
Hal seperti inilah yang aku khawatirkan bahwa dia menganggap aku mengakhiri hubungan kita karena kejadian tadi malam, padahal aku ingin kita berakhir baik-baik. Tapi jika aku tunda terus maka ini semua tidak akan pernah berhenti.
“Tidak seperti ini yang aku rencanakan, Mas. Tadi malam itulah sebenarnya surat itu ingin aku berikan. Itulah mungkin yang membuatku menangis tidak karuan semalaman. Bukan karena Mas sakit tapi lebih karena alam selalu membuatku bingung dengan keadaan kita. Selama ini aku benar-benar bingung dengan sikapmu, Mas. Aku bingung. Dan keputusan ini bukan tidak aku pikirkan dengan matang, tapi memang ini harus aku yang hentikan agar kita tidak saling menyakiti lagi. Aku ingin bahagia mengenang cintamu, Mas. Bukan mengenangmu dengan deraian air mata.”
Dia terdiam tanpa sanggahan apa pun. Aku yakin pikirannya pun kacau..
“Mas, selama ini aku selalu bilang aku tidak suka melihat punggungmu ketika Mas berjalan meninggalkanku, jadi aku mohon kali ini biarlah aku yang pergi duluan agar aku tidak mengingat punggungmu saat kita benar-benar berpisah.”
Lalu aku pun berdiri dan bersiap meninggalkan Mas Danial yang masih terpaku di tempatnya. Aku merasakan pergelangan tanganku diraih oleh Mas Danial.
“Dek, apakah harus seperti ini?”
“Mas, coba tanya hatimu yang terdalam bukankah ini sebenarnya yang terbaik buat kita? Aku yakin Mas sebenarnya ingin mengakhiri hubungan yang memang dari awal kita sangat tahu tidak ada masa depannya, namun Mas tidak tega dengan aku, kan? Maka biarkan aku saja yang menghentikan ini Mas. Aku akan belajar ikhlas, Mas.” Sambil melepaskan genggaman tangannya, aku berjalan meninggalkan laki-laki yang begitu aku cintai itu. Aku tidak ingin menengok ke belakang agar aku tidak lemah saat melihatnya lagi. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak tumpah dan membuat Mas Danial berlari mengejarku.
Aku lega Mas Danial tidak berusaha mengejar sampai aku masuk ke mobil. Barulah aku menumpahkan semua air mata dengan bebas.
Pernah aku berpikir sedang berjalan dengan tangan yang seolah digenggam seseorang
Semakin kencang aku diajak berlari olehnya
Lalu tanganku terlepas, entah di titik mana tangan kami tak lagi bersama
Kemudian aku tersadar, dari awal aku hanya berjalan, berlari sendirian
Imajinasiku saja yang berharap ada yang menggenggam tanganku
Hatiku tidak akan pernah cukup untuk cinta
Aku selalu saja terluka sendiri
Dan saat ini, aku hanya menunda luka yang mungkin saja membunuh jiwaku untuk selamanya
__ADS_1
Tidak ada yang perlu aku sesali lagi
Karena senja bukan penguasa hari
Begitulah akhir hubungan kami yang semuanya tidak ada dalam rencanaku. Akhir yang aku rencanakan indah dengan menghabiskan malam melihat bintang-bintang dan berbicara bagaimana cinta mengajarkan kami banyak hal. Menerima cinta tanpa syarat, berpisah tanpa rasa sakit hati. Tapi mungkin keinginanku itu tidak akan pernah terjadi karena tidak ada perpisahan yang indah, yang ada adalah selalu tentang kesedihan dan air mata.
*****
Dua minggu, Mas Danial tidak menghubungiku sama sekali. Antara aku menunggu atau memang aku hanya penasaran apakah Mas Danial menerima keputusan itu atau tidak. Dan aku meyakinkan diriku, bahwa dia menyetujuinya dengan terbukti dia tidak berusaha untuk meminta penjelasan atau untuk aku mempertimbangkan kembali.
Sesekali aku meneteskan air mata ketika duduk terbengong di kantin kantor. Pasca perpisahan memang butuh waktu dan proses pembiasaan.
Aku nikmati hari-hariku menjalani proses itu, di mana aku bisa menangis sejadi-jadinya karena aku begitu merindukannya. Di mana aku berharap saat itu Mas Danial khilaf dan meneleponku dan memintaku untuk kembali.
Namun, aku juga lega itu tidak terjadi, karena kalau itu sampai terjadi saat aku sedang lemah, maka tidak akan baik dengan proses pembiasaanku.
