
Aku melihat langkahnya menghampiriku, jarak kami begitu dekat dan semaki dekat. Tanganku gemetar dan meletakkan sendok yang sedari tadi masih aku pegang. Aku menelan makanan yang belum sempurna aku kunyah.
“Dek, apa kabar?” sapanya dengan suara yang sangat familiar di telingaku.
Suara yang dulu sangat aku rindukan. Sapaan yang mampu membuatku sering menahan air mata. Suara yang membuat hatiku yang dingin menjadi terasa menghangat. Dia tidak berubah sama sekali kecuali jenggotnya yang sedikit memutih. Senyumnya masih sama untukku. Oh Tuhan ada apa ini? Ada apa dengan hatiku? Apakah rasa itu masih ada untuknya? Lalu mengapa aku masih ingin menangis melihat laki-laki ini? Perasaanku semakin kacau.
“Tidak, aku sudah milik Bintang, laki-laki yang sangat luar biasa dalam hidupku. Laki-laki yang anaknya sedang aku kandung. Laki-laki yang tidak akan pernah aku tukar dengan siapa pun di dunia ini,” ucapku dalam hati untuk menepis semua godaan yang menjalar dalam hati dan keimananku.
Dia langsung duduk di depanku, tanpa satu kalimat pun dariku untuk mempersilakannya duduk.
“Siapa yang sakit di sini?” tanyanya seolah tidak tahu bahwa aku begitu terkejut dengan kehadirannya dalam hidupku yang sudah lama alpa dari dirinya.
“Suamiku,” jawabku singkat sekenanya.
“Alhamdulillah akhirnya kamu sudah menemukan seseorang yang membuatmu bahagia, Dek.”
“Iya.”
“Hana sedang dirawat di sini karena typus tapi sudah membaik kok. Mungkin besok sudah bisa pulang.”
Aku hanya mengangguk tanpa merespons ceritanya. Seperti biasa Mas Danial sangat pandai menahan perasaan. Dia akan terlihat biasa-biasa saja walaupun di dalam dirinya bergemuruh tak menentu. Aku sangat mengenal laki-laki di depanku ini.
Sejak kapan Mas Danial tinggal di kota ini? Jika tidak tinggal di kota ini, mengapa dia bisa membawa Hana dirawat di rumah sakit yang sangat jauh dari tempat tinggalnya?
“Aku sudah pindah lama ke kota ini, Dek. Sudah beberapa tahun yang lalu. Hana juga tidak keberatan karena anak-anak sudah mandiri semua.”
Aku masih terdiam mendengarkannya bercerita. Pikiranku berkelana ke waktu di mana aku mendapatkan kiriman bunga, dompet, dan pertemuan kami di restaurant itu. Apakah benar itu dari Mas Danial? Atau jangan-jangan dia juga sudah tahu aku menikah dengan Bintang.
__ADS_1
Ketika aku menjawab bahwa suamiku yang dirawat disini, tidak ada raut wajah yang terkejut darinya. Apakah dia sebenarnya tahu bahwa Bintang dirawat di sini? Ah benar-benar membuatku tidak bisa berpikir lagi.
Pandangan semakin pudar dan aku merasakan tubuhku begitu ringan. Kepalaku semakin berat.
Gelap.
Aku terbangun, melihat diriku sudah di ruangan yang terlihat sama dengan Bintang. “Apa aku tadi pingsan?” ucapku.
“Iya, Dek. Tadi kamu pingsan di kantin dan sekarang kamu sedang dirawat di ruangan dekat suamimu.”
Ucapan Mas Danial membuatku terhenyak, lalu menoleh ke arah samping ranjangku. Terlihat Bintang memang ada di sana. Kami bertiga sekarang di ruangan yang sama. Ada apa ini?
“Selamat ya, Dek. Kata suster kamu sedang hamil. Aku sangat bahagia mendengarnya. Allah sangat luar biasa membuat hidupmu begitu sempurna dengan kehadiran suami dan calon bayi kalian.”
Yang masih jadi tanda tanya besarku adalah kenapa Mas Danial tidak terkejut sedikit pun dengan keadaan Bintang. Dia seolah tahu keadaan Bintang sejak awal.
“Aku baik. Alhamdulillah, Dek. Dan semakin tua.” Dia tersenyum menjawab pertanyaanku.
