Jejak Hati Embun

Jejak Hati Embun
Pertemuan yang Tak Disengaja


__ADS_3

Aku terbangun lalu kembali ke ruang tamu dan melihat bunga mawar itu. Apakah bunga itu dari Mas Danial? Apakah itu memang benar atau hanya harapanku saja. Aku tepis jauh-jauh pikiran aneh itu. Mas Danial tidak akan pernah tahu di mana aku tinggal, jadi tidak mungkin dia bisa mengirimkan bunga untukku.


“Halo … ini Reva.”


“Iya, Rev, maaf ya ternyata tadi tuh aku gak bawa hp.”


“Iya gapapa. Wah wah ternyata hari ini ulang tahunmu, ntar malam kita keluar yuk!”


“Emang suamimu bolehin?”


“Bolehlah. Malah dia senang aku bisa ketemu kamu akhirnya.”


“Iyakah?”


“Dia sebenarnya sudah merencanakan untuk mengenalkanmu sama temannya yang masih sendiri kayak kamu.”


“Haduh, apaan sih udah tua kali aku ini.”


“Aku cerita sama suamiku kalau kamu semakin cantik dan gak terlihat sudah berusia 40-an.”


“Hmm, kamu bisa aja gombalnya dari dulu gak ilang-ilang.”


“Yee, aku ini memang gombal tapi gombalnya ama yang asli bukan yang palsu.”


“Hahahahahahha ….” Kami berdua tertawa begitu renyahnya. Memang Reva selalu membuatku tertawa dari dulu, dia teman yang tulus dan ceria.


Kami berencana bertemu malam ini, suaminya juga ikut karena penasaran pasti dengan cerita istrinya yang terkadang suka melebihkan.


Malam harinya aku bersiap-siap, aku ingin memakai riasan seperti biasa saja biar tidak terkesan mencari perhatian. Ah, ini gara-gara Reva. Aku jadi salah tingkah untuk berdandan seperti apa.


Aku memutuskan untuk menjadi diriku sendiri tanpa berlebihan, walaupun sebenarnya aku sempat galau memilih baju yang mana untuk acara makan malam kami. Restaurant pilihan Reva sebenarnya gak terlalu asing bagiku, tapi aku tidak pernah makan malam di sana, jadi aku tidak terlalu paham suasananya.


Memang aku lebih banyak berpergian dibanding menetap di satu kota tertentu. Aku juga jarang menikmati waktu bersama teman-teman jika aku senggang. Aku lebih senang istirahat di rumah.


Aku melihat dari kejauhan Reva sudah melambaikan tangannya untuk memanggilku ke meja yang sudah dia reservasi.


Aku menghitung ada tiga orang di sana, selain suaminya lalu siapa laki-laki yang bergabung dengan acara makan malam kami?


“Hai kenalkan ini suamiku. Irvan.”


“Embun.” Aku menyebutkan namaku sambil menjabat tangan suami Reva sebagai tanda perkenalan kami.


“Oya, aku bawa teman juga, Embun. Namanya Bintang.”

__ADS_1


“Embun.”


“Bintang.”


Kami pun berjabat tangan lalu duduk di kursi yang sudah disediakan untuk kami masing-masing.


“Ternyata Reva benar,” ucap Irvan suami Reva.


“Apanya, Mas” tanyaku


“Mbak Embun memang tidak terlihat seperti usianya 40.”


“Jangan panggil Mbak. Pqnggil nama aja, Mas.”


“Jadi ceritanya malam ini adalah perayaan ulang tahun Embun, dong,” sambung Irvan.


“Sebenarnya tidak pantas merayakan ulang tahun yang angkanya segitu.” Aku berusaha bercakap dengan akrab untuk ikut mencairkan suasana.


“Bintang ini seorang pelukis handal lho, Mbun,” ujar Reva


“Tapi dia juga pengusaha yang hebat dan sukses untuk ukuran usianya.” Irvan menambahkan. Aku melihat raut wajah Bintang memerah dan terlihat kurang nyaman dengan penjelasan kedua temannya itu.


“Ah, kalian terlalu melebihkan, aku masih amatiran,” sambung Bintang.


Irvan tidak mau berhenti untuk menjodohkan kami. Untung aku sudah siap mental dengan bocoran dari Reva kalau suaminya berniat menjodohkan aku dengan temannya. Lagipula aku memang tidak pernah benar-benar berniat membuka hati lagi, apalagi untuk hubungan yang lebih serius.


Aku hanya tersenyum tanpa merespon mereka berdua, bisa jadi Bintang juga membaca sikapku itu.


