Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Memberi Ruang Pada Hati


__ADS_3

Mengapa embun selalu datang pada saat pagi menjelang? Bisa jadi karena dia menjadi penyejuk alam sebelum menyambut matahari yang akan semakin terik. Terlebih jika di malam hari hujan membasahi bumi.


Ada yang berkata pelangi lebih indah dilihat sesaat sebelum bumi benar-benar terang. Pelangi adalah teman embun, mereka bukti bahwa semua siklus alam sudah teratur dirancang oleh Sang Pencipta.


Mungkin kemarin dan saat ini air matamu masih tersembunyi di balik senyumanmu, bahkan belum benar-benar kering. Namun yakinlah esok pasti kamu akan bisa melihat embun untuk menyejukkan hatimu. Pelangi yang sangat indah akan menenangkan hatimu. Sambutlah harapan di hatimu tanpa penolakan karena kamu merasa tidak layak untuk bahagia.


Bukankah bumi ini sudah banyak mengajarkan makna kehidupan yang tidak selalu ada malamnya saja, ada pagi, siang, sore, lalu petang.


Kamu tidak akan dianggap lemah, jika kamu berjalan terus walaupun sesekali kamu menengok ke belakang demi kehati-hatian. Tidak apa menangis sesekali agar hatimu bisa mengeluarkan rasa yang mungkin tidak bisa disimpan lagi, karena air matamu bukan bukti kelemahanmu.


Satu tahun lebih sudah aku dekat dengan Bintang. Dia sangat sabar menunggu hatiku tanpa mengeluh sedikit pun, bahkan dia mau menerimaku walaupun hatiku tidak sepenuhnya untuk dirinya.


Beberapa bulan yang lalu aku menerima hatinya, bisa dibilang dia adalah kekasihku saat ini. Dia menghargai prosesku menata hati kembali untuk bisa sepenuhnya menerima dia dalam hatiku. Aku memberi kesempatan hidupku untuk bahagia sekali lagi dengan kehadiran Bintang. Dia juga sudah akrab dengan Jingga, mereka terbilang sangat akrab. 


Hanya saja aku belum siap untuk menikah dengan Bintang, aku tidak ingin hatiku mengkhianatinya dalam pernikahan. Aku ingin hatiku tidak ada tersisa lagi untuk siapa-siapa, selain untuk Bintang.


Reva dan Irvan sangat bahagia mendengar kami menjalin hubungan. Mereka berperan penting dalam pertemuan dan hubungan kami. Aku tidak menyangka di usiaku ini aku akan kembali menemukan kembali harapan yang pernah terpenjara oleh rasa yang aku simpan sendiri.


Allah belum mengizinkan hatiku sepenuhnya melupakan Mas Danial. Aku juga tidak ingin memaksakan hatiku untuk sekuat tenaga mengusir perasaan itu, biarlah dia hilang secara alami. Karena bagaimanapun juga, Mas Danial adalah laki-laki yang baik dan tidak pernah sengaja menyakitiku. Tidak ada kalimat yang tepat untuk menjabarkan bagaimana lembut hatinya itu. Laki-laki yang sangat kesepian, laki-laki yang selalu menahan semua apa yang dia rasakan.


Dia tidak pandai mengutarakan perasaannya. Dia laki-laki malang yang sering membuatku lemah oleh air matanya. Dia selalu tersenyum walaupun hatinya hampa. Dia pernah berkata bahwa kehadiranku membuatnya punya mimpi lagi, mimpi yang indah walaupun tidak akan pernah jadi nyata.


“Mas, sesering apa pun hatiku ingin melupakanmu, namun aku tidak pernah mampu. Kini ada laki-laki bernama Bintang, dia sangat mencintaiku bahkan mungkin lebih dari cintamu sama aku. Aku akan menyusun teras harapanku bersama dia, Mas. Aku ingin mencintainya juga seperti dia mencintaiku. Aku belum bisa, Mas. Aku masih terikat denganmu. Aku masih merindukanmu sampai saat ini. Aku tidak tahu mengapa cinta ini tidak ingin pergi dari hatiku. Tolong lepaskan aku, Mas. Aku pernah bilang aku mau bahagia walaupun tanpamu.”


Aku menatap ke arah luar jendela kamarku. Dulu pernah Mas Danial ingin membuatkan sebuah kamar indah dengan jendela yang menghadap pemandangan luar yang sejuk.


Dia sangat tahu aku sangat suka menulis kalau sedang di dalam kamar, dia juga tahu ruangan favorit adalah kamarku. Mungkin ketika dia mengatakan itu, dia menyadari bahwa kami tidak mungkin bersatu sehingga dia ingin memberikan hadiah yang paling aku sukai.


