Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Sebuah Hadiah


__ADS_3

Ingatan ini bagai diputar kembali.


Ah … betapa aku merindukan tatapan hangat laki-laki itu. Dialah laki-laki yang selalu membuatku harus bisa menahan segala apa yang aku rasa saat perasaanku semakin besar untuknya. Aku tidak pernah bisa membencinya bahkan ketikadia membiarkanku menangis dalam kerinduan.


Mas Danial yang mengajarkan bagaimana cinta itu sangat sederhana, tidak perlu berlebihan agar kadarnya tidak cepat menguap. Karena suatu saat manusia bisa berubah tanpa bisa kita hindari dan saat itulah cinta yang sederhana itu membuat kita bertahan untuk tidak terlalu sakit.


Terbukti sampai saat ini, cintaku tidak pernah berubah dan aku masih merasa Mas Danial juga merasakan hal yang sama terhadapku. Dia hanya tidak ingin memaksakan sesuatu yang bukan takdirnya begitu juga dengan aku.


Cinta kami bisa jadi tidak salah, kami sadar jika tidak selamanya cinta akan berakhir dalam sebuah penyatuan. Allah mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan, entah akan menjadi bagian terpenting atau sekedarnya. Akan tetapi tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut. Lakukan dengan tulus meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia karena Allah yang mempertemukan.


Aku tidak bisa menjawab semua pernyataan Bintang saat ini, karena tidak bisa melibatkannya saat hatiku masih ada yang menghuninya. Akan sangat tidak adil jika akhirnya aku selalu membandingkannya dengan Mas Danial. Mereka berdua adalah orang yang berbeda dan punya karakter berbeda ketika mencintaiku.


Biarlah waktu yang menjawab semua, tanpa harus dipaksakan segera harus sesuai dengan keinginan. Kami juga belum lama saling mengenal dan masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk melangkah lebih jauh.


Selama tinggal di Jerman kami sering menghabiskan waktu untuk saling mengenal. Cuaca terkadang mencapai nol derajat celsius, namun tidak menghalangi kami untuk terus mengobrol ketika kami tidak sibuk dengan urusan kerjaan.


Sebenarnya yang banyak kerja itu adalah aku, karena Bintang hanya berkunjung ke salah satu cabangnya di sini tanpa banyak agenda khusus. Dia selalu dengan sabar menemaniku berkerja setiap hari. Dia bilang, dengan begitu dia tahu bagaimana aku berkerja dan bisa menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya denganku.


Tiba saat kami harus kembali ke tanah air. Tentu saja ada yang akan berubah setelah kami kembali kekehidupan kami masing-masing. Kami tidak akan sebebas di Jerman. Waktu kami bersama dan mengobrol pasti akan berkurang banyak.


Bintang adalah teman diskusi yang sangat cerdas, dia selalu tahu cara mengendalikan pembicaraan. Terlihat sekali dia sudah mengalami banyak hal juga dalam hidupnya. Aku belum sepenuhnya menceritakan masa laluku. Masa lalu yang paling kelam dalam hidup, yaitu kehidupan bersama ayah Jingga.


Hal yang paling ingin aku hapus dalam ingatan burukku. Memang sudah tidak sakit lagi untuk diingat, namun bagiku itu sudah cukup menjadi bagian cerita saja dalam perjalanan cintaku.


Bintang juga tidak pernah bertanya terlalu dalam tentang itu. Dia lebih senang membicarakan masa depan yang bisa direncanakan dan diimpikan seindah yang kita inginkan.


Pernah dia bertanya mengapa aku bisa luluh pada Mas Danial padahal aku memiliki trauma mendalam tentang cinta. Saat itu aku tidak punya jawaban yang tepat karena memang terjadi begitu saja.


“Aku bakalan merindukan saat-saat kita mengobrol intens seperti di sana Embun.”


“Ahh … kamu kan bisa dengan mudah menemukanku,” jawabku sekenanya.


“Iya juga sih.”


“Terimakasih sudah sabar menemaniku bekerja, ya. Sampai ketemu lagi.”


Kami pun berpisah untuk kembali kerumah masing-masing. Jetlag  masih aku rasakan sesampainya di rumah. Setelah membersihkan diri, aku kembali melihat sebuah paket yang ada di meja makan. Pak No kok tidak cerita kalau ada paket, apa karena saking lamanya sehingga dia juga lupa menyampaikannya padaku?


Perlahan aku membuka isi paket tersebut. Sebuah dompet? Siapa yang memberikan hadiah aku dompet? Aku mengambil kartu yang terselip di antara box paketan tersebut.


~Maafkan hadiah ini datang terlambat. Bahkan sangat terlambat, tapi semoga bisa bermanfaat~


Tidak ada nama pengirimnya lagi. Siapa yang dua kali mengirimkan sesuatu tanpa ada namanya? Pikiranku liar menuju Mas Danial. Aku teringat bagaimana dulu aku belum berhasil menemukan dompet yang cocok denganku.

__ADS_1


Aku tidak sempat mencari lagi karena kesibukanku, dan sampai saat ini memang tidak pernah memakai dompet. Mas Danial pernah mengutarakan keinginannya untuk menemaniku membeli dompet walaupun tidak pernah terwujud.


