
Aku memasukkan surat yang akan aku titip untuk Mas Danial. Aku sangat tahu dia belum bisa rela melepaskan diri dari janjinya sama Bintang. Tidak akan pernah bisa aku menerima perjanjian mereka itu. Bintang meminta itu tanpa minta persetujuanku.
Nania, Jingga, dan Bik Nah mengantarkanku ke bandara. Aku tidak bisa melihat mata mereka satu per satu karena aku pasti tidak akan tahan. Entah berapa lama aku akan melakukan perjalanan ini.
“Ma, jangan pernah ragu untuk tersenyum dan tertawa di sana ya, Mama tidak akan dihakimi oleh siapa pun karena bahagia. Papa juga pasti ingin Mama tidak berlarut-larut dalam kesedihan,” ucap Jingga yang mungkin terpikir aku akan menghukum diri di sana dengan tidak membolehkan diriku tersenyum apalagi tertawa. Karena hukum sosial selalu menganggap sebuah dosa atau kesalahan jika kita terlalu cepat bisa tertawa setelah kita kehilangan orang terdekat kita. Seolah kita hanya boleh menangis dan larut dalam kesedihan.
“Iya, Sayang. Mama akan banyak tertawa di sana.” Sambil menciumnya berkali-kali, kami pun berpisah.
****
Awan-awan, lukisan Ilahi itu aku pandangi dari balik jendela pesawat yang membawaku terbang menuju Istanbul, Turki. Terpikir sejenak diriku membayangkan Bintang berada di sebelah sambil memegang tanganku menikmati indahnya ciptaan Allah. Terkenang bagaimana kami mengobrol menghabiskan waktu ketika melakukan perjalan menuju Jerman kala itu.
“Lihatlah aku yang kini hanya bisa merindukan dan memikirkan semua kenangan kita. Sungguh luar biasa hukuman ini untukku,” gumamku seolah berbicara pada suamiku.
Dengan mulus supir menghentikan mobil bandara yang aku tumpangi, tepat didepan hotel tempat aku menginap. Romance Istanbul nama hotelnya, kata Nania hanya sepuluh menit dari Grand Bazaar yang terkenal itu. Aku memang ingin dekat dengan Blue Mosque yang katanya juga bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki saja.
Setelah melakukan check in, aku langsung menuju kamarku. Semua begitu mudah karena sudah diatur sedemikian rupa oleh Nania. Dia memang bisa diandalkan, tidak salah Bintang selalu memuji kecerdasan gadis itu. Nania masih sangat muda, usianya memasuki tiga puluhan, namun dia sudah bisa membuktikan dirinya sukses. Kadang sempat aku berpikir kenapa Bintang tidak menikahi Nania yang juga masih single itu. Jawaban Bintang akhirnya membuatku paham mengapa mereka tidak bisa menikah.
Nania sebenarnya bisa dibilang anak tiri dari ayah Bintang. Dia ditinggalkan begitu saja oleh ibunya, setelah ayah Bintang meninggal dunia. Bintanglah yang membesarkan adek tirinya itu sampai akhirnya dia menjadi orang kepercayaan Bintang di perusahaan. Ayah Bintang setelah ditinggal meninggal oleh ibu Bintang, menikah lagi dengan seorang wanita yang memiliki anak perempuan yaitu Nania. Jadi memang Nania tidak memiliki hubungan darah sedikit pun dengan Bintang, hanya saja dia dari awal sudah menganggap Nania adiknya sendiri sehingga tidak mungkin dia menikahinya.
Interior klasik ciri khas kota Istanbul sangat kental terdapat dari semua sudut hotel dan kamar tempat aku menginap. Aku tidak pernah melancong ke sini sehingga masih asing buatku.
Aku mengambil ponsel dari dalam tas mungil, aku mencari sebuah nama yang sedari tadi ada di pikiranku setelah tiba di kota ini.
“Mas, aku sudah sampai di hotel”
“Alhamdulillah. Beberapa menit lagi aku akan sampai di sana untuk menjemputmu.”
“Iya, Mas. Santai aja aku tidak buru-buru kok.”
“Siyaaap.”
__ADS_1
Aku menaruh kembali ponselku di atas meja kemudian menjatuhkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamar. Sungguh indah dan romantis ruangan ini, menggelayut hayalanku pada sebuah memori bagaimana rasanya dipeluk oleh kekasihku.
Aroma tubuhnya sangat harum masih sangat melekat dalam ingatanku. Saat mata kami beradu sangat dalam. Kami yang saling mencari siapa gerangan pemilik hati, aku sunggingkan senyum mengingat betapa indah dicintai olehnya.
“Kamu tahu apa yang paling aku sukai darimu, Sayang?”