Malam ini aku sendirian di rumah, Jingga dan mbaknya sedang menginap di rumah kakeknya. Aku melihat jam yang ada di handphoneku. Sudah sangat larut, tapi aku belum bisa memejamkan mata. Untungnya besok hari Sabtu sehingga aku bisa bebas bangun siang.
Lalu aku membuka pintu rumah dan betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang berada di balik pagar rumah.
“Hana,” gumamku.
Bergegas aku berlari untuk membuka pagar rumah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi yang aku lihat Hana datang sendirian tanpa ditemani kakaknya lagi seperti dulu.
Aku mempersilakan dia masuk dan mengambilkan segelas air putih karena aku sempat melihat bibirnya yang sangat pucat. Dia datang tanpa riasan sedikit pun, tampak matanya sangat layu dan lelah seperti kurang tidur.
Cukup lama kami terdiam membisu. Aku tidak punya keberanian untuk memulai pembicaraan. Namun, aku bisa menangkap bahwa dia datang bukan tanpa sebab. Hal besar sedang terjadi antara dia dan suaminya, Mas Danial.
“Aku boleh minta tolong?” ucapnya lirih setelah cukup lama kami diam.
“Iya, Mbak, boleh.”
__ADS_1
Dia tertawa kecil dengan suara parau mendengar jawabanku yang terkesan tanpa pikir panjang. Karena hal yang paling besar yang bisa kulakukan sudah aku lakukan, yaitu berpisah dengan Mas Danial. Apalagi yang bisa diminta oleh seorang istri pada wanita yang berusaha memiliki suaminya, selain menghilang dari hidup mereka.
“Kenapa kamu tidak bertanya apa yang aku mau minta? Bisa jadi aku memintamu meninggalkan suamiku atau menghilang dari hidup kami.”
“Karena aku tidak punya hak untuk menolak itu, Mbak.”
“Kamu itu aneh, mana ada wanita yang mau melakukan itu terlebih dia mencintainya.”
“Aku bisa apa, Mbak? Bukankah aku tidak pantas merampas kebahagiaanmu?”
“Hubungan aku dan Mas Danial sebenarnya tidak baik-baik saja. Rumahtangga kami pernah beberapa kali hampir karam. Kehadiranmu sebenarnya hanya memperburuk saja. Kedatanganku dulu tidak lebih dari rasa penasaran, siapa wanita yang bisa membuat hati Mas Danial tergerak lagi. Awalnya aku tidak tahu tapi perubahan sikap Mas Danial yang semakin perhatian padaku yang selama ini tidak pernah dia lakukan membuatku berpikir. Lalu akhirnya tanpa sengaja aku mendengar percakapan kalian berdua di telepon."
Mata Hana menerawang.
"Saat itu Mas Danial sedang mengakui bahwa dia semakin menyayangiku setelah dia menyayangimu. Aneh, tapi naluriku sebagai istrinya tidak terima walaupun seharusnya aku bahagia bahwa dengan dia semakin menyayangimu dia juga semakin menyayangiku.”
Hana menarik napas panjang kemudian melanjutkan kalimatnya.
“Sekarang Mas Danial sedang dirawat di rumah sakit, seminggu lebih dia tidak sadarkan diri sehingga saat ini dia dalam perawatan intensif.”
Deg!
Jantungku rasanya terlepas dari tubuhku. Apa yang terjadi dengan laki-laki yang begitu aku cintai itu? Apakah dia menghilang tanpa kabar itu karena dia mengalami hal yang besar sehingga dia jatuh sakit? Pikiranku berkecamuk.
“Sebelum Mas Danial dibawa ke rumah sakit memang terjadi pertengkaran hebat di antara kami berdua. Dia meminta izin untuk menikahimu. Dia tidak ingin menyembunyikan hubungan kalian terlalu lama yang pada akhirnya menimbulkan fitnah dan dosa. Tentu saja aku sebagai istri tidak terima dan terjadilah pertengkaran itu."
Hana menarik napas panjang lalu mengembuskannya seolah melepas beban berat.
"Mas Danial orangnya tidak emosional, bahkan bisa dibilang dia sangat jarang marah. Selama ini dia banyak memendam perasaannya sehingga mungkin akhirnya berakibat dia jatuh pingsan dan sampai sekarang belum sadarkan diri. Dokter pun belum tahu penyebabnya karena dia tidak punya riwayat jantung.”
Rasanya ingin tumpah air mata, tapi aku tahan agar Hana tidak salah paham. Aku hanya menjaga perasaannya sebagai seorang istri. Rasanya tidak pantas menangisi suami orang lain terlebih di depan istrinya.
__ADS_1