
Besok adalah ulang tahunku, untuk pertama kalinya aku meminta Mas Danial datang. Permintaan itu sebagai hadiah ulang tahun. Karena jarak tempat tinggal kami terpisah antar dua daerah yang berbeda sehingga kami memang bisa dibilang jarang bertemu. Aku meminta dia untuk benar-benar meluangkan waktunya untukku. Ada hal penting yang ingin aku utarakan padanya.
Tidak terasa sudah satu tahun kami dekat satu sama lain. Momen di mana Mas Danial mulai mendekatiku dengan ucapan selamat ulang tahun padaku.
Aku menyewa tempat yang privat agar kami bisa leluasa untuk berbicara tanpa diganggu siapa pun.
Keesokan harinya aku sudah menyiapkan semua yang sudah direncanakan, tinggal menunggu Mas Danial datang.
Dari pagi Mas Danial tidak menghubungiku, aku mulai cemas apakah dia bisa menepati janjinya untuk menemuiku malam ini. Aku sudah mulai gelisah menantinya.
“Dek, aku demam”
Tiba-tiba pesan di handphone aku baca. Aku tidak bisa berkata-kata lagi mendengar kabar dari Mas Danial. Aku bingung apakah harus sedih karena dia sakit atau pedih karena pasti dia tidak akan mungkin aku paksa datang dalam keadaan sakit. Aku benar-benar kacau, bingung.
“Mas istirahat aja. Jangan lupa minum obat.”
Hanya kata-kata itu yang bisa aku tulis sebagai balasan. Tanganku mulai gemetar antara tidak percaya betapa alam sangat tidak merestui cinta kami sehingga hal ini pun tidak bisa kami hindari.
“Aku harus bagaimana, Dek. Ini hari ulang tahunmu. Tapi aku malah demam begini.”
“Iya, Mas. Aku gapapa, kok. Mas istirahat aja.”
“Maafkan aku ya, Dek. Jika nanti sudah sedikit reda demamnya, aku langsung ke sana ya.”
“Jangan, Mas. Jangan dipaksakan. Aku gapapa, kok. Mas istirahat aja.”
Aku sudah mulai tidak kuasa menahan air mata yang sebentar lagi tumpah.
“Gak, Dek. Kasihan kamu sudah merencanakan ini jauh hari. Doain aku bisa baikan, ya.”
“Sudahlah, Mas. Jangan kayak gitu nanti malah aku beneran jadi nangis.”
“Maafkan aku ya, Dek. Aku harusnya gak boleh sakit saat begini.”
Dan akhirnya kalimat pamungkas dari Mas Danial membuat air mataku tumpah tak terbendung lagi. Deras mengalir tanpa bisa aku kontrol.
Siapa yang bisa aku salahkan dalam hal ini? Aku yang terlalu berharap besar sama Mas Danial? Atau Mas Danial yang tidak menjaga kesehatannya padahal sudah tahu akan ada acara penting bersamaku? Atau alam memang tidak merestui cinta kami yang memang sudah salah ini?
Aku hanya mampu menangis sesenggukan sambil melihat tatanan meja yang tertata sangat cantik dengan lilin yang begitu indah dan aroma bunga yang harum.
Apakah perjalanan cinta kami akan benar-benar berhenti dengan cara seperti ini? Karena bukan seperti ini yang aku rencanakan. Aku ingin perjalanan kami berakhir dengan indah malam ini.
Dear Mas Sayang
__ADS_1
Lama aku berpikir apa yang harus aku tulis sebagai kalimat pertamaku dalam surat ini. Aku tulis ini karena aku khawatir tidak bisa mengucapkannya dengan lancar dan benar jika diucapkan secara langsung.
Mas … aku tidak akan mengganggumu lagi, Mas datang tanpa aku minta dan Mas mau pergi juga, aku tidak akan menghalangi sama sekali.
Bismillah, aku belajar ikhlas.
Aku sudah cukup mencintaimu dalam diam dan doaku
Jika nanti Allah ingin kita bersatu maka itu adalah kebaikan, pun jika nanti Allah ingin kita tidak bersatu maka itu juga adalah kebaikan.
Cinta ini sudah aku terima dengan ikhlas tanpa syarat, biarlah waktu yang akan menemaniku untuk bisa melupakanmu atau tidak. Aku pun ikhlas.
Saat ini aku sedang begitu mencintaimu, karena itu air mataku tidak berhenti mengalir jika mengingatmu.
Terima kasih sudah hadir dalam hari-hariku dalam hidupku. Maafkan aku yang belum bisa menjadi yang terbaik dalam hidup dan hatimu.
Bahagiamu adalah doa dan harapanku tulus, bahkan walaupun tanpa diriku di dalamnya.
