisa bukankah aku menempatkan beberapa orang disana?"
"Aku tidak tahu Dad. Kekasihku memang orang yang sangat gigih."
"Kau masih memuji-mujinya setelah dia menolak untuk menikah?"
"Sebenarnya dia bukan menolak Dad, dia hanya terkejut dengan permintaan Daddy." Ree mencari pembelaan. Setidaknya Davis tidak akan curiga kalau sebenarnya mereka itu tidak saling mencintai.
"Terserah kau sajalah, berbicara denganmu tidak ada benarnya."
"Aku masih tidak mengerti kenapa kedua anakku membuat kekacauan yang sama." keluh Davis.
__ADS_1