Jika rindu seperti ini


Lalu aku harus bagaimana?


Apakah aku harus berkata

__ADS_1


Tidak perlu kau datang, Cimta


Jika hatiku yang rapuh ini menjadi semakin rapuh


“Akan ada saatnya aku bisa tersenyum dengan bahagia ketika mengingatmu, Mas. Bukan dengan air mata kerinduan seperti ini. Sungguh dirimu adalah cinta yang tak terukur oleh akal dan logika. Semakin jauh kau berada dalam jangkauanku, semakin aku mengenal bagaimana cinta ini memberikanku hal yang tidak bisa aku tolak sama sekali. Sedang apa dirimu, Mas? Apakah kau sudah bahagia? Apakah hatimu tidak kesepian lagi?”


Dengan tangan gemetar aku menghapus satu demi satu foto Mas Danial yang masih aku simpan di gallery handphoneku. Setetes demi setetes air mata jatuh melihat wajah Mas Danial di foto. Aku harus bisa berani menghapus jejak dirinya yang paling berharga itu dari semua sisi hidupku.


“Izinkan aku melanjutkan hidupku, Mas. Agar kita berdua bisa bahagia dengan hidup kita masing-masing walaupun jalan kita berbeda,” ucapku lirih.


Akhirnya tidak ada yang tersisa lagi dari kenangan Mas Danial melalui gambar peristiwa tersebut.


“Sayang, lagi ngapain?” Pesan dari Bintang menghentikan lamunanku.


“Aku barusan selesai merapikan buku-buku di kamar,” balasku


“Nanti malam gak lupa, kan?”


“Jam berapa nanti jemput ke rumah?”


“Habis Isya aja biar enak jalannya.”


“Ok deh.”


“I love you.”


Setiap kali Bintang mengucapkan kalimat itu selalu saja aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak ingin berbohong padanya. Itu akan sangat tidak adil untuk Bintang dan untung saja dia tidak pernah protes akan hal itu.


Bayang-bayang Mas Danial belum bisa aku hapus dari kenanganku. Walaupun pertemuan kami tergolong singkat, namun perasaanku terikat sangat kuat sampai saat ini.


“Kamu sangat cantik malam ini, Sayang.”


“Haduh ... jangan mulai deh gombalnya.”

__ADS_1


“Loh beneran. Apa mau aku tanyakan sama orang-orang yang sedang makan di sini?”


“Hush, jangan aneh-aneh, deh.”


“Perhatian semuanya. Aku mau tanya pada kalian semua, apakah kekasihku ini sangat cantik?” Tanpa izin, Bintang meraih tanganku untuk berdiri dan nekat bertanya pada semua orang yang sedang menyantap makanannya di restaurant tempat kami makan malam.


“Cantiiik!” Sorak serentak dari sebagian besar orang-orang itu sambil tepuk tangan.


Aku benar-benar malu dibuatnya. Bintang memang tidak bisa dikendalikan jika sudah punya keinginan.


“Terima kasih semuanya,” jawab Bintang dengan lantang.


Aku tertunduk sambil menutup wajahku setelah mengalami peristiwa memalukan itu. Kami bukan anak ABG lagi, tapi kelakuan Bintang pasti membuat semua pasangan di sana iri atau bahkan terheran akan kegilaannya.


“Tuh kan, mereka semua bilang kamu cantik.”


“Kamu tuh, ya. Dasar gila!”


“Hahahah.”


Bintang memang gila. Dia gila menerima wanita yang masih mencintai laki-laki lain dalam hatinya. Dia gila mau menunggu wanita yang usianya tidak muda lagi. Dia gila karena mencintaiku yang entah kapan bisa mencintainya.


“Kamu tahu, aku merasa hidupku sangat berarti setelah mengenalmu.”


“Kenapa kamu bilang begitu?”


“Semakin aku mengenalmu, mengetahui hidup dan masa lalumu, aku semakin ingin menikahimu. Aku ingin kamu tahu bahwa cinta sejati itu ada. Cinta itu ada untukmu. Sudah saatnya kamu bahagia karena dicintai. Untuk itulah aku tidak peduli kamu masih mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang melepaskanmu yang berharga ini. Laki-laki yang tidak mengenal cintamu yang luar biasa ini.”


Entah berapa kali Bintang menembus relung hatiku yang terdalam dengan kalimat-kalimatnya. Dia sangat tahu cara mencintaiku dan betapa ingin aku mencintainya seperti dia mencintaiku.


Aku sangat yakin suatu saat hatiku pasti akan luluh juga dengan cintanya yang luar biasa itu. Untuk itulah aku ingin memberikan kesempatan hatiku untuk mengenal cintanya.


 

__ADS_1


__ADS_2