Cinta ini luar biasa memberikan ilmu yang terindah dalam hidupku yang tak selalu indah.
Ceritamu akan selalu menjadi bagian dari ceritaku nanti bahkan ketika itu menjadi kenangan saja.
Sekejap pun aku tidak pernah berpikir cintamu tidak berarti, dalam hatiku. Karena Mas sangat berharga. Kesedihanmu adalah kesedihanku, maka ingatlah aku yang selalu mecintai air matamu.
Tidak ada yang paling indah selain memahami cinta, selalu memberikan hal terbaik bagi semua hati bahkan untuk pilu yang didapatkannya.
Berbahagialah selalu, semoga Allah melindungi dan memberikan hatimu ketenangan.
Aku mencintaimu ... .sangat.
~Embun~
Aku membuka lembaran surat yang sebenarnya ingin aku berikan pada Mas Danial malam ini. Benar, aku memutuskan untuk menghentikan perjalanan ini, karena Mas Danial tidak akan pernah bisa memutuskannya; karena bisa jadi dia tidak akan tega melakukan itu terhadapku, walaupun sebenarnya dia sangat tahu hubungan kami tidak akan pernah mudah dan akan semakin melukai kami berdua.
Dengan dia sering mengabaikanku sudah merupakan signal untukku, bahwa hubungan terlarang kami memang sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Hanya saja mungkin dia tidak tega untuk memutuskan sendiri.
Bisa jadi aku salah mengartikan sikap Mas Danial, namun yang jelas hati kecilku mengatakan akulah yang harus menghentikan ini sebelum Mas Danial lebih jauh lagi menyakitiku tanpa dia sadari. Aku ingin mengenang cintanya dengan senyuman bukan dengan air mata.
Tapi yang terjadi adalah malam ini berakhir dengan air mata. Kembali lagi aku belum bisa menangkap apa yang semesta ingin kupahami dengan kejadian ini
“Dek, aku dah sembuh, aku sekarang sedang dalam perjalanan menuju tempatmu.”
__ADS_1
Aku begitu terkejut membaca pesan Mas Danial, pagi-pagi setelah subuh. Tanpa berpikir lagi aku bergegas untuk mencari tempat yang nyaman karena tidak mungkin Mas Danial kerumah. Di rumah sedang banyak orang.
“Mas kita ketemu di kafe deket rumah, ya. Buka 24 jam, nanti aku kasih alamat lengkapnya.”
“Iya, Dek.”
Beberapa jam kemudian kami sudah bertemu di tempat kami janjian tadi. Sempat kami terdiam sesaat karena jelas saja peristiwa tadi malam sungguh sangat tidak mengenakkan. Aku yakin mataku masih terlihat sembab, karena aku menangis semalaman di kamar sampai subuh. Bisa dibilangi belum tidur sejak itu.
“Matamu sembab, Dek. Kamu menangis semalaman ya?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Mas Danial karena khawatir tumpah lagi air mata yang aku rasa belum kering sampai pagi ini.
“Mas gimana keadaannya?”
“Aku baik, tolong dijawab pertanyaanku jangan dialihkan.”
“Gak kok ,Mas. Aku gak nangis semalaman. Hanya saja mataku tuh gampang bengkak walaupun nangis bentar.” Dan aku berbohong.
“Maafkan aku ya, Dek. Harusnya aku gak boleh sakit tadi malam.”
“Jangan berkata seperti itu, Mas. Seolah aku keberatan dengan sakitnya Mas tadi malam. Seolah aku ini tidak terima.”
“Lalu aku bisa apa, Dek. Aku juga tidak mau sakit.”
Aku sangat benci mendengar kata-kata Mas Danial itu. Oh sungguh kebingunganku benar-benar melampaui batasnya. Apa sebenarnya yang membuatku begitu kecewa dan sedih tadi malam? Aku tidak memperoleh jawaban yang tepat.
Namun, kalimat-kalimat Mas Danial menegaskan bahwa aku kecewa dia sakit. Apakah benar seperti itu? Begitu burukkah aku sebagai manusia? Sehingga aku tidak memperbolehkan orang sakit? Tidak, bukan begitu!
Aku menyerahkan surat yang aku ingin berikan tadi malam itu tanpa basa basi lagi.
“Apa ini?” Dia mengambilnya.
Sambil membuka surat itu, aku memperhatikan detail mimik Mas Danial sesaat ketika dia membacanya dengan serius.
“Apa maksudnya ini, Dek?” Dia selesai membaca surat itu.
“Apa karena kejadian tadi malam itu lalu kamu ingin kita mengakhiri hubungan kita?”
Aku mulai menangis lagi sambil menggelengkan kepala.
“Jawab aku!” Aku mendengar suara Mas Danial mulai agak meninggi.
__ADS_1