“Aku yakin wanita sekelas Mbak Embun tidak akan mudah untuk bisa didekati laki-laki sembarangan.”


Aku cukup terkejut dengan ucapan Bintang yang seolah menganggap dengan tidak ada respon dari aku akan pembicaraan Irvan dan Reva membuatnya mengeluarkan kalimat itu.


“Ah, tidak seperti itu, bisa jadi sebaliknya. Wanita seperti aku bukan pilihan terbaik untuk dijadikan kandidat seorang pasangan ideal,” sanggahku.


Bintang terlihat tersenyum sambil mengusap pinggir hidungnya dengan telunjuk. Tatapan kami sempat bertemu seolah ingin menegaskan sesuatu yang kami pun belum tahu apa itu. Perbincangan kami berempat berlanjut cukup lama sampai akhirnya aku minta izin untuk ke toilet sebentar.


Aku tidak tahu apa aku terlalu lama sehingga Bintang menyusul dan menungguku di luar pintu keluar. Aku cukup terkejut ketika melihatnya saat  keluar.


“Hei,” sambutku dengan nada terkejut.


“Hei, maaf aku mengagetkanmu.”


“Tidak apa-apa. Kenapa kamu ada di sini?”

__ADS_1


“Yang jelas aku tidak berniat mengintip para wanita di toilet.”


“Hahhaha ....” Aku tertawa mendengar jawaban asal-asalan darinya.


“Aku memang sengaja menunggu kamu di sini.”


“Oh ya? Ada apa nih?”


“Aku cuma penasaran kenapa kamu begitu dingin menanggapi Irvan dan Reva yang ingin menjodohkan kita.”


Oh, dia mungkin tersinggung dengan sikapku yang seolah tidak berkenan jika aku dijodohkan dengannya.


“Hmmm… maaf jika kamu mungkin tersinggung tapi aku memang tidak pernah merasa pantas untuk dijodohkan oleh seseorang seperti kamu.”


“Seperti aku? Maksudnya?”


“Kamu masih muda, kamu sukses dan kamu juga good looking. Jadi aku pikir kamu bisa mendapatkan yang mungkin jauh lebih muda dari aku dan tentu lebih cantik.”


“Ahh..jawaban yang klise dari seorang wanita yang menolak.”


“Aku bukan tipikal wanita yang suka berbasa basi, kok.”


“Baiklah, aku boleh minta nomer handphonemu?” Begitu lugas Bintang meminta nomerku. Dia mungkin ingin menunjukkan bahwa dia juga bukan laki-laki yang suka basa-basi.


Tanpa ragu aku memberikannya, tidak ingin Bintang semakin salah paham denganku. Tapi mungkin aku tidak menyadari bahwa aku memang tidak berniat untuk membina hubungan lagi terlebih di usiaku yang sudah tidak muda lagi. Tujuan hidupku sudah banyak berubah. Usia Bintang lebih tua satu tahun dari aku sehingga kami bisa berbicara santai tanpa harus bersikap lebih formal.


Kami melangkah bersama menuju meja tempat kami makan, aku melihat kedua teman kami itu memandang dari kejauhan sambil tersenyum bahagia.


Langkahku tiba-tiba terhenti, jantungku terasa mau lepas ketika kedua mataku menangkap sosok yang belum bisa aku lupakan sampai detik ini. Seseorang yang sangat aku rindukan jauh di lubuk hatiku yang paling dalam. Langkah aku undur dan membalikkan badan siap untuk meninggalkan restaurant itu.


Aku merasakan bibirku bergetar, tubuh menggigil. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana segera meninggalkan tempat itu. Namun, kakiku seolah terpaku tanpa bisa aku angkat sekuat apa pun kucoba.


“Ada apa? Wajahmu pucat.” Bintang begitu khawatir melihat perubahanku seketika.


“Tolong temani aku keluar dari sini menuju parkiran, aku mohon.” ucapku lirih. Dengan sigap Bintang mengiyakan. Dia memberikan lengannya untuk aku bisa berpegangan. Aku terpaksa melakukannya karena tidak punya tenaga lagi.


Irvan dan Reva bisa aku berikan penjelasan belakangan. Yang terpenting saat ini aku harus pergi secepatnya.


Sesampainya di mobil, aku duduk lemas sambil melihat Bintang yang masih kebingungan melihat keadaanku. Aku tidak bisa mengendalikan air mata lagi. Dan tumpahlah.


Apa takdir ingin aku belum menutup bukuku dengan Mas Danial?


 

__ADS_1


__ADS_2