“Dia laki-laki yang beruntung bisa memilikimu, Dek. Pasti dia sangat tahu cara mencintaimu sehingga membuatmu luluh,” sambungnya.
“Aku yang beruntung memiliki laki-laki yang begitu mencintaiku itu, laki-laki yang selalu menganggap kebahagiaan adalah sebuah misi besar dalam hidupnya.”
Aku berurai air mata mengatakan itu di depan Mas Danial.
“Kamu wanita yang memang layak untuk diberikan kebahagian. Hanya laki-laki pengecut yang tidak tahu cara mencintaimu.”
Kami berdua terdiam terpaku setelah mendengarnya mengatakan hal itu. Kami memang tidak berjodoh, namun cinta yang pernah kami rasakan dulu mampu membuat hidup kami mengajarkan banyak hal.
__ADS_1
Bintang adalah masa depanku, dia adalah hidupku saat ini. Sekalipun rasa cinta yang aku miliki untuk Mas Danial belum sepenuhnya hilang dari hatiku. Biarlah itu menjadi rahasiaku saja dengan Tuhan. Aku akan menjadi penjahat jika sampai dunia tahu perasaanku masih belum murni untuk Bintang.
“Aku pamit dulu ya, biar kamu bisa istirahat, Dek. Maafkan aku sudah mengganggu kalian.”
Mas Danial beranjak meninggalkan kami dan aku melihat punggung itu lagi. Punggung yang sering membuatku menangis dulu. Langkahnya masih sama, namun kini pundaknya semakin membungkuk seolah ada beban yang dia pikul tanpa bisa disngkirkan. Rasa iba menggelayut di hatiku, aku seperti bisa menebak ada banyak hal yang dia tahan dan sembunyikan sendiri.
Oh, Mas Danial, semoga akhirnya suatu saat kau bahagia dengan tulus tanpa kepura-puraan.
Maafkan aku Bintang, rupanya hatiku masih berdosa padamu yang telah memberikanku segalanya tanpa keluh sedikit pun. Untuk pertama kalinya aku sangat membenci, bahkan ingin rasanya aku mencaci maki diriku yang masih saja berkutat pada perasaan yang tidak ada manfaatnya.
Bahkan hatiku tidak terenyuh melihat penderitaan nyata di depan mataku sendiri. Ada hati yang selalu setia menantiku tanpa ada batas waktu, bahkan rela meregang nyawa untuk bisa menerima kasih sayangku sepenuhnya.
Jika saja aku bisa bermain dan memutar semua hatiku, maka aku akan memilih untuk memberikan semuanya pada Bintang. Satu-satunya pinta untuk hatiku yang egois ini. Lalu aku bisa apa jika Tuhan belum berkenan untuk menjadikannya utuh untuk Bintang?
Sang pendosa. Aku memang layak disebut pendosa. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menerima ini dengan semua konsekuensinya. Hatiku boleh salah, namun langkahku tidak boleh salah karena Bintang adalah tujuanku.
Lima hari aku diminta untuk tidak banyak bergerak dulu, oleh dokter memintaku di atas ranjang saja. Ada sedikit flek yang keluar dari rahimku.
Aku mencium suamiku yang masih belum sadar, betapa rindu hatiku ini sudah tidak terbendung lagi padanya. Ingin rasanya aku mendengar suaranya yang selalu indah di telinga.
Bintang tidak pernah sedikit pun meninggikan suaranya bahkan saat dia memanggilku dari jarak yang agak jauh. Dia lebih senang mendekat dan memangilku dengan nada yang standart. Aku selalu mencari-cari kekurangan Bintang, namun aku tidak bisa menemukannya sekecil apapun.
“Ah, Sayang. Aku manusia biasa jadi aku pasti punya kekurangan.”
Itulah kata-katanya dulu ketika aku berkata bahwa tidak menemukan letak kekurangannya selama aku mengenalnya. Memang bisa jadi dia punya kekurangan, bahkan mungkin banyak, namun dia berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik untukku. Anak buah di kantornya saja pernah berkata Bapak itu baik, tidak ada cela sama sekali.
Tuhan begitu baik padaku memberikan Bintang untuk hidupku. Hidupku yang selalu saja aku anggap kelam dan gelap.
__ADS_1