Dompet mungil berwarna coklat muda. Mas Danial masih ingat rupanya kalau aku memang menginginkan dompet yang hanya cukup untuk kartu-kartuku dan praktis dimasukkan tasku yang kecil. Aku tidak terlalu suka tas yang besar. Hmmm apakah benar ini dari dia?


Mas, Sayang.


Hari ini air mataku masih menetes karena merindukanmu.


Entahlah hatiku kapan akan mulai terbiasa tanpa sapa dan cintamu, biarpun rasanya sakit namun aku akan berusaha bertahan.


Aku sedang sangat mencintaimu, Sayang, jadi tolong maklumi ya.


Aku yang selalu lemah dan menderita dengan perasaanku sendiri, mengingat masa lalu yang penuh air mata saja membuatku begitu lelah. Dan kini Allah ingin aku belajar ikhlas merelakanmu tanpa bisa aku miliki juga.


Doakan waktu berbaik hati untuk menemaniku dengan sabar untuk bisa melupakanmu, jikapun tidak, maka aku ingin mengingatmu dengan senyuman bukan dengan air mata.


Mas Sayang.


Apa kabarmu hari ini? Semoga hatimu baik-baik saja.


Aku sangat mencintaimu. Aku sangat merindukanmu. Maafkan hatiku yang tidak tahu diri ini. Hanya saja aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Aku menarik napas panjang setelah membaca kembali buku diaryku ketika aku masih bersama Mas Danial. Hari-hari yang begitu panjang itu pernah membuatku sangat tersiksa. Bukan karena apa, selain aku sangat merindukannya.


Aku tidak pernah bisa bebas menggapainya, aku tidak pernah bebas untuk melihatnya. Kami yang terpisah jarak dan waktu. Aku terikat cinta, tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menunggunya. Begitu menyiksaku saat itu, namun aku bisa apa dengan perasaanyang semakin tumbuh.


Ingin rasanya aku bersembunyi ke tempat yang sunyi tak berpenghuni. Tidak ada yang mengenalku. Tidak ada yang akan menghakimi hatiku. Dan ingin aku teriak sekencangnya. Aku ingin mengatakan dan bertanya pada dedaunan. Pada angin.


Apa salahku? Sehingga aku layak jadi pendosa dalam cinta? Apa aku tidak boleh bahagia juga? Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin cinta ini! Conta yang akan membuat hati wanita lain tersakiti. Tapi aku bisa apa? Aku tidak bisa memilih. Aku tidak bisa!


Hukum manusia itu memang sangat sempit. Ibarat orang kaya itu sifatnya identik dengan sombong dan angkuh, sedangkan orang miskin itu lemah dan perlu dikasihani. Padahal masih banyak orang kaya yang baik hati dan tidak sombong, dan juga orang miskin yang berbuat zalim pada sesama.


Tidak adil kita menghakimi seseorang dari bungkusnya saja karena akhirnya kita akan selalu menghakimi sesama dengan batas kacamata luar saja tanpa melihatnya penuh empati.


Saat itu aku diajarkan langsung sama Allah untuk tahu bagaimana menjadi posisi wanita kedua dalam hubungan orang lain. Jaman sekarang orang menyebutnya sang “Pelakor”.


Apakah hati bisa direbut? Apakah hati manusia itu seperti barang yang bisa direbut sesuka hati? Entahlah..dari kacamata mana kita bisa melihatnya.


Memang tidak ada benarnya kalau wanita kedua merusak tatanan rumah tangga yang sudah baik, namun apakah itu murni salahnya? Bukankah ada dua orang yang berperan di situ? Bahkan bisa jadi tiga orang itulah yang berperan.


Hanya saja tidak sedikit juga yang mengambil kesempatan untuk tidak peduli dengan cara apa pun untuk membenarkan perasaannya. Sehingga peran wanita kedua ini semakin tercoreng oleh sikap egoisme dan cara tidak halal mengambil jalan pintas.


Pelajaran yang luar biasa untukku lagi, lagi, dan lagi.

__ADS_1


Jika aku harus bersembunyi lagi


Maka aku akan lakukan


Namun aku yakin Dia akan menemukanku


Karena sejatinya tidak ada yang lebih bisa mencintaiku


Seadanya diriku selain diri-Nya


Dia selalu menerimaku yang lemah


Dia selalu mengendalikanku yang kuat


Dia selalu ada untukku ketika terluka


Dia selali mengerti diriku sepenuhnya


Bergulirnya waktu semakin membuka


Bahwa aku tidak bisa hidup tanpa-Nya


Aku semakin butuh Dia


Aku semakin bergantung pada-Nya


Tawa dan air mataku yang hanya Dia yang tahu artinya


Aku bukan siapa-siapa tanpa-Nya


Hatiku yang Dia genggam begitu indahnya


Hidupku yang Dia sentuh dengan segala rencana-Nya.


Dia yang akhirnya membuatku tenang


Ketika menangis tersungkur


Duhai yang Maha Satu..


Izinkan aku selalu menjadi perhatian-Mu


Kecintaan-Mu, kesayangan-Mu

__ADS_1


walaupun aku hanyalah pendosa


Aku mohon, itu sudah segalanya bagiku


__ADS_2