“Apa itu?”
“Kedua matamu.”
“Kenapa?” tanyaku
“Matamu itu seolah berbicara padaku,” ucapnya dengan lembut.
“Lalu?”
“Aku seolah tersihir olehnya untuk terus mencari apa yang ingin kamu sampaikan padaku. Namun, saat ini aku hanya bisa menangkap bahwa satu-satunya yang kamu inginkan adalah dicintai.”
Dia lalu mencium kedua mataku lalu turun ke bibirku. Apakah aku mulai mencintainya dengan semurni hatiku? Suara gemuruh dadaku tidak bisa aku sembunyikan lagi. Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya, aku tidak bisa mengontrol diriku lalu aku membalas ciumannya. Dekapannya mampu mengusik kewanitaanku, aku yang sudah terpana oleh gairah cintanya yang tidak pernah padam padaku.
“Mbak, aku sudah di lobby ya.”
“Iya Mas. Aku turun.”
Dari kejauhan aku sudah melihat sosok sahabat yang begitu aku rindukan itu, Mas Kent.
“Kamu kok kurusan sih Mbak?”
“Aku harus diet untuk wanita seusiaku ini, Mas.”
“Aku turut berbela sungkawa untuk Mas Bintang dan Fatih ya Mbak.”
__ADS_1
“Iya Mas. Terima kasih banyak.”
Kami duduk di sofa lobby hotel. Kami banyak mengobrol tentang semua hal terutama tentang perjalanan hidupku bersama Bintang. Terlihat Mas Kent tidak mampu berkata-kata apa pun lagi setelah mendengar semua ceritaku.
“Aku hanya bisa mendoakan agar Mbak bisa diberikan waktu terbaik untuk kesembuhan hatimu. Aku sangat tahu bahwa Allah tidak akan salah pilih dalam memberikan ujian pada hamba-Nya.”
“Iya, Mas. Mereka berdua adalah anugerah dan hadiah air mataku walaupun mungkin singkat saja datang dalam hidupku, tapi aku tidak menyesalinya Mas. Justru aku tidak akan tahu bagaimana hidupku jika Allah aku tidak pernah menitipkan mereka padaku.”
“Aku yakin semua pasti akan Mbak lewati walaupun tidak akan pernah mudah.”
“Lihat aku sekarang, Mas. Aku baik-baik saja kan? Aku akan hidup bahagia demi mereka yang mencintaiku, demi mereka yang tidak ingin aku bersedih lama-lama.”
“Iya Mbak. Kadang kala kita butuh sebuah alasan untuk bertahan agar kita punya kekuatan untuk memulai lagi dari serpihan-serpihan yang berserakan. Aku akan selalu siap menjadi pundakmu kapan pun kamu mau Mbak.”
“Iya Mas. Aku tahu, Allah sangat baik memberikan orang-orang yang akan selalu ada untuk bersamaku dan membelaku secara moral.”
“Oya, hari ini rencanamu mau ke mana, aku siap menjadi tour guide pribadimu Mbak. Aku sangat mengenal kota ini jadi jangan ragu untuk memintaku mengenalkannya.”
“Iya Mas. Aku masih sangat asing tapi aku beruntung memiliki sahabat yang tinggal di kota ini.”
Lalu kami memulai petualangan, berawal dari hotel menuju Blue Mosque, melihat napak tilas Sultan Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstatinopel yang melegenda.
Tidak menyesal aku menamakan buah hati kami, nama yang sama dengan Sultan Muhammad Al-Fatih. Di usia yang sangat muda, beliau mampu menunjukkan kehebatannya menaklukkan kota yang sangat sulit runtuh. Tidak henti-hentinya aku mengagumi jejak-jejak perjuangannya yang masih dahsyat.
“Akhirnya mimpimu terwujud memiliki anak laki-laki yang akan kamu namakan seperti beliau ya Mbak. Sejak kuliah kamu selalu mengatakannya dengan mata berbinar. Tapi Allah memang terkadang selalu punya rencana lain atas hamba-Nya.”
“Itu sudah cukup Mas, aku sangat bersyukur walaupun hanya sebentar. Toh kami nanti akan bertemu lagi di sana.”
“Benar Mbak. Kamu sudah sangat beruntung memiliki banyak tabungan syurga.”
“Mas Danial yang mengazaninya ketika lahir.” Ucapanku membuat Mas Kent menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arahku.
__ADS_1
“Aku juga merasa ada kepingan yang hilang ketika kamu menceritakan tentang Bintang, Mbak!”
Aku mengangguk dan melanjutkan langkahku meninggalkan Mas Kent yang masih terpaku. Terlihat dia setengah berlari mengejarku.