
Pertemuan itu dilanjutkan dengan acara makan malam dengan ditetapkannya tanggal pernikahan, kedua belah pihak setuju kalau acaranya akan digelar dua puluh hari dari sekarang mengingat kehamilan Ree yang semakin hari akan semakin membesar.
"Kau senang?" tanya Ree dengan datar.
"Maksudmu?" Kenzo balik bertanya, pria itu sampai menoleh bingung padahal saat itu dia sedang mengecek laporan perkebunan yang dikirim orang kepercayaannya.
"Tidak ada."
Kenzo sampai tidak enak hati mendengar pertanyaan Ree yang sepertinya tengah mengejeknya.
"Kau baik-baik saja kan? Jangan terlalu banyak pikiran itu tidak baik untuk kandunganmu."
"Ya, aku tahu." jawab Ree dengan ketus.
Kenzo menghela nafas panjang, sejak di rumah sakit Ree seperti membatasi diri. Dan itu berhasil menyita perhatian Kenzo, dia selalu mengingat ucapan Liona pada saat itu.
"Ada apa? Jangan menyimpannya sendiri berbagilah denganku."
"Aku lelah, aku ingin istirahat. Kembalilah ke hotel!"
"Aku memang akan pergi tetapi Ayahku masih asik mengobrol dengan Daddymu."
"Terserah!"
__ADS_1
"Baiklah aku keluar, selamat beristirahat." tak lupa Kenzo menarik selimut milik Ree sampai setengah tubuh wanita itu tertutupi.
Saat Kenzo benar-benar keluar dari kamarnya disaat itu pula Ree menggeram kesal, "Kenapa perlakuanmu itu seolah-olah memperdulikan aku? Padahal aku tahu kau hanya memperdulikan anakku!"
Kali ini Ree sadar, dengan tidak tahu malunya Ree sudah jatuh cinta kepada seorang Kenzo. Pria yang telah menjebak dirinya untuk mengandung benihnya. Pria lancang dengan segala keegoisannya. Seharusnya dia merasa dendam bukan merasakan hal konyol seperti ini, sungguh tidak adil!
...---...
Hari begitu cepat berlalu, persiapan pernikahan sudah hampir selesai. Dan sekarang adalah jadwal kedua pengantin untuk melakukan fitting baju yang terakhir.
Lea begitu mudah diandalkan, wanita itu selalu membantu ibu mertuanya untuk menyiapkan hari penting sang ipar.
"Jam 9 tepat Ree!" teriak Lea di ambang pintu.
"Oh ya ampun calon pengantinku yang selalu bermalas-malasan. Seperti tidak bersemangat."
"Kau tahu kan? Hamil membuatku menjadi cepat lelah oleh karena itu aku malas kemana-mana."
"Ya, aku tahu. Tetapi Rellyn yang aku kenal itu tidak seperti ini."
"Sudahlah ayo cepat." Ree mengalihkan pembicaraan, wanita itu melenggang pergi meninggalkan Lea yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Draga bersama Daddy lagi?" tanya Ree karena tak melihat keberadaan keponakannya.
__ADS_1
"Ya, ayah mertua selalu mengambil alih pekerjaan dengan tepat."
"Sebaiknya kau produksi anak lagi supaya Daddyku menjadi kepala panti asuhan."
"Ck, bibirmu itu." geram Lea.
"Bukankah kau akan memberinya dua cucu sekaligus? Jadi biarkan aku menundanya dulu."
"Kau pikir aku akan tinggal disini?"
"Ah iya kau benar juga."
Ree memutar kedua bola matanya malas, setelah menikah iparnya yang cantik dan mempesona ini menjadi sedikit telat berpikir mungkin karena pengaruh buruk dari suaminya.
Ingatkan Ree kalau suami Lea itu adalah saudara kembarnya!
"Kita sudah sampai, kau sudah mengabari Kenzo kan?"
"Tentu saja sudah." jawab Ree berbohong. Karena sebenarnya dia tidak peduli dengan pria itu lebih tepatnya berpura-pura tidak peduli.
"Ayo turun ,aku yakin kau pasti suka dengan desain gaun pilihanku."
Ya, Ree menolak untuk menentukan gaun pernikahannya sendiri. Dia malah mempercayakan semuanya pada Lea karena sebegitu tidak pedulinya dia dengan pernikahan ini.
